Ajarilah anakmu dengan tiga cinta, begitulah Nabi menerangkan kepada kita semua. Tidak ada satupun dari ketiga cinta itu untuk pacar. Karena tidak ada satu nash pun, seseorang disuruh untuk pacaran. Jadi soal pacaran adalah kebiasaan melanggar aturan.

Tiga cinta yang diajarkan Nabi yaitu, cinta kepada Nabinya, cinta kepada keluarga Nabi, dan cinta kepada Al-Quran. Tiga cinta ini memberikan indikasi dan pelajaran bahwa cinta yang utama adalah cinta kepada Rasulullah. Disusul cinta kepada keluarga Nabi dan cinta kepada Al-Quran.

Urusan cinta, memang soal luar biasa. Tidak semua orang dikaruniai rasa cinta yang hakiki dan suci. Ada orang yang dikaruniai rasa cinta kepada wanita. Ada yang dikaruniai rasa cinta kepada jabatan dan harta. Cinta inilah yang terkadang manusia dibuat gila. Maka sering kita mendengar suatu istilah gila harta, gila tahkta, dan gila wanita. Jika orang sudah gila kepada ketiganya, hati bersih sudah tertutup oleh cinta ketiganya.

Apalagi cinta kepada wanita. Suka membuat orang jadi buta. Buta karena cinta. Nah, hati-hati bagi teman-teman yang berpacaran, bisa membuat orang jatuh cinta. Ketika sudah cinta, ingat ini, ingat itu, ingat si dia. Ketika seseorang sudah mengidap penyakit keasmaraan, harus waspada. Tidak sedikit seseorang jadi gila akibat cinta ditolak dukun pun bertindak.

Cintailah seseorang itu sekadarnya saja. Seseorang yang akan kita jadikan pendamping hidup, suami atau istri, maka kita berhak mencintainya. Namum cinta yang sekadarnya saja jangan cinta yang gila. Potensi cinta yang Allah SWT anugrahkan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hakikat cinta yang sejati dan seharusnya. Cinta Allah cinta yang tak akan bertepi. Jika kalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak akan ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan dan rintangan hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Advertisement

Apabila diri kita telah mampu menempatkan cinta pada tempatnya, proporsionalis dan profesional, maka kita telah cerdas menimbang makna cinta. Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakan besi dan menghancurkan batu karang.

Namun hati-hatilah dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah SWT. Itulah para pecinta dunia, harta, dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu Agung, cinta yang murni.

Cinta dan akad nikah perpaduannya sangat manis. Tanpa adanya cinta, akad, dan nikah rasanya hampa. Atau bahkan tak akan tumbuh. Tanpa cinta, pernikahan akan terasa hambar dan asam. Untuk mengikat cinta dibutuhkan tali, yaitu akad dan nikah. Agar cinta tetap terawat, tidak pudar oleh kondisi dan cuaca, terjaga, aman, tumbuh bersemi, dan lestari. Siramlah cinta dengan air tawar, murni atau air zamzam. Sehingga cinta terkumpul dan selalu berkumpul penuh kasih sayang. Peliharalah cinta dengan cinta murni. Kemurnian cinta menjadikan cinta semakin awet. Pintalah cinta yang ada pada hakikinya, Allah yang Maha Cinta.