SEMUA manusia memiliki fitrah dari Allah SWT berupa rasa cinta dan kasih sayang. Di mana perasaan itu terkadang hadir pada seseorang yang tidak disangka sebelumnya. Dan perasaan ini menjadi hal yang lumrah terjadi, sehingga menjadi sangat wajar bila perasaan itu tumbuh.

Namun, tumbuh kembangnya perasaan cinta janganlah kita biarkan. Melainkan kita harus bisa membatasi diri, bahwa ada satu Dzat yang harus kita beri rasa cinta dengan sangat besar. Dan jangan sampai rasa cinta kita kepada makhluk melebihi rasa cinta kita kepada-Nya. Lalu.

Ada suatu kisah yang membuat kita tahu, betapa indahnya mengekspresikan rasa cinta dengan berkata dalam diam.

Cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan dua orang terbaik dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Yakni kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dengan wanita terbaik pada zamannya, putri Rasulullah SAW yakni Fatimah Az-zahra. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.

Advertisement

Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.

Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya.”

Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Itulah salah satu kisah cinta dalam diam. Cinta dalam diam berarti seseorang tidak mengungkapkan perasaan atau isi hatinya kepada orang yang ia cintai. Dia memendam perasaan itu dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Dan meyakini bahwa kehendak Allah itu yang terbaik.

Saat benih cinta itu mulai tumbuh, dan harapan bersemai subur dalam hati, tak usah kita tunjukkan cinta kepadanya. Jika belum siap melamar, karena bukti cinta itu melamar, maka diam mungkin adalah cara yang terbaik daripada kita ucapkan cinta kepada wanita atau lelaki yang belum halal atau bahkan tak pernah jadi halal yang membuat iman menjadi goyah.

Tak perlu cemas bila orang yang kita cintai bersama dengan orang yang tentunya bukan kita. Allah Maha Tahu segalanya. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Mungkin saja, apa yang menurut kita baik itu adalah buruk bagi kita, karena Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 216).

Saat kegelisahan itu singgah, bersabarlah. Jaga jarak dengan dia dan mendekatlah kepada Allah. Doakan dia dalam sujud-sujud panjangmu dan mintalah kepada-Nya agar meneguhkan hati agar hanya ada Allah yang mengisi relung hati. Tak perlu cemas, bila nantinya dia menjauh. Seharusnya kita cemas saat jauh dari Allah.

Muliakanlah diri kita, berdoalah dia adalah orang yang tepat. Orang yang kita cintai dalam diam belumlah halal, dan belumlah tentu akan halal. Bersabarlah, janji Allah sudah ada pendamping untuk kita. Mungkin dia, mungkin juga bukan dia. Janganlah terikat dengan sesuatu yang masih mungkin. Jangan habiskan waktumu untuk cinta kepada manusia. Kejarlah Allah, maka kebaikan-kebaikan akan datang kepada kita.

Jika kita mencintai Allah, maka rasa cinta terhadap apapun akan sirna. Itulah cinta sejati, cinta di jalan yang benar. Jangan takut, jika ia adalah yang terbaik, Allah akan dekatkan, jika bukan yang terbaik, Allah akan selesaikan dengan cara-Nya.