Matahari perlahan-lahan mulai ditelan oleh lautan. Gemuruh ombak yang sangat terdengar jelas ditelingaku. Terlihat titik kecil yang berada di tengah laut yang sedikit demi sedikit mulai mendekat dan terlihat. Kapal. Berdiri di hadapan lautan luas saat senja memang selalu aku lakukan setiap sepuluh hari sekali di hari ke sepuluh. Untuk apa? Untuk menunggu kapal yang datang bersama dengan suratku.

Namaku Shinta, 20 tahun, lahir dari keluarga yang sangat sederhana dan tinggal di kampung yang sangat jauh sekali dari kota. Tuuuuutt.. suara kapal itu seolah memecahkan keheningan di sekitar dermaga. Kapal-kapal kecil nelayan mulai menyingkir. Memberi jalan untuk kapal yang sangat besar-di jaman itu.

Pintu kapal pun mulai terbuka, beberpa mobil keluar dari kapal dengan rapi. Penumpang yang tidak sabaran berhamburan menuruni tangga. Berdesak-desakan. Kapal itu pun mulai sepi, namun aku tidak melihat orang yang ku cari.

“Shin” seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh.

“Ini suratmu, dia bilang tunggulah sekitar dua puluh hari lagi”. Seseorang itu berkata sedikit kencang agar suaranya tidak kalah dengan suara ombak, sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat. Aku mengangguk tersenyum, mengucapkan terima kasih lalu pergi meninggalkan dermaga. Dermaga yang memiliki banyak arti. Aku tiba di rumah pukul enam petang lalu bergegas mandi. Aku hanya tinggal bersama ibu di rumah yang lebih pantas di sebut gubuk tua ini.

Advertisement

Selesai mandi aku langsung masuk ke dalam kamar lalu membuka amplop cokelat tadi. Apa kabar? Lama tidak bertemu. Semoga disana kau dan Ibu baik-baik saja. Aku disini baik-baik saja, kau jangan khawatirkan aku. Aku akan pulang sekitar dua puluh hari lagi. Aku takut ketika kita bertemu aku tidak mengenali kau lagi. Aku yakin kau banyak berubah bukan? Setelah tiga tahun tidak bertemu rasanya mustahil kalau kau dan aku tidak berubah sedikitpun. T

unggu aku dua puluh hari lagi, aku tak sabar ingin melihatmu. Sahabat kecilmu, Saka Aku mengusap bulir bening yang mulai membasahi pipi. Terlintas dipikiranku saat kami masih kecil. Teringat saat Saka berusaha melindungiku dari seorang anak laki-laki yang nakal. Mengusap air mataku yang terus menetes. Berusaha menghibur. Jangan menangis lagi Shin, aku tidak akan membiarkanmu terlukai oleh siapapun. Mungkin itu hanya perkataan kosong seorang anak berusia tujuh tahun.

Namun, aku menganggap itu sebuah janji yang telah Saka ucapkan untukku. Aku segera mengambil pulpen dan kertas, untuk membalas surat itu. Setelah membalas surat aku langsung tertidur. Dan bangun ketika terdengar suara ayam berkokok, namun matahari belum terbit. Seperti biasa, aku membatu Ibu mencari mencari ikan karena hanya dari situlah penghasilan kami. Tidak usah khawatir akan besarnya ombak, karena aku dan Ibuku sudah handal dalam menaklukan lautan.

Kami terbiasa dulu, ketika Bapak masih ada dan mulai sangat terbiasa ketika Bapak sudah tiada. Sayang, dahulu Bapak tidak bisa menaklukan ombak setinggi dua meter. Bapak meninggal, bersama hilangnya ombak setinggi dua meter itu. Tak terasa sudah dua puluh hari aku menunggu Saka, dan hari ini aku akan menunggunya di dermaga. Kapal yang kutunggu-tunggu telah tiba bersama dengan besarnya suara klaksonnya.

Tuuuutt.. perahu-perahu kecil mulai menyingkir, memberi jalan. Satu persatu mobil keluar dari kapal, dan penumpang yang terlihat tidak sabaran berhamburan keluar dengan berdesak-desakan. Aku mencari sosok yang aku cari diantara orang yang berdesak-desakkan itu. Sosok itu, aku melihatnya, aku tersenyum kearahnya. Dia segera turun dari tangga kapal menubruk beberapa orang yang menghalangi jalannya, menghampiriku.

“Shinta” sosok itu berkata dengan suara khasnya. Satu kata yang ia ucapka ketika sampai di dermaga yang indah ini. Shinta.

“Saka, apa ka …“ , belum sempat aku membereskan kalimatku Saka langsung memelukku dengan pelukan yang hangat. Sama seperti tiga tahun lalu, ketika aku mengantar Saka yang hendak pergi ke Jakarta. Tak lama, Saka langsung melepaskan pelukkannya lalu memegang pundakku dengan kedua tangannya.

“Apa kabarku? Kau hendak menanyakan itu ketika aku sampai disini? Padahal dua puluh hari yang lalu aku memberitahumu kalau kabarku baik-baik saja. Sekarang, ketika aku sampai kau bahkan menanyakan itu lagi. Apakah kau tidak ingin mengatakan kalau kau rindu padaku setelah tiga tahun tidak bertemu, hah?” Saka mengucapkannya dengan intonasi agak tinggi di akhir kalimatnya.

Saka memang tidak berubah. Rambut ikalnya, bola mata cokelatnya, suara beratnya, itu semua tidak berubah walau sesentipun.

“Baiklah jika memang itu yang ingin kau dengar, aku merindukanmu sangat merindukanmu tiga tahun yang sangat berat untukku lalui tanpamu, sahabatku” Aku mengucapkannya.

“Benarkah? Aku tidak mempercayaimu, sahabatku” ,

“Tak apa jika kau tidak mempercayaiku, tapi sungguh aku sangat merindukanmu. Dermaga ini menjadi saksi apa yang aku lakukan tiga tahun terakhir”. Aku membalasnya dengan wajah cemberut.

Saka mengacak-ngacak rambutku, tersenyum, mengangguk. Aku membawa Saka ke rumahku, meninggalkan dermaga yang sungguh indah dengan matahari yang mulai ditelan lautan. Ibu menyiapkan minuman hangat untuk aku dan Saka. Disaat seperti ini memang sangat pantas membicarakan sesuatu dengan ditemani minuman hangat, wedang jahe.

“Kamu memang tidak berubah sedikitpun Nak, kapan kita terakhir bertemu? Sekitar tiga tahun yang lalu? Ah, itu sungguh waktu yang sangat lama” Ucap Ibu membuka pembicaraan diantara kami. Kami tertawa di keheningan malam.

“Ibu, sebenarnya aku kemari hendak memberikan sesuatu kepada Ibu dan Shinta”. Sesuatu? Sesuatu apa itu? Saka tidak pernah membicarakan sesuatu apapun kepadaku. Saka menyerahkan kertas berbungkus plastik kepada Ibu.

“Ini undangan Ibu, aku akan menikah dua minggu lagi dengan putri bosku, datanglah bersama Shinta, Ibu. Aku sudah membelikan tiket untuk kalian. Kita berangkat besok lusa”. Ucap Saka dengan raut wajah yang amat bahagia. Undangan? Saka tidak pernah memberitahuku bahwa ia sudah memiliki kekasih.

“Shinta, datanglah karena bagaimanapun kau harus menyaksikan sahabatmu ini menikah kan?” Saka berbicara padaku.

“Ya? Eh iya aku pasti akan datang, kau tak perlu khawatir. Tapi kabar ini sungguh mendadak, aku sampai terkejut. Sepertinya tadi jantungku berheti berdetak beberapa detik”. Aku berusaha mencairkan suasana sekalian berusaha menahan agar tidak ada air yang akan membasahi pipiku.

Sekali lagi kami tertawa ditengah keheningan malam, sampai pukul sembilan malam. Waktunya untuk kami beristirahat. Aku menghadiri pesta pernikahan itu, sangat mewah. Mempelai wanitanya pun sangat cantik. Terlihat sahabatku duduk berdua di kursi pelaminan dengan wanita itu, dengan wajah yang sangat senang. Hari ini sahabatku sangat bahagia sekali.

Esoknya aku dan Ibu pulang, setelah berpamitan lalu diantar sampai dermaga. Sepajang jalan sesekali aku meneteskan air mata, Ibu bertanya namun anku menggeleng, berkata kalau aku baik-baik saja. Pukul lima sore kami tiba di dermaga. Langsung menuju rumah, mandi, lalu istirahat. Pukul lima dini hari aku pergi ke dermaga, menangis dihadapan laut lepas, dihadapan maatahari yang mulai mucul perlahan-lahan. Aku mengatakan apa yang aku pendam selama ini. Dermaga, kau menjadi saksi atas apa yang aku lakukan tiga tahun kebelakang. Aku selalu berada disini ketika senja tiba setiap sepuluh hari sekali di hari kesepuluh.

Kali ini, aku ingin kau menjadi saksi lagi. Kau tahu? Sungguh, aku merasa keberatan dengan pernikahan sahabatku. Aku tahu, aku tidak seharusnya seperti ini, namun ketika hati berkata lain aku tidak bisa menutupinya. Kau tahu sahabatku? Kata-kata yang pernah kau ucapkan dulu, memang benar tidak ada orang lain yang melukaiku. Aku sangat tidak menyangka bahwa yang melukaiku itu bukan orang lain, melainkan sahatku sendiri.

Dermaga, kini aku mengetahui apa yang ada didalam hati sahabatku, kini juga aku menyadari bahwa hanya aku yang memiliki rasa, dan kini aku juga percaya bahwa tidak ada persahabatan yang murni diantara lelaki dan perempuan. Aku mencintai sahabatku, hanya itu yang aku tahu. Aku mohon, simpan rahasia ini. Karena tidak ada satupun yang tahu, termasuk Ibu.

Sekali lagi aku mengatakan bahwa dermaga ini, dermaga yang sangat indah dengan matahari yang ditelan lautan dan juga dengan matahari yang dimuntahkan kembali oleh lautan ini, telah menjadi saksi atas apa yang telah aku lakukan untukmu, sahabatku. Sekaligus dengan matahari yang terbit dan tenggelam setiap harinya di dermaga ini.