Solitude is the state of being alone without being lonely. It is a positive and constructive state of engagement with oneself. Solitude is desirable, a state of being alone where you provide yourself wonderful and sufficient company (Marano, 2003).

Kesendirian. Hmm…mungkin ini adalah hal yang menakutkan bagi sebagian dari kita. Tentunya beralasan mengapa kita takut merasa sendiri. Tetapi solitude tidaklah sama dengan loneliness atau merasa kesepian. Loneliness adalah sebuah keadaan yang sangat berbahaya, merasa terisolasi dari lingkungan dan masyarakat di mana kita berada. Bisa dikatakan, walaupun kita punya keluarga yang baik ataupun teman-teman yang baik, pacar atau pasangan yang baik, kita masih merasa bahwa tidak ada yang mengerti kita.

Solitude sendiri adalah sebuah paradoks karena semakin kita merasa nyaman dalam kesendirian, semakin kita merasa lebih hidup. Saya dulu adalah orang yang takut sendiri. Saya takut bila saya sendiri, tidak ada yang dapat membuat saya senang, tidak ada yang akan men-support saya, tidak ada orang yang dapat mengerti cerita saya dan lain-lain. Tetapi, setelah menjalani dan menikmati waktu saat bisa kuliah di luar negeri, yang notabene masyarakatnya individualistis, saya pun terpaksa beradaptasi dengan lingkungan di sana.

Saya yang awalnya takut menjalani hidup seorang diri malah saya ketagihan untuk terus menikmati waktu sendiri. Tidak ada yang menganggu privasi, tidak ada yang ikut campur dalam kehidupan saya, hal ini sungguh luar biasa dibandingkan dengan saat saya berada di Indonesia, di mana urusan semua orang ada saja yang mencampuri. Ada saja yang menganggap bahwa hidup saya itu boleh dicampuri semua orang. Saya tidak akan mengatakan bahwa budaya individualis lebih baik daripada budaya kolektivis atau sebaliknya karena setiap budaya memiliki plus minusnya sendiri dan itupun tergantung bagaimana cara kita memandangnya.

Di dunia kita yang sangat mementingkan kita untuk menjadi lebih "sosial", mempunyai waktu untuk diri sendiri adalah sesuatu yang langka. Saya kadang merasa sangat sulit untuk bisa menikmati 1-2 jam dengan tenang, tanpa harus mementingkan urusan pekerjaan atau urusan yang lain. Kalaupun ada waktu rehat, biasanya saya menghabiskan waktu dengan melihat social media. Ya, saya tidak membiarkan otak saya beristirahat atau memiliki waktu agar bisa tenang. Dunia kita sendiri bergerak begitu cepat dan hampir kali tidak ada waktu untuk kita bisa pause atau mencoba untuk live in the moment. Saya membiarkan setiap momen berlalu begitu saja tanpa bisa menangkap apa yang ia coba ungkapkan pada saya.

Advertisement

Sendiri bukan berarti kita kesepian, loneliness is a negative state because it depletes the mind, but solitude restores our mind. Saat kamu merasa bahwa sendiri itu asyik, di saat itulah kamu baru merasa benar-benar hidup. Tekanlah tombol pause dalam semua hal yang sedang kamu jalani dan marilah kita belajar menikmati semua yang kita lakukan secara lebih sadar atau aware. Be mindful. Tidak ada teman/pacar/keluarga/suami/istri/anak? Tidak masalah. Mereka tidak akan ada selalu untuk kita, and it's fine. Kesendirian akan mengajarkan kita untuk lebih bisa mandiri, untuk tidak selalu bergantung secara emosional kepada orang-orang di sekitar kita.

Kesendirian (solitude) juga mengajarkan saya untuk lebih bisa menikmati hidup, untuk bisa menekan tombol pause terhadap kehidupan saya tanpa saya perlu menjadi khawatir, saya juga bisa berpikir dengan tenang mengenai hari yang telah saya jalani, apa saja yang telah terjadi, apakah ada pelajaran hidup yang berarti yang bisa kita ambil dari hal ini. Kesendirian sendiri juga memberikan kita waktu untuk bertumbuh secara emosional dan spiritual (kita bisa menikmati kesendirian dengan melihat lingkungan sekitar, mengagumi ciptaan Tuhan). Kesendirian mengajarkan kita untuk berdamai dengan pikiran dan perasaan yang selama ini tidak sejalan dan yang sering mengakibatkan stress . Di momen-momen ini juga di mana kreativitas kita muncul, karena kita bisa fokus mendengarkan suara hati dan juga pikiran-pikiran yang mungkin selama ini tidak kita perhatikan. Kita pun bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi karena kita tidak perlu mendengarkan suara orang-orang yang riuh dan menganggu pikiran dan hati kita. Kita pun bisa "membersihkan" diri kita dari perasaan marah, kecewa, dan emosi-emosi negatif lainnya dengan bisa berdamai dengan pikiran-pikiran yang negatif. Banyak sekali manfaat ketika bisa berdamai dengan diri sendiri. Dan itu tidak mungkin terjadi bila kita tidak bisa menikmati waktu dengan diri kita sendiri.

Solitude bisa dilakukan dalam berbagai hal, seperti membaca buku, menulis, berjalan-jalan sendiri, travelling ke beberapa tempat seperti ke hutan atau gunung (karena tempat-tempat ini relatif sepi), atau sekadar jalan pagi pun bisa membantu kita untuk menikmati waktu dengan diri sendiri. Menikmati kesendirian bukanlah berarti bahwa kita tidak membutuhkan interaksi dengan orang lain. Tetapi, bagaimanakah kamu bisa menikmati interaksi dengan orang lain saat kamu tidak bisa menikmati waktu dengan pikiran dan perasaan sendiri? Cobalah mulai menikmati waktu dengan diri sendiri dan untuk menikmati kesendirianmu, because, the quieter you become, the more you hear (Ram Dauss).