Cinta merupakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Aku salah satu umat yang diberikan anugrah itu pada Tuhan ku. Anugrah cinta yang aku syukuri sampai saat ini. Kali ini aku akan mengingatkan awal pertemuan kita, awal kebahagianku dimulai. Masih ingatkah kamu kapan dan dimana kita berjumpa saat pertamakalinya? Baik aku ingatkan ya, saat itu pertemuan kita tepat di bulan Ramadhan tepatnya lima September dua ribu delapan di gang rumahku.

Saat pertemuan awal itu aku langsung terpikat dengan parasmu. Pertemuan awal kita kala itu sungguh sangat merubah hari-hariku menjadi lebih berwarna. Tidak ada sedikitpun terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu apapun yang terjadi. Saat itu yang ada dibenakku hanyalah membahagiakanmu semampuku. Dan tak sedikitpun terbayangkan kamu akan pergi meninggalkanku apalagi sampai meningalkaku demi orang ketiga.

Pertemuan awal kita berlangsung saat kita sama-sama masih duduk di bangku SMA dan berlanjut sampai kuliah dan akhirnya kita sama-sama kerja. Cobaan-demi cobaan menghampiri kita yang menjadikan kita saling bersisihan, tapi kita masih di izinkan Tuhan untuk bersatu kembali. Percakapan singkat sudah menjadi habbit buat kita, mulai dari mengabari “aku udah sampe kantor, aku udah sampe rumah, selamat tidur sayang I love you”.

Hampir delapan tahun menghabisi waktu bersamamu, semakin aku mengenalmu, semakin aku mengerti kamu. Semakin aku tau apa maumu. Semakin aku mencintaimu, semakin aku mempercaimu, semakin aku berharap kepadamu untuk menjadi imamku kelak dan tiba waktu itu akhirnya kamu berkata mantap menjalin hubungan denganku lebih serius lagi. Berjanji menemaniku sampai dimana salah satu di antara kita dijemput sang pencipta. “Aku sangat mempercaimu lelakiku, tolong jangan kecewakan aku.”

Dulu kita sedekat angin dan udara, tapi sekarang jauh berbeda bagai matahari dan bulan. Kita tak lagi saling berdampingan dan semua berbada seratus delapan puluh derajat, kamu memilinya tanpa berkata sepata katamu pun kepadaku, tanpa ada kejelasan. Kamu meninggalkanku dengan semua ketidakpastian mengenai hubungan kita, kamu meninggalkanku begitu saja bersama rancangan indah yang pernah kita buat bersama.

Advertisement

Tapi ah sudahlah saat ini untuk menyapamu saja saat ini aku tak lagi ada keberanian apalagi sampai menatap wajahmu. Aku merasa sangat asing berada didekatmu. Tak munafik sesekali dalam hati kecilku bertanya-tanya secepat itu kamu berpaling dariku? masihkah kamu mengingat semua kebiasaan-kebiasaan kita dulu? Adakah rasa rindumu terhadapku menghampirimu? “Pada akhirnya aku benar-benar tersadar dari tidur panjangku. Sadar bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidaklah baik, begitu pun dengan cinta yang berlebihan terhadap sesama manusia.”

Pergilah sayang bersamanya, pergilah menjemput kebahagiaanmu. Aku tidak ada hak untuk melarangmu, yang ada aku berkewajiban mendoakanmu untuk kebahagiaanmu. Sekuat dan selama apapun aku berjuang mempertahankan “kita” tidak akan ada artinya jika kamu tidak menginginkannya. “Lepaskan daripada memaksakan. Ikhlaskan daripada menyakitkan. relakan daripada harus berjuang sendiri.”

Terimakasih untuk selama hampir delapan tahun ini sudah memberi pengalaman hidup yang begitu hebat. Terimakasih buat kamu yang sudah buat aku jadi wanita yang lebih kuat dari sebelumnya. Makasih buat kamu yang udah menyadarkan aku agar selalu menjaga serta bersyukur untuk apa yang sudah aku punya. Sekali lagi terimakasih untuk kepura-puraanmu mencintai aku.