Untuk kau yang telah bahagia disana, telah bahagia bersamanya. Mungkin saja rangkaian cerita panjang yang pernah kita susun, kita bentuk tak ada artinya lagi. Sudah terkikis bahkan sudah hilang dalam sejarah kisah hidupmu, aku maklumi karna aku sangat dengan bisa memaklumi segala rasa yg wanitamu rasakan. Tetaplah disitu dengannya, aku bahagia. Untuk kau yang telah bahagia mencapai titik puncak bahagiamu, selamat.

Aku hanya bisa berucap itu, namun jauh dari hati kecilku aku menangis, meneteskan ribuan air yang hujan saja bahkan mengalahkan derasnya air mata ini. Tapi mungkin saja orang tidak tau dengan ini, ini hanya tentangku dan hanya menjadi urusanku. Cukup.

Untuk kau yang kini sedang menyusun rencana rencana indah, rencana terbaik sepanjang umur dan hidupmu.

Sepertinya cukuplah aku melepas segala harapanku melihat kau bahagia bersamanya, meski seandainya kau tau, sayatan yang amat perih terus saja menyakiti hati ini. Aku yang dari kejauhan tanpa kau sadari mematau apa yang menjadi prioritas kebahagiaanmu, cukup tersenyum meskipun hanya senyum simpul, semoga kau paham dengan pengertianmu.

Hari bahagiamu nampaknya semakin dekat, aku juga semakin dekat dengan rasa khawatirku yang mendalam. Semakin sakit bahkan semakin menyayat luka yang dulunya tak dalam ini. Tapi aku berusaha. mungkin saja kau lupa, tapi aku selalu mengingatnya, mungkin saja kau bahagia tapi aku belum saja sebahagiamu. Tak apa.

Advertisement

Mungkin waktu masih ingin melihatku lebih kuat, bahagialah.. Setiap kali kamu menampakan diri dengan bahagia memamerkan wanita pilihanmu, terkadang aku bahagia, tapi banyaknya rasa aku menangis. Semudah itukah? Mungkin jika saja aku harus bersaing dengan wanitamu, aku akan salah, aku akan kalah. Pilihanmu mungkin tepat. Tapi caramu tidak tepat, melepas ku dengan begitu, lantas bersanding dengan nya sebegitu cepat, sebegitu mudah, karna bagiku ini sangat sulit, sangat rumit, sangat tak bisa aku pahami.

Rasanya logika ini sudah mati begitu saja, semenjak dirimu mencoba melangkah jauh dari titik dimana aku berdiri. Pemahaman arti bahagia telah hilang dimulai saat dirimu menampakan bersanding dengan wanita lain. Bahkan artinya mengikhlaskan pun aku sudah lupa bahkan aku tak tau caranya bagaimana. Maaf!

Aku hanya berharap suatu saat, aku akan bahagia seperti apa yg saat ini dirimu rasakan, cepat atau lambat, semoga secepatnya. Aku pun hanya berharap segala rasa kecewa dan sakit yang dirasakan kini akan segera tergantikan dengan tetesan air mata kebahagiaan meskipun bukan karenamu. Sudah bukan kapasitas ku mencintai mu, sudah bukan menjadi urusanku lagi apa yang menjadi kebutuhanmu. Terimakasih atas cerita indah yang pernah kau tulis di buku cerita hidupku selama bertahun tahun, meskipun akhirnya di tutup dengan nama yang lain, semoga saja banyak hikmah yang terkandung didalamnya.

Aku bersyukur.

Dari sekian banyaknya cara untuk bercerita, aku tetap yang harus mengikhlaskan dan kau adalah pemenang dari segala drama. Berusaha keluar dari lingkaran cerita ini, namun tak mampu. Tetap berdiri disini, menatap yang sudah bukan kepastian untuk dimiliki, melihat yang tak pantas terlihat, menangis yang memang sudah tidak untuk ditangisi kembali.

Ini cerita, jalan nya memang bukan sesuai yang kita mau. Ini kenyataan yang memang dengan ikhkas akan mengurangi sedikit rasa pengakuan ingin dimiliki. Sekali lagi untuk kau yang telah berjalan beriringan dengannya, yang telah menemukan cinta sejati dengan nya. Tolong jangan pernah lupakan, wanita yang pernah kau lukai berdoa untuk kau yang berbahagia. Tidak mengharapkan kau kembali, melainkan hanya mengingatkan.

Cinta yang tulus murni dan utuh jika telah tergores luka dan membekas, akan sembuh dan menjadi baik, tapi untuk rasa dan kepekaan nya tidak akan pernah sembuh seperti sebelum mengenal itu, ya. Itu kau. Aku yang disini menangis,, bahagia lah dengan pilihanmu. Cintaku akan hilang dengan waktu.