Selamat pagi, kekasih hatiku…

Hari ini begitu cerah, persis secerah perasaanku padamu. Selalu begitu setiap harinya. Tak bisa kupungkiri lagi kalau ini terjadi sejak kamu jadi penyemangatku di setiap waktu. Ya, kamu memang memberi banyak perubahan indah dalam hidup gadis yang biasa-biasa saja ini.

Kini, cobalah meluangkan waktumu barang sejenak saja. Ada harapan yang ingin kusampaikan di kisah kita yang sudah tak terbilang seumur jagung lagi.

Sudah lama aku dan kamu bersama. Berbagai rahasia dan curahan hati kerap dibagi juga.

Sepertinya baru hari lalu ini, aku dan kamu bertemu. Tidak ada yang spesial dan istimewa di hari perkenalan kita. Jabat tangan dan senyum yang terlempar barangkali hanya sekedar formalitas. Namun Tuhan ternyata telah memerintahkan waktu untuk berhenti sejenak dan mempertemukan kita di lain kesempatan. Kalau saja saat itu Sang Maha Pengatur tidak mengambil andil, mungkin tak akan jadi kisah manis kita hingga kini.

Sejak itulah, banyak cerita dan canda yang kita ungkap berdua. Kamu perlahan-lahan menunjukkan dirimu yang seutuhya, baik itu kurang dan lebihmu. Tak jauh berbeda denganku, aku pun membiarkanmu mengenalku hingga hal terkecil. Aku dan kamu sama-sama boleh berbangga hati karena tak semua orang dapat mengetahui sedekat dan selengkap ini.

Advertisement

Tak usah tanyakan lagi bagaimana dada ini saat bersama denganmu. Degupannya semakin kencang, namun dapat kunikmati hingga kini.

Aku dan kamu tak ragu lagi menjalin kasih, meski tanpa validasi atau publikasi.

Uniknya, aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku tak pernah sedikit pun merasa harus menjadi langsing, tinggi, berdandan tebal, dan berbusana feminim bak penyanyi Taylor Swift atau artis Dian Sastro. Kamu sadar betul kalau aku yang sebenar-benarnya adalah sosok yang sudah mencukupi.

Aku selalu sempurna di matamu dan menyamankanmu. Padahal, sesungguhnya aku yang merasa kamu sempurnakan dan kamu nyamankan.

Sejauh ini kita bersama, aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kita. Kamu sudah seperti teman. Kamu sudah seperti ayah. Kamu sudah seperti saudara. Bahkan kalau aku boleh menyebutnya, kamu pun sudah seperti kekasih yang sempurna.

Ketika hubungan kita sudah terlalu matang, aku tak ragu lagi menjadikanmu pemimpin masa depanku.

Sudah berjuta-juta kisah kasih kita bagi bersamaan. Bukan sekedar masalah waktu saja, namun kematangan kita pun telah menanti ke arah hubungan yang lebih serius lagi. Di mana di masa ini, dua kaki melebur menjadi satu tujuan. Empat mata saling menatap arah yang sama, serta dua kepala sepakat akan pikiran dan prinsip yang esa.

Ya! Setelah melewati perjalanan panjang dan berliku, aku tak akan pernah ragu lagi memutuskan untuk meneruskan perjalanan lebih panjang lagi. Tentu saja itu dengan kamu! Kamu akan menjadi nahkoda di bahteraku. Kamu akan menjadi pilotku di pesawat terbang kita. Kamu akan menjadi pemimpin masa depanku di keluarga bahagia kita kelak.

Tapi ketahuilah bahwa kamu perlu menjaga hatiku. Niscaya aku akan menjadi wanitamu sepanjang masa selama kamu pun setia kepadaku.

Ketahuilah bahwa tidak perlu susah-susah untuk membahagiakanku kelak. Waktu dan perhatian yang walau hanya sedikit saja, itu sudah menggenapi bukti dan kekuatan cinta kita. Satu lagi harapanku: jangan pernah mempermainkan aku layaknya boneka ketika kita nanti sama-sama berkembang dan ada di puncak.

Kamu pasti sudah tahu jika selama ini, akulah yang setia menemanimu. Tak sedikit pun niat untuk meninggalkanmu demi yang lebih menawan, mapan, dan ternama jadi prioritasku. Di mataku hanya akan ada kamu seorang selalu, selama kamu juga demikian setianya padaku hingga Tuhan memutus kehidupan kita di dunia ini. Oleh karenanya, peganglah janji setia kita nanti di hadapan Sang Pencipta Cinta Yang Agung.

Cintaku memang tak bisa mati. Namun rasa ini mungkin pergi jika tak dijaga sepenuh hati.