Hai, kamu.

Pagi ini kita bertemu lagi.

Masih dengan senyum menawanmu yang membuatku lupa bernapas.

Ah, kau begitu mempesona.

Namun hei, apa kabar kamu?

Advertisement

Lama tidak berjumpa.

Liburan panjang kemarin pikiranku benar-benar melanglang buana.

Berjalan-jalan kesana-kemari, berfoto ria, menghabiskan waktu dengan kegiatan yang menguras tenaga.

Senang sekali rasanya liburan ini.

Hingga aku bisa lupa akan dirimu sejenak.

Tidak benar-benar “lupa” dalam arti yang sesungguhnya.

Hanya memikirkanmu lebih jarang dari biasanya, itu yang kusebut lupa.

Ah, bagaimana kau bisa begitu menjadi candu bagiku?

Entahlah, aku tak paham.

Dan hari ini kau menyapaku.

Menanyakan kabar.

Dan satu dua kalimat basa-basi lainnya.

‘Bagaimana liburanku?’ Tanyamu.

Oh Tuhan, apa tidak ada pertanyaan lain?

Memang benar aku bahagia dengan liburan kali ini.

Aku menikmati momen kebebasan ini.

Tapi, juga mempunyai kenangan buruk yang sepertinya akan susah dilupakan.

Aku putus dengan pacarku.

Sedih, memang.

Namun ada kelegaan tersendiri juga.

Sudah lama kami merasa tak lagi nyaman satu sama lain.

Akhirnya saat itu pun tiba.

Aku harus melepasnya dengan segala kehampaan.

Dan hati ini?

Telah sempurna kosong.

Aku dengan cepat melupakannya.

Sempurna menghilangkannya dari benakku, dari hatiku.

Butuh waktu. Itu pasti.

Aku membutuhkan waktu untuk pulih darinya, move on dari bayangannya.

Aku membayangkan bagaiman bila aku tidak bisa bangkit.

Pikiran yang tidak-tidak mulai menyeruak dalam kepalaku.

Namun, kau tahu apa bagian terbaiknya?

Ternyata proses melupakan itu lebih mudah dari yang aku kira.

Menghilangkan dia dari hatiku membutuhkan waktu lebih cepat.

Lega rasanya.

Dan sekarang, inilah aku.

Inilah aku dengan ruang kosong di hatiku.

Inilah aku dengan kesendirianku.

Inilah aku dengan pintu hati yang terbuka lebar.

Hei, mengapa kau tak coba untuk masuk ke hati ini?

Isilah ruang kosong yang ada di dalamnya.

Penunggu sebelumnya telah pergi.

Jadi, kau bisa memasukinya kapan saja.

Hei, mengapa kau tak coba masuk ke hati ini?

Mencoba merasakan hati baru, orang yang baru.

Bersama mencari kenyamanan di antara kita.

Lalu biarkan aku pula yang mengisi pintu hatimu.

Hei, mengapa kau tak coba masuk ke hati ini?

Karena aku tak tahu kapan hati ini akan menutup.

Maka kuajak kau memasukinya dengan undangan dari hati.

Segeralah masuk.

Aku berharap kau akan segera memasuki hati ini.

Kutunggu kau.

Kutunggu dengan membuka pintu hati.

Maka, segeralah masuk.

Pintunya tidak dikunci.