Ketika kamu mengakhiri hubungan itu aku memakluminya, sakit memang karena harapanku kepadamu terlalu besar untuk membangun sebuah keluarga yang sederhana namun bahagia. Sebuah alasan yang indah kamu katakan bila kamu ingin membangun karir dan menuju kesuksesan. Kata yang indah dibalik sebuah kebohongan.

Niatmu mungkin mulia tidak ingin menyakiti aku lebih dalam lagi bilamana kamu mengatakan kejujuran itu, namun itu hanya akan membuat aku terus mengharapkanmu, dengan janjimu dengan imipianmu hanya akan melipatgandakan sakit hati ini.

Benar, semua janji yang pernah kau ucapkan melalui tulisan medsos telah aku hapus telah hilang, namun dipikiran ini masih sangat terniang semua kata yang pernah kau katakan.

Disaat aku sudah mulai bangkit kenapa aku harus mengetahui kebenaran ini. Kamu telah bersama dia yang lebih segalanya dari aku. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya dengan jujur? Mungkin aku akan lebih mengerti dan tak akan pernah merasakan sakit untuk kedua kalinya dalam hal yang sama.

Dan kini kemana janjimu dulu yang telah kau ucapankan? Kau tau betapa diriku ini sungguh mengharapkanmu. Ku terima perlakuanmu ini kepadaku. Buanglah memori tentang kita yang telah kita lukis bersama.

Advertisement

"Jujurlah sayang aku tak mengapa, biar jelas tak berbeda, bila nanti ku yang akan pergi, kuterima walau sakit hati" ~ Sandiwara Cinta – Republik ~