Cinta dan obsesi ibarat satu keping mata uang yang sangat dekat, bedanya sangat tipis. Ketika engkau mulai mempersilahkan orang lain untuk ikut mengisi dan mewarnai hari-hari dan hidupmu, ketika engkau menghabiskan harimu dengan orang yang mengikrarkan kesetiannya padamu, dan ketika engkau mulai merasa nyaman besamanya, cukup yakinkah engkau itu adalah cinta, bukan perasaan nyaman karena telah terbiasa? Ketika rasa pedulimu terhadapnya membesar tiap harinya, semakin kau takut kehilangan.

Perasaan takut kehilangan yang terus tumbuh, semakin membuatmu ingin memastikan bahwa kaulah yang paling pantas untuknya dan ia akan bahagia bersamamu. Bukankah itu hanya sebuah obsesi? Bukankah itu hanya sebuah rasa ingin memiliki?

Obsesi adalah ketika pemikiran untuk memiliki orang yang engkau cintai melebihi apapun, kau akan melakukan apapun untuk mendapatkannya bahkan dengan cara yang diluar batas. Dengan kata lain obsesi adalah sebuah emosi atau ide atau kehendak yang mengakibatkan perasaan cemas akan kehilangan seseorang atau sesuatu sehingga bisa menyebabkan orang tersebut berbuat sesuatu diluar kendali.

Obsesi berkembang dan terus tumbuh menggerogoti hati dan pikiran dan hanya terbayang bahwa engakaulah satu-satunya orang yang paling pantas menjadi pasangannya. Kau sudah menunggunya, kau sudah berkorban banyak untuknya, kau sudah sangat mengerti dia dan sebagainya.

Sebuah obsesi lahir ketika engkau menginginkan sesuatu yang benar-benar engkau inginkan, lalu dengan bumbu usaha maksimal dan susah payah engkau berhasil mendapatkannya. Terkadang obsesi terlihat seperti berjuang atau sebuah usaha sehingga tak pernah terlintas di pikiranmu pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah orang yang engkau cintai mencintai engkau, atau bagaimana jika orang yang engkau cintai ternyata lebih bahagia bersama dengan yang lain”. Namun apa yang terjadi setelahnya?

Advertisement

Mungkin anda hanya sekedar meletakan dan menyimpanya dalam sebuah lemari kayu dan bisa jadi anda justru hanya tersenyum setelah mendapatkannya lalu anda melupakannya?? Ya, obsesi lahir karena sebuah hasrat yang tinggi namun tanpa ada rasa yang berharga dan berarti setelah engkau mendapatkannya.

“Cinta memang bisa membuat engkau rela menunggu. Tapi.. benarkah, engkau menunggu dengan sabar karena cinta? Dinanti memang membuat engkau merasa tersanjung. Hanya saja, yakinkah engkau bahwa dia memang menanti, bukan sekedar ‘penasaran’?”

Lantas bagaimana dengan cinta?? Ketika engkau mencintai sesuatu, usaha yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan obsesi. Adakah perbedaan antara dua hal itu? Cinta adalah kebalikan dari obsesi, cinta adalah emosi atau ide atau kehendak yang semuanya timbul dari sebuah pemikiran matang. Butuh waktu, butuh proses dan butuh akal sehat tentunya.

Dengan cintalah engkau akan dengan seluruh kelapangan hatimu membiarkan dia yang engkau cintai lebih memilih orang lain yang lebih baik menurutnya, dan itu akan membuatnya lebih bahagia. Cinta itu bukanlah “karena” melainkan “meskipun”.

Aku akan bahagia apapun kebahagiaanmu, jadi jika itu yang terbaik untukmu dan hatimu telah ditetapkan Tuhan untuk lebih memilihnya, pergilah”.

“Aku memang mencintaimu, tapi apa pernah terucap olehku untuk memilikimu, tidak pernah bukan? Karena aku mencoba mencintaimu seperti caraNya mencintaiku. Aku tidak bisa melihatNya namun aku sangat meyakini keberadaanNya bahkan melebihi nafasku itu karena kasih sayangNya yang tak pernah henti untukku.

Begitupun aku mencintaimu aku tidak ada disampingmu tapi yakin aku akan selalu ada untukmu dan akan selalu ada jika suatu saat kau membutuhkanku”.

Sekarang, bagaimana dengan orang-orang yang pernah menyentuh hatimu dan mewarnai harimu walau untuk sesaat? Orang-orang cenderung akan melupakan sesuatu yang mereka sebut "masa lalu". Berusaha sekeras mungkin untuk menghapusnya. Mereka membumbui masa lalu itu dengan sebuah rasa sakit yang akan menyesakkan ketika diingat.

Padahal tanpa disadari, masa lalu itulah yang membuat hatimu yang polos tahu bagaimana rasanya mencintai, menunggu, dinanti, kecewa, dan dikhianati. Kenangan-kenanagn dan orang yang ada di dalamnya berhak mendapat sebuah ruang di hatimu. Bangunlah bilik-bilik kecil di hatimu untuk mereka bergerak.

Dirikanlah sekat-sekat yang memisahkan setiap kenangan-kenangan di masa lalu agar mereka tidak bercampur, agar engkau dapat mengingatnya dengan jelas suatu hari nanti.

Isi bilik-bilik itu tidak saja dengan hal-hal yang membuatmu tertawa, tersenyum dan bahagia. Isi juga mereka dengan kenangan yang pernah membuatmu menangis karena dikecewakan. Jangan berusaha untuk membuangnya, biarkan mereka berkumpul dan bercerita padamu suatu hari ketika engkau menginginkannya, ketika suatu saat engkau merindukan bagaimana rasanya dicintai dan dikecewakan.

”Masa lalu itu adalah sebuah tempat yang indah memang, tapi bukanlah tempat yang baik untuk engkau tinggali.”

Pernahkah seseorang mengutarakan isi hatinya padamu? Seseorang yang namanya tidak pernah terbesit di pikiranmu untuk menemanimu melewati seluk beluk kehidupan. Seseorang yang tidak kau bukakan pintu ketika ia mengetuk hatimu. Bagaimana dengan orang-orang itu?

Engkau pasti tidak akan dengan mudah membuka pintu hatimu apalagi mempersilahkan semua orang untuk masuk. Karena hati itu adalah milikmu seorang, dan begitulah sampai akhir. Engkaulah yang menentukan dimana hatimu akan berhenti, dimana hati itu akan tertambat.

Kepada orang-orang yang tidak sempat merasakan hangatnya ruang hatimu dan yang hanya bisa berdiri di luar, berterima kasihlah kepada mereka. Mereka adalah bagian dari puzzle-puzzle kehidupanmu. Berterima kasihlah atas kesediaannya untuk mencintaimu, berterima kasihlah atas kesediaannya untuk membukakan hatinya untukmu tanpa engkau meminta, berterima kasihlah kepada mereka karena dengan tulus mencintaimu walaupun kau tidak dapat membalasnya.

Jangan terus memaksa mereka untuk segera melupakanmu, cepat-cepat menghapus semua perasaan yang telah ia torehkan. Menghancurkan sesuatu yang telah dibangun dengan sepenuh hati bukanlah hal yang mudah. Biarkanlah mereka untuk sesaat menikmatinya. Jangan melupakan perjuangan-perjuangan dan apa saja yang telah mereka lakukan untukmu.

Letakkan ingatan tentang masa-masa itu di bilik kosong di hatimu dan rawat mereka dengan baik. Kunjungilah bilik itu ketika engkau merasakan sakitnya dikecewakan dan ketika engkau merindukan bagaimana rasanya dicintai. Biarkan kenangan-kenangan itu bercerita padamu bahwa kau pernah dicintai tanpa syarat dan balas.