Aku dan kamu sudah menjadi kita. Kita sudah bersahabat sejak kecil, dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliahpun kita bersama. Kita menjalani persahabatan kita sudah lama, kita sudah bagaikan saudara. Apa yang jadi milikmu menjadi milikku, dan apa yang menjadi milikku menjadi milikmu, apapun kita lakukan bersama, melakukan hal yang konyol bahkan hal yang terasa gila sekalipun terasa menyenangkan asalkan kita bersama.

Kita saling curhat tentang masalah kita berdua tanpa ada rahasia sedikit, aku bagaikan buku diarymu dan kamu bagaikan buku diaryku, tempat untuk menulis tentang ceritaku, cerita kita berdua. Dan suatu ketika kamu menemukan Cinta. Kamu mencerita segalanya tentang lelakimu yang bisa membuatmu jatuh hati.

Aku sebagai sahabatmu sangat bahagia melihatmu bahagia. Bahkan setelah itu hubungan persahabatan kita masih tentram saja. Kamu perkenalkanku dengan lelakimu itu. Ya aku menerimanya sebagai sahabatku karena dia kekasih sahabatku, bukan penghalang bagi kita untuk melakukan kekonyolan bersama. Bahkan aku sangat merasa bahagia karena kamu tidak melupakanku setelah dia ada, kita bahkan bisa jalan bersama, menghabiskan waktu dengan adanya kekasihmu itu.

Aku tidak pernah merasa menjadi bayang-bayang di antara kalian, karena aku merasa kita adalah "sahabat". Tapi suatu ketika lelakimu itu datang kepadaku, Aku heran, tidak seperti biasanya. Ya biasanya saat kita akan jalan bersama pasti selalu ada kamu tapi kali ini hanya kami berdua, aku merasa aneh dengan hal ini.

Yaa benar saja dia mengajakku keluar, dia ingin menyatakan rasa sayangnya terhadap aku.

Advertisement

Mas Mu : Dek… Aku sadar sepertinya ada yang salah tapi aku tidak bisa menutupi kalau aku ada rasa terhadapmu..

Pernyataan itu yang terlontar aku hanya terdiam, seolah aku ada di dua persimpangan jalan antara cinta dan persahabatan. Tapi aku tau diri dia itu milikmu, milik sahabatku. Kita bukan lagi anak kecil lagi yang memegang prinsip.

"Milikmu adalah milikku dan milikku adalah milikmu juga..

Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian, aku tidak ingin menjadi perusak hubungan kalian, hal ini membuatku dilema, aku ingin menceritakan ke kamu tapi yang aku ceritakan mengenai lelakimu yang jatuh hati kepada wanita lain yang wanitanya itu adalah aku. Aku takut merusak hubungan persahabatan kita, jadi aku memilih diam. Tapi apa yang aku takutkan benar terjadi setelah kamu tau tentang semuanya dari orang lain. Perasahabatan kita renggang. Kamu menjauh, kamu menjadikanku seperti orang asing, seolah kamu tidak mengenaliku lagi, seolah aku menjadi orang ketiga di antara hubungan kalian yang patut kamu benci.

Aku rindu dengan kita yang dulu. Aku rindu dengan kekonyolan kita. Aku rindu menceritakan segalanya kepada kamu. Kalau aku boleh memilih aku tidak ingin dia jatuh hati terhadapku. Aku bisa saja mengendalikan rasaku karena aku sadar dia itu milikmu tapi aku tidak akan bisa mengendalikan rasanya. Jadi ku mohon jangan acuhkan aku sebagai sahabatmu untuk apa yang bukan menjadi salahku,

"Aku tidak ingin menjadi musuh dalam selimut, aku juga tidak ingin menjadi pagar makan "

"Aku lebih baik memilih single dari pada menjadi orang ketiga yang hanya akan menjadi bayang-bayang di hubungan kalian."