Pernahkah kamu menyukai seseorang tanpa pernah mencoba untuk mengungkapkannya? Cinta terkadang aneh dan tak masuk akal. Sepasang manusia tanpa ada komunikasi pun bisa saling mencintai. Mungkin tidak keduanya, mungkin salah satunya. Terdengar mustahil tapi memang nyata adanya. Seperti yang kualami saat ini.

Diam memang lebih baik. Diam untuk lebih memperhatikan. Diam untuk lebih banyak mendengarkan. Atau diam untuk tidak mencampuri urusan orang lain juga ada baiknya. Tapi, tak selamanya diam itu emas. Ada kala di mana berdiam diri itu tidak bisa mengubah kenyataan yang ada. Diam itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Diam itu menyiksa. Apalagi diam-diam memendam perasaan kepada seseorang.

Tentunya tak mudah untuk menjalani hari dengan belenggu di dalam hati.

“Apakah kamu menyadarinya? Apa kamu merasakannya? Hey, lihatlah aku! Aku di sini menunggumu. Aku selalu memperhatikanmu. Semua tingkah lakumu. Apakah tak ada sedikit pun perasaan itu untukku? Atau, salahkah bila aku mencintaimu? Aku memujamu, begitu menggilaimu.”

Beribu pertanyaan muncul dalam benakku. Umpatan-umpatan mulai memenuhi kepalaku. Seolah meneriakkan betapa pengecutnya diriku. Sosokmu yang begitu misterius semakin membuatku bertanya-tanya.

Advertisement

“Adakah aku di hatinya?”

Entahlah. Aku tak terlalu mengerti, bahkan dengan perasaanku saat ini. Mengapa aku begitu menyukaimu? Apakah ada alasan yang bisa menjelaskannya? Adakah rumus-rumus yang bisa memecahkannya? Atau, apakah harus ada alasan untuk mencintaimu? Pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul, meledak, dan semakin menyebar memenuhi setiap sel dalam tubuhku.

“Selama ini kita selalu bersama, sering bertatap muka, walau tak sepatah katapun terucapkan.”

Senyummu, tatapan matamu, begitu menyejukkan. Bahkan ketika kamu diam tanpa kata, kamu terlihat begitu mempesona. Kamu begitu mengagumkan. Terlalu sempurna untuk kumiliki. Ah… aku tak sanggup. Aku sudah masuk terlalu dalam, jauh ke dalam perasaanku yang terlalu besar untuk kubendung sendiri.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang kuinginkan hanya dirimu. Dirimu yang begitu beku. Tapi, apalah dayaku? Aku hanya bisa menunggu. Kamu tahu, aku ini wanita. Aku tak mungkin bisa mengatakannya. Bukan tidak bisa, aku hanya tak tau mulai dari mana. Aku hanya merasa, “Pantaskah aku memilikimu?”

Hatiku mulai gelisah. Batinku kian tersiksa dalam kebungkaman. Begitu menyesakkan. Menunggumu dalam ketidakpastian.

“Jika kamu merasakan yang sama, kenapa kamu tak bicara?”

“Kalaupun tidak, kenapa tak kamu ucapkan juga?”

“Adakah orang lain yang telah merenggut perhatianmu?”

“Apalah arti hadirku di sini?”

Sampai akhirnya terbesit dalam pikiranku, “Haruskah aku ungkapkan?”. Aku sudah terlalu lelah untuk memendam semuanya seorang diri. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini. Semua rasa penasaran ini. Kepadamu, untuk dirimu yang kucintai.

Aku takut. Aku hanya takut untuk mengatakannya. Aku takut kalau kamu malah pergi menjauh. Kebungkamanmu saja sudah sangat-sangat menyiksaku. Apa jadinya jika kamu benar-benar menjauh? Habislah aku. Begitu lemah tanpamu. Karena kamu semangatku, separuh jiwaku.

Seandainya kamu rasakan yang sama, kemarilah, tatap mataku, dan genggam tanganku. Ijinkan aku temani hari-harimu. Tumpahkan keluh kesahmu hanya padaku. Karena aku tahu, berat rasanya menanggung beban seorang diri tanpa seseorang yang menemani. Peluk erat tubuhku. Kuingin rasakan hangat tubuhmu, mencecap aroma khasmu.

Tapi jika yang terjadi sebaliknya, aku akan berusaha lebih kuat meskipun terasa berat. Setidaknya aku sudah mengatakannya. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa paksakan dirimu. Cukup aku yang terluka. Kubiarkan kamu bahagia. Mungkin terdengar seperti omong kosong. Tapi itu caraku untuk menenangkan diriku. Karena aku tahu, bukan kamu tapi perasaanku yang salah.

Aku terlalu berambisi sehingga tenggelam dalam lautan perasaanku sendiri. Tak akan kusesali itu. Setidaknya belenggu dalam dada sudah menghilang. Terbang melayang jauh ke angkasa. Entah langit ke berapa.

Tapi, semua itu hanya angan-angan. Dan pada akhirnya, aku hanya berdiam diri, tak sesuai ekspetasi. Dan kini kusesali. Karena kamu tak kunjung kembali. Andai aku bisa memutar waktu, akan kuungkapkan semua kepadamu. Setidaknya aku sempat mengatakannya walaupun pada akhirnya aku tak dapat memilikimu.

Dari aku, yang mencintaimu dalam diam…

“I love you”