Daun yang jatuh tak pernah membenci angin…

Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.

Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya…
Ini buku Tere-Liye pertama yang saya baca.

Dan terus terang sempat tidak percaya bahwa penulisnya adalah seorang laki-laki.

Tulisannya begitu penuh perasaan, walaupun pilihan kata dan cara bertuturnya sangat sederhana.

Advertisement

Ceritanya sendiri juga sederhana, tentang cinta yang terpendam dan betapa rasa yang tak terucap bisa mengubah jalan hidup seseorang untuk selama-lamanya.

saya suka cara Tere menyajikannya. Enak dibaca dan mengalir, sesekali bahkan sanggup membuat mata saya Namun berkaca-kaca.

Mengikuti kisah Tania, gadis kecil yang jatuh cinta dengan putus asa alias hopelessly in love pada malaikat penolongnya, terngiang potongan lagu dari Endah n Rhesa.

When you love someone
Just be brave to say
That you want him to be with you

When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you would lose your chance
To make your dream come true…

Walaupun katanya cinta tak harus memiliki, tapi kalau ada kesempatan untuk bisa memiliki, kenapa tidak?

Euh…cinta gak pernah mengenal umur.
Spt Lolita, yg terjemahannya keren abis, DYJTPMA (haduh singkatan aja panjang bener) juga bahasanya indah. Berhubung merantau di negeri orang, saya jarang tau info buku Indonesia kebanyakan baca buku Inggris, dan taunya dari Goodreads. Dan saya terkejut, waaahh, pengarang Indonesia udah sedemikian tinggi levelnya.

Gayanya mengingatkan saya dengan Lovely Bones, dan sama dengan Lovely Bones, walau cerita ini indah, tidak ada yang bisa dipelajari dari sini.

Cuma ttg emosi aja sih. Biasa saya kasih bintang ke-5 karna saya belajar tentang sesuatu yang baru dari buku itu, tentang realita yg saya gak tau, seperti adat suatu negara, atau krn keberanian si penulis, tentang hal yang riil -lah, sementara di buku ini gak ada.

So I save the 5th star for myself.

Kalau untuk Lovely Bones yang bestseller itu saya kasih 3 bintang, utk DYJTPMA saya kasih 4.

Karna ini penulis adalah laki laki, tapi bisa dan berani mengambil sudut narasi dari tokoh utama perempuan, dan nyaris gak ada kejanggalan di situ.

Saya cuma membayangkan..oh my …dia pasti ngerti banget isi hati wanita, beruntung banget istrinya!! Saya bilang nyaris, krn ada satu yg mengganggu, wkt dia bilang, "Aku tahu aku cantik, tubuhku proporsional". Aduh…JEDERR…ketauan deh ini penulisnya laki2. Secantik apapun perempuan, selalu ada yg dia tidak suka dari tubuhnya, krn ingat! Perempuan itu pikirannya sulitt..gak jelas apa maunya.

Dikasih rambut lurus pengen kriting, yg kriting pengen dibonding, yg pendek pake hak tinggi, yang tinggi badannya bungkuk krn tidak pengen terlihat mengintimidasi pada cowok.

Even kalau kita baca interview dg artis2 Hollywood, mereka juga punya ketidakpuasan akan penampilan mereka, dagunya kepanjangan, toketnya kegedean dst ds
Jadi begitu kata 'tubuhku proporsional' keluar…ARRGGHHHHHH

Saya suka sama bagian belakang, si Danar yg plintat-plintut itu makin lama makin kehilangan sosoknya.

Suaranya, dialognya, gak ada. Sampai terakhir apa yg dia bisikkan ke telinga Tania juga gak ditulis.

Menggambarkan betapa makin lama sosoknya makin memudar.

Kalau di bayangan saya si Danar yg perfect ini makin -lama jadi tembus pandang, hilang.

Dan saya gak setuju sama review2 lain yg marah2 kenapa si Danar kok unreliable, menikah, terus istrinya dibiarkan begitu aja krn gak cinta.
Kenapa saya bela Tere Liye?
Kebetulan org ini naksir dg teman baik saya, yg jauh umurnya di bawah, walau gak 12 thn sih..tapi ditolak krn temen saya gak suka, dan krn udah hampir 40, akhirnya dia dijodohkan, sama cewek yg cantik seiman dan profesinya baik.

Diimpor dari Indo, sampai meninggalkan karir dan keluarganya hanya utk ditelantarkan gak diajak ngomong, dicuekkin istrinya nangis2, curhat ke orang akhirnya istrinya pulang Indo dan cerai.

So, Si Danar itu as real as can be for me, juga cinta mereka yg begitu berbeda umurnya, biar dikata sekarang Pedofil, sebenernya Pedofil kalau udah mau berbuat tidak senonoh kan…kalau buku ini masih tahap platonis, jadi saya sih oke oke ajah.

Kita tidak akan pernah bisa membenci dan melupakan seseorang yang begitu berarti dan sudah sedemikian baiknya kepada kita.
Menjalani kehidupan dengan memendam perasaan itu sangat susah, tapi kita justru harus jadi jauh lebih baik dan lebih kuat karenanya. Perasaan tidak boleh membuat kita terpuruk.
Mencintai seseorang akan membuat kita bertanya-tanya bagaimana perasaan seseorang itu terhadap kita. Ketika kita akhirnya membuat kesimpulan bahwa dia tidak menganggap kita "sepenting" kita menganggapnya, rasanya sangat susah, sangat parah.

Walaupun begitu, kau tahu kau tidak akan bisa sedetikpun menghapusnya dari ingatanmu, dan hanya waktu yang bisa membuat kau setidaknya, mempunyai pemahaman yang baik tentang itu, dan penerimaan yang baik, tentu saja.

Ngomongin soal novelnya, setelah baca lagi bab pertama yang mendeskripsikan settingnya, dan saya merasa kenal, ternyata memang benar.