Saya yakin, setiap muslim tahu lima perkara yang menjadi dasar dan rukun agama yang kita sama-sama anut. Pertama, mengucapkan dua kalimat syahadat, kedua salat lima waktu, ketiga membayar zakat, keempat berpuasa di bulan Ramadan, dan yang terakhir menunaikan ibadah haji.

Saat ini kita tengah diliputi keberuntungan dari salah satu rukun Islam itu. Menikmati berkah dan menakjubkannya bulan Ramadan. Dan tentu saja berpuasa di dalamnya.

Bulan saat kita semua merasakan perbedaan yang sangat indah. Bikin kangen setiap tahun. Saat toleransi menjadi hal yang utama di seluruh sudut kota. Saat semangat berbagi menjadi tokoh utama kehidupan sehari-hari.

Semuanya serba ringan dijalankan. Tuhan begitu baik menciptakan Ramadan untuk kita.

Kemudian saya, atau kita, dibenturkan dengan sebuah fakta yang tidak menyenangkan.

Advertisement

Fakta yang membuat saya begitu gatal, begitu gemas, begitu galau untuk mengulasnya dalam sebuah tulisan atau tidak. Menimbang-nimbang efeknya, mengukur baik-buruknya. Dan akhirnya memutuskan untuk menumpahkannya. Insya Allah jadi selemah-lemahnya dakwah, dari saya yang jauh dari saleh ini.

Keduanya adalah ibadah wajib. Mengapa harus rela mengorbankan salah satunya?

Yang membuat saya tidak habis pikir adalah, saya yakin, mereka yang meninggalkan salat saat menjalankan ibadah puasa tahu bahwa salat adalah ibadah wajib. Yang hukumnya mutlak untuk semua muslim.

Jika kita merefer kembali ke rukun Islam yang lima di atas. Logikanya adalah, secara runut, ibadah salat lebih dulu disebut dibanding ibadah puasa Ramadan. Kalau kita analogikan dengan istilah "mata kuliah wajib", rasanya aneh jika ada yang dengan sengaja melewati fase kedua dan langsung melaksanakan fase keempat.

Dalam fiqh, keduanya masuk dalam ibadah mahdhah yang statusnya wajib. Isitilahnya fardhu 'ain (mohon koreksi jika keliru). Keduanya wajib ditunaikan oleh setiap individu yang beragama Islam. Dan hal ini sudah dipahami dengan baik oleh siapapun yang Islam.

Sekali lagi, saya gagal menemukan logika atas masalah ini 🙁

Pahala dan dosa memang bukan urusan kita sebagai makhluk. Tapi, sudah jelas toh? Bukan Islam buat mereka yang meninggalkan Salat.

Salat adalah tiang agama. Dilakukan lima kali dalam sehari. Sudah ada jutaan kali orang yang mengulang-ulang informasi itu. Sebuah kesepahaman yang global dan tidak terbantahkan.

Salat juga mencerminkan hubungan antara Tuhan dan hambanya. Tidak ada yang berhak memberikan justifikasi apakah seseorang yang telah mendirikan Salat lima waktu dengan baik dan benar akan mendapat pahala dan ijamin masuk surga. Tentu saja itu semua hak Tuhan untuk menentukan.

Saya pernah mendengar sebuah hadits yang isinya kurang lebih begini:

… bukan Islam mereka yang tidak mendirikan Salat

Mohon koreksi jika salah. Lalu, kalau lewat logika saya yang sederrhana, terbatas, bodoh, dan sok tahu ini, saya menghubungkan isi hadits itu dengan salah satu syarat menunaikan ibadah puasa. Yaitu beragama Islam.

Apa kalian tidak menemukan keanehan dari dua hal itu? Berpuasa tapi tidak memenuhi syarat utamanya, yaitu Islam. Atau saya yang keliru?

Puasa adalah ibadah personal yang nilainya langsung menjadi hak Tuhan.

Saya juga tahu dan pernah dengan hadits (atau firman?) yang menyatakan demikian. Kalau ibadah puasa itu adalah ibadah paling sembunyi-sembunyi dan Tuhan langsung lah yang akan menilai keabsahannya.

Puasa nyatanya juga membuat kita lebih arif dalam menjalani hari. Lebih dewasa dan bisa mengendalikan diri. Yang paling luhur adalah bisa membuat kita semua menjadi insan yang lebih bertaqwa. Itu adalah janji Tuhan. Bahwa puasa ditujuakn untuk mereka yang bertaqwa.

Kemudian, saya kembali terhenyak dengan logika yang lain. Bahwa arti taqwa yang saya thau adalah menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Bukan kah juga sudah jelas bahwa Salat lma waktu adlah perintahNya? Salah satu yang paling penting malah.

Lalu, di mana logikanya orang yang berpuasa tapi tidak Salat? Puasa untuk orang bertaqwa, dan taqwa adalah (sakah satunya) menjalankan Salat. Untuk apa mereka berlapar-lapar?

Yang penting puasa. Nggak usah repot ngurusin ibadah orang!

Sungguh, maafkan kesilapan dan kebodohan saya untuk membawa isu ini di sini. Maafkan saya sekali lagi. Saya sungguh meminta maaf.

Untuk kalian yang merasa tersindir dengan tulisan ini. Saya bingung, apakah saya harus merasa bersalah atau berterimakasih karena telah membacanya. Sekali lagi saya minta maaf.

Mungkin kalian telah mendirikan Salat. Diam-diam Salat dan memutuskan untuk tidak mengumbar-umbarkannya. Mungkin saya tidak tahu itu semua. Saya ada keyakinan kalau memang saya yang salah. Saya yang tidak tahu keseluruhannya. Sungguh luar biasa sekali untuk kalian yang menyembunyikan ibadah seperti itu. Saya benar-benar kagum.

Dan saya minta maaf telah mempertanyakan itu. Sekaligus mungkin telah berprasangka buruk. Astaghfirullah 🙁

Tapi, bukankah kalian juga tahu kalau Salat berjamaah dan di tempat yang terbuka adalah lebih baik. Masih ingat toh janji Tuhan yang akan melipatgandakan nilai Salat Berjamaah sampai 27 kali daripada Salat sendiri-sendiri?

Wallahu a'lam bisshawab. The choice is yours.