Hampir semua orang percaya bahwa jodoh di tangan Tuhan. Namun, jika kita tidak berusaha untuk memburunya, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Tuhan pun tidak akan mengubah nasib manusia kecuali manusia itu sendiri yang mengubahnya, Nah, peran Tuhan adalah memilihkan orang yang terbaik untuk berada di samping kita.

Faktor tampang, intelektual, kemapanan, dan pendidikan memang sangat mempengaruhi kita dalam mendapatkan pasangan. Jika kita terlahir dengan semua hal yang disebutkan di atas, secara hukum alam hal ini sangat mudah untuk kita mendapatkan pasangan yang kita idam-idamkan.

Lalu, bagaimana jika kita seorang yang tampangnya pas-passan, gak pinter-pinter amat, dan juga kere? Oh tenang, jangan minder dan berkecil hati. Kembali ke judul artikel ini bahwa Tuhan itu telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Jadi secara logika, harusnya tidak ada sampai detik ini mereka yang tidak memiliki pasangan. Kecuali itu adalah pilihan mereka sendiri.

Melalui artikel ini saya ingin mencoba menceritakan sebuah kisah bagaimana saya mendapatkan pasangan saya. Walaupun kami belum menikah, namun mudah-mudahhan kami berjodoh. Karena saya yakin, tak ada yang dapat memisahkan kami kecuali takdir Tuhan.

Saya sekarang berusia 25 tahun. Sedang menempuh pendidikan S2 di University of Bristol, Inggris. Saya akan memulai cerita bagaimana saya bertemu dengan pasangan saya sekitar 4.5 tahun yang lalu. Saya adalah seorang anak dari kampung, berasal dari keluarga yang miskin, ayah saya tidak bekerja karena divonis terkena penyakit syaraf terjepit, dan ibu saya hanya seorang buruh serabutan.

Advertisement

Secara penampilan, saya jauh dari kata ideal dan proporsional. Saya bertubuh pendek dari kebanyakan ukuran laki-laki, berbadan gemuk, berkulit gelap, dan berhidung pesek. Jauh dari kata sempurna. Secara finansial, jelas, saya MISKIN. Secara emosional, saya banyak memiliki sifat yang tidak baik. Egois, suka marah, suka berdebat, dan suka berlebihan.

Mungkin hanya satu kelebihan saya, intelektual saya sedikit lebih dari rata-rata orang kebanyakan. Selama sekolah saya selalu mendapat prestasi, beberapa kali memenangkan lomba pidato Bahasa Inggris tingkat Nasional, dan terbukti mendapatkan beasiswa PSF untuk jenjang S1 lalu dan LPDP saat S2 di Inggris saat ini. Namun jelas, intelektual saja tidak cukup untuk mendapatkan wanita yang saya idam-idamkan, karena kekurangan saya jauh lebih banyak dari apa yang saya miliki.

Pada saat S1, saya hijrah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan tersebut. Bukan karena saya kaya, tapi karena mendapatkan beasiswa dari PSF. Jelas, teman-teman seangkatan saya banyak sekali yang menarik perhatian saya. Terutama mereka anak-anak asli ibukota. Berbekal impian saya yang ingin punya pacar, saya memberanikan diri untuk mendekati salah satu di antara mereka. Oh tidak. Tidak hanya satu. Tapi beberapa di antara mereka.

Saya punya prinsip, kalau kita tidak memiliki kualitas, maka kuantitaslah yang berperan. Jika saya tidak memiliki hal-hal yang saya sebutkan di atas mengenai sosok pria ideal, maka berapa kali dan berapa banyak wanita yang saya dekatilah yang akan menjadi faktor penentu.

Saat itu, saya sampai mendekati empat orang sekaligus, tapi semuanya gagal. Alasan mereka sama, saya bukan tipe mereka. Yah, wajar saja sih saya jauh dikatakan dari pria ideal yang tampan, kaya, dan lain-lain. Pintar? Yah saya akui saya pintar. Tapi itu saja tidak cukup. Karena mereka banyak yang jauh lebih pintar dari saya. So, it didn't work at all!

Di tahun kedua, saya memiliki adik angkatan tentu saja. Saya sudah menandai beberapa dari mereka yang akan menjadi target operasi saya. Kurang lebih 5 wanita saya dekati, tapi lagi-lagi gagal. Alasannya juga sama, bukan tipe mereka. Beberapa dari mereka juga bilang kalau saya tidak memiliki emosional yang baik. Gampang marah kalau mereka menolak ajakan-ajakan saya untuk jalan atau nge-date.

Banyak bully-an kemudian datang dari teman-teman saya. Mereka mentertawakan dan mengejek saya kalau saya sudah mendekati banyak wanita namun tetap saja ditolak. Sampai-sampai tak sedikit yang mengatakan "Mana ada yang mau sama cowok yang tampangnya kayak elo!". Hemh, sakit sekali memang. Tapi, itulah saya. Saya selalu terpacu apabila banyak orang yang meragukan saya. Semakin banyak yang menghina saya, semakin besar rasa yang saya miliki untuk membuktikan kalau saya bisa. Walaupun kadang saya tidak yakin.

Menginjak di tahun ketiga, hal serupa tetap saya lakukan. Namun, ada beberapa perubahan yang saya lakukan. Tidak berubah pada tampang dan kekayaan tentunya, namun secara sikap. Saya mencoba menjadi pribadi yang lebih ramah, lebih halus, dan tidak mudah marah-marah. Saya pun hanya fokus pada seorang wanita yang sangat menarik perhatian saya.

Dia tidak cantik, namun manisnya kebangetan. Dia tidak pintar secara akademis, namun prilaku dan tata kramanya yang sungguh elok. Dia tidak kaya, namun dia mandiri mendapatkan uang saku dengan caranya sendiri. Itulah yang membuat dia menarik di mata saya. Singkat cerita, dia menjadi milik saya. Walaupun, dia sempat ragu karena dipengaruhi teman-teman saya agar tidak menerima saya karena saya bukan cowok baik-baik. Namun saya mencoba meyakinkan dia, sehingga dia jatuh di pelukan saya.

Akhirnya, walaupun sudah mencoba berkali-kali, pasangan yang aku inginkan pun aku dapatkan. Mudah-mudahhan dia akan menjadi istri saya dan ibu bagi anak-anak saya di masa depan. Bukan ini yang ingin saya tegaskan. Bukan tanpa alasan saya ingin sekali menikahi dia. Beberapa hal dari dia yang kemudian membuat saya terkagum-kagum yang saya rasa tidak semua wanita menginginkannya. Pertama, dia sangat manis. Semua orang pun bilang begitu. Banyak orang bilang kalau wanita cantik itu buat bosan jika dilihat terus menerus. Namun wanita manis, akan terus sedap dipandang mata.

Akan ada kala di mana kita menemukan pasangan yang melihat kekurangan kita menjadi kelebihan di mata mereka. Dan hal itu yang membuat mereka tertarik pada kita.

Yang kedua, dia menerima saya apa adanya. Hampir semua wanita yang saya dekati tidak suka dan benci dengan saya yang berbadan gemuk dan pendek. Namun tidak bagi dia. Dia terang-terangan berkata kalau dia itu suka dengan lelaki berbadan gemuk. Lucu dan gemes katanya. Dia juga tidak mau pacaran dengan orang kaya, karena mereka biasanya manja, juga, kebanyakan lelaki kaya tidak setia. Itu katanya. Saya sangat terharu dengan apa yang dia katakan pada saya. Saya kemudian belajar bahwa, kekurangan atau kelebihan itu relatif. Tergantung siapa yang memandangnya.

Yang ketiga, dia tidak matre. Dia sangat melihat kondisi finansial saya. Ketika jalan berdua, dia tidak pernah minta aneh-aneh. Dia selalu senang dibonceng dengan motor butut yang saya miliki. Biar mesra katanya. Dia tidak pernah menuntut saya untuk membawanya jalan menggunakan mobil mewah. Selain itu, dia lebih senang ketika saya ajak makan di tukang nasi goreng pinggir jalan, ketimbang makan di restoran mewah. Lebih baik ditabung uangnya, katanya. Ketika ulang tahun pun dia tidak pernah meminta barang-barang mewah apapun. Bahkan dia berkata, kalau tidak ada uangnya yang penting doanya saja. Lelaki mana yang tidak makin sayang dengan wanita seperti ini?

Yang terakhir, dia berhati seperti malaikat dan pemaaf. Tidak sering ketika kami bertengkar, makian dan kata-kata kasar sering saya lontarkan kepadanya. Namun, tak sedikitpun dia membalas. Di akhir pertengkaran, dia selalu memaafkan saya dan menasehati saya agar tidak mengulanginya. Bahkan, ketika saya melakukan kesalahan terbesar sekalipun.

Saat awal-awal kami LDR-an karena saya harus berangkat ke Inggris untuk S2 dan dia masih di tahun terakhir di kampusnya di Jakarta, saya sangat merasa kesepian. Akhirnya, saya khilaf mendekati beberapa mahasiswi internasional disini. Tanpa saya ingat, dia ternyata mengetahui username dan password FB saya. Di situlah dia menyaksikan semuanya. Dia membuka semua chat history pesan FB saya ketika sedang flirting dengan wanita lain.

Kalian tahu apa yang terjadi? Dia tidak marah sedikitpun! Bahkan dia malah meminta maaf karena dia tidak dapat menemaniku di Inggris. Dia sangat memaklumiku yang sendiri kesepian. Apakah senang? Tidak! Saya terenyuh. Saya menangis. Saya sangat merasa berdosa sekali telah mempermainkan wanita sesuci dan sebaik dia. Saya tidak bisa bayangkan jika dia adalah wanita lain kebanyakan, dan mengetahui pasangannya selingkuh. Tentu sudah pasti akan mereka tinggalkan.

Namun tidak bagi dia. Dia terus meyakinkanku kalau kita dapat melalui masa LDR ini untuk setahun lamanya. Mungkin kalau dia marah, saya tidak akan merasa bersalah sebesar itu. Namun, rasa pengertian dan lemah lembutnya membuat saya merasa tersayat-sayat dan merasa sangat berdosa. Saat itu saya berjanji untuk tidak akan mengecewakan dia lagi, saya akan setia menjaga dia selamanya.

Dari paparan cerita saya di atas, ada sebuah pelajaran yang saya petik. Susah payah saya dalam mencari pasangan di masa lalu terbayar tuntas. Hasil tidak akan mengkhianati kerja keras yang kita lakukan. Berpuluh-puluh kali saya mendekati wanita, namu tak satupun tersentuh hatinya. Namun sekali lagi, Tuhan tidak akan memberikan wanita yang kita inginkan, tapi wanita yang kita butuhkan.

Lihatlah betapa Tuhan begitu baik memberikan wanita baik seperti malaikat di sisiku saat ini. Semoga Tuhan segera melancarkan niatan saya untuk membawanya ke pelaminan. Dan buat kalian yang masih sendiri, janganlah berkecil hati. Kalian hanya butuh berusaha lebih keras, dan bersabar. Saya sudah membuktikan kalau tampang, kekayaan, intelektual, bukanlah sebuah syarat mutlak. Hanya niat yang tulus dan hati yang ikhlas yang akan membantu kita mendapatkan pasangan yang kita nanti-nantikan. It's not how smart you are, but how hard your effort is.

Tuhan mengabulkan doa hambanya dengan 3 cara. Yang pertama, kita berdoa dan langsung dikabulkan saat itu juga. Yang kedua, kita berdoa namun Tuhan tunda sampai waktu yang telah ditentukan. Yang ketiga, kita berdoa, Tuhan tidak mengabulkan, namun diganti dengan yang lebih baik.

Di akhir kata saya ingin kalian ingat satu hal, Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Jikalau kalian menjadi bujang/perawan tua, itu bukan slah Tuhan. Tapi mungkin usaha kalian kurang maksimal.

Good luck!