Globalisasi memunculkan berbagai macam teknologi yang semakin canggih. Itu akan menimbulkan dampak yang positif bagi yang bisa menggunakannya dengan baik, tetapi juga bisa menimbulkan dampak yang buruk bagi yang menyalahgunakannya. Degradasi moral terjadi dalam segala aspek mulai dari tutur kata, cara berpakaian, dan perilaku. Degradasi moral anak jaman sekarang ini merupakan salah satu masalah sosial yang perlu mendapat perhatian baik dari orang tua secara khusus serta masyarakat atau pemerintah pada umumnya.

Perkembangan teknologi pada jaman globalisasi sangat signifikan dengan perkembangan jiwa generasi muda yang sangat bersemangat untuk maju meraih cita-cita luhur untuk masa depannya. Krisis nilai dan karakter, menjadi sebuah momok besar yang membebani bangsa ini. Maraknya penyimpangan sosial dalam masyarakat menjadi salah satu bukti degradasi nilai dan karakter di kalangan masyarakat Indonesia kini. Kebanyakan masyarakat Indonesia seakan telah lupa dengan nilai-nilai Pancasila yang selama menjadi pedoman hidup fundamental bangsa ini.


Bangsa ini lama-kelamaan kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa yang memiliki integritas sebagai sebuah bangsa yang berlandaskan Pancasila, sebuah asas fundamental yang berakar dari nilai luhur bangsa kita.


Anak semakin lupa dengan kewajibannya sebagai penerus bangsa, yaitu kewajiban sebagai murid menuntut ilmu di sekolah. Dampak buruk yang ditimbulkan akibat dari pengaruh globalisasi seperti yang saya baca yaitu kasus kematian H, siswa kelas X SMA Budi Mulya. Dari situ, kita bisa melihat perbedaan yang sangat mencolok dengan siswa jaman dulu. Kewajiban seorang anak yang hanya menuntut ilmu di sekolah kini sudah hampir hilang dalam diri siswa.

Kasus ini memang kasus di bawah umur, namun dilihat dari cara pelaku itu bukanlah merupakan kasus yang sepele tetapi itu merupakan kasus yang fatal karena berakibat menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja yaitu pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah “ barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana ( moord ), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun” atau merupakan pembunuhan secara yuridis diatur dalam pasal 338 KUHP, yang mengatakan bahwa: “barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, karena bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun” juga belum diketahui secara pasti. tetapi pada kenyataannya, terlepas dari kasus ini masuk dalam 338 KUHP atau pada 340 KUHP, kasus tersebut dibiarkan begitu saja dan tidak ada yang berani melaporkan bahkan pihak sekolah SMAN 7 Indraprasta pun berdalih tidak tahu menahu ada duel maut di belakang lapangan mereka sendiri.

Advertisement

Padahal, tindakan yang sangat keji tersebut ada di sekitarnya. Menurut berita yang beredar, kasus penganiayaan ini adalah kasus yang direncanakan sebelumnya. H yang saat itu tengah berada di Gereja dijemput oleh kakak kelasnya diminta untuk berduel dengan siswa sekolah lain yang berada di lapangan belakang SMA Indraprasta Bogor itu artinya sudah ada rencana yang sangat matang. Saat seperti ini, dimanakah orang tua H? Harusnya, komunikasi antara orang tua dengan anak perlu ditingkatkan lagi agar anak tidak salah dalam mengambil tindakan. Masih menjadi misteri, mengapa kasus kekerasan siswa yang menjadi tradisi turun-temurun tiap tahun ini terus terjadi. Mengapa pihak sekolah tidak mencegah adanya tindakan seperti ini. Semoga para orangtua menjadi lebih berhati-hati dan lebih waspada lagi dalam mendidik dan mengasuh anak agar tidak terjadi hal yang seperti ini.

Kasus lain, yaitu kasus pada remaja yang hamil diluar nikah yaitu V. Kasus ini viral di Facebook, yang berawal dari curhatan V jika dirinya tidak diakui oleh mertua dan kini tengah hamil 7 bulan tetapi mengalami KDRT oleh suaminya sendiri. Lalu, V menuliskan status yang sempat mencuri perhatian warganet. Dari kasus ini juga kita bisa melihat, dimanakah peran orangtua dalam mendidik anaknya pada saat belum terjadi kasus ini. Jika anaknya diketahui sudah hamil baru bertindak dengan tegas, jika masih bisa dicegah kenapa tidak dari awal saja. Seharusnya para orangtua bertindak tegas dan memberikan perhatian dalam mendidik anak saat sedang mencari jati diri, bukan hanya tegas saat sudah terjadi kasus menyimpang saja karena jika tidak mendidik dengan benar maka anak akan terjerumus dan berdampak pada masa depannya.

Kemajuan dunia globalisasi yang semakin menantang kehidupan para anak bangsa tentunya harus dibarengi oleh adanya penguatan moral dan agama sebagai upaya mengantisipasi jika kemajuan dunia globalisasi tersebut dapat menjerumuskan anak bangsa ke arah kehidupan yang negatif serta dapat merusak citra bangsa Indonesia di mata dunia internasional.