Sebenarnya saya sudah lama ingin ke Dieng, lebih tepatnya ke daerah dataran tinggi. Sebagai orang yang besarnya di daerah pesisir, saya sudah bosan dengan pantai. Bukannya saya gak mau ke Derawan atau Raja Ampat sih, tapi kalau disuruh membuat list tempat yang ingin saya kunjungi dalam waktu dekat, maka pantai-pantai akan masuk ke nomor sekian. Saya lebih senang ke daerah dataran tinggi atau air terjun karena saya memang jarang sekali bisa melihat yang begitu.

Berhubung saya hanya libur saat weekend, maka saya ogah repot dan memakai tour open trip saja di mana kita digabung dengan beberapa orang gak dikenal yang tujuannya juga sama, jadi biaya transport dan akomodasi bisa ditekan. Kebetulan open trip tour begini memang lagi ngetrend beberapa tahun belakangan dengan bertambahnya orang yang hobi travelling.

Karena saya tanya sana-sini gak ada yang mau ikutan pergi, maka baiklah saya pergi sendiri saja. Well, ini pertama kalinya saya travelling sendirian. Ya gak sendirian juga sih, kan open trip.

Meeting point di Plaza Semanggi dan rupanya Plaza Semanggi ini meeting point favorit untuk open trip. Hampir semua website tour yang saya buka menyebutkan meeting point di sini. Karena dekat dengan pintu tol mungkin? Perjalanan darat dengan naik elf sebanyak 14 orang dari jam 20.00 dan langsung dihadang kemacetan di depan Plaza Semanggi. Endingnya saya tidur setelah menenggak antimo dan hanya bangun tiap rest area saja.

Setelah tiba di homestay pukul 9 pagi lalu meletakkan barang dan makan, perjalanan dilanjutkan ke tujuan pertama yaitu Kawah Sikidang. Sebenarnya saya pengen ke kawah Candradimuka yang konon merupakan tempat kelahiran Gatotkaca dan Wisanggeni. Dalam versi Jawa, perang besar Mahabharata diceritakan terjadi di dataran tinggi Dieng dan Dieng adalah tempat bersemayamnya para dewa dewi. Karena kawah Candradimuka kurang populer dan tidak termasuk dalam paket, apa boleh buat saya tidak mengunjunginya. Mungkin lain waktu πŸ™

Advertisement

Kawah Sikidang sendiri punya legenda mengenai Pangeran Kidang yang menjadi asal muasal nama Sikidang. Pangeran Kidang merupakan manusia berkepala kijang melamar Ratu Shinta Dewi yang tersohor kecantikannya. Ratu Shinta yang tidak mau punya suami berkepala kijang memberi syarat Pangeran Kidang harus menggalikan sumur yang besar dan dalam. Saat Pangeran Kidang sedang menggali, Ratu Shinta memerintahkan pengawalnya mengubur hidup-hidup Pangeran Kidang yang sedang berada di dalam sumur. Pangeran Kidang yang mengerahkan kesaktiannya berusaha keluar dan membuat letupan kawah yang diberi nama Kawah Sikidang. Ya ampun, kasian banget ya Pangeran Kidang udah kena PHP masih kena percobaan pembunuhan lagi πŸ™

Uniknya Kawah Sikidang ini adalah kawahnya bisa berpindah. Dulu lokasi kawah utamanya di dekat pintu masuk, lalu suatu hari meletus di ujung kompleks dan terbentu kawah utama baru di sana. Yeah, mungkin Pangeran Kidang masih berusaha keluar dari dalam tanah?

Btw, siapkan masker saat berkunjung ke sini. Bau belerangnya sangat menyengat. Dari pintu masuk berjarak 500an meter dari kawah utama saja bau belerang yang seperti telor busuk sudah tercium. Katanya sih belerang bisa menghaluskan kulit dan menghilangkan jerawat, makanya banyak penjual batu belerang di sana. Tapi jangan gosokin batunya ke muka, lho! Diendapkan di air dan cuci muka dengan air endapan batu belerang itu maksudnya πŸ˜€

Mau coba makan telor yang direbus di kawah? Di sini juga bisa! Tapi saya gak nyoba karena rebusnya lama, sekitar 15 menitan. Kawah utama Sikidang berasap pekat dan berbau menusuk dengan pagar bambu di sekelilingnya. Saat browsing, saya menemukan ada cerita tentang wisatawan yang bandel meloncati pagar bambu untuk mengambil foto kawah dari jarak dekat. Tanpa sengaja, kakinya terperosok dalam kawah panas. Hanya dalam beberapa detik kecebur, kakinya langsung meleleh tinggal tulang saja. Buset, seram ya!

Setelah dari Kawah Sikidang, perjalanan dilanjutkan ke Batu Pandang Ratapan Angin. Untunglah namanya bukan Ratapan Anak Tiri. Batu Pandang Ratapan Angin ini memiliki posisi yang sangat tinggi dan dari posisinya ini adalah spot terbaik untuk bisa melihat pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang bertetangga. Kalau sudah malas turun jalan kaki, ada flying fox untuk yang ingin coba terbang dari Batu Pandang sampai ke parkiran bawah πŸ˜€

Turun dari Batu Ratapan Angin memasuki kompleks Telaga Warna, gerimis mulai turun. Telaga Warna sekompleks dengan Telaga Pengilon, Goa Semar, Goa Jaran, Goa Pengantin, dan Goa Sumur. Berhubung goa-goa tersebut dikunci dan perlu juru kunci untuk masuk, maka kami hanya numpang lewat saja di depan goa-goa tersebut.

Telaga Warna berair kehijauan dengan jalan setapak yang sudah diconblock mengelilinginya hingga ke Telaga Pengilon dan kompleks goa-goa. Telaga Warna lumayan luas dan bagian ujungnya serupa pantai denagn pasir kusam. Yang menarik dari Telaga Warna adalah legendanya bahwa telaga tersebut terbentuk dari perhiasan yang dibanting oleh seorang putri yang sombong. Saat dibanting, lokasi tempat perhiasan tersebut langsung banjir hingga membentuk Telaga Warna.

Btw, sebenarnya saya pengen ke Telaga Pengilon tapi gak keburu karena hujan. Mitosnya, telaga ini akan menampakkan isi hati seseorang. Jika orang yang bercermin di air telaga ini baik hatinya, maka bayangannya akan terlihat cakep. Tapi kalau isi hatinya buruk, maka bayangannya akan buruk rupa. Pengen tahu aja sih kayak apa muka saya di sana. tapi hujan-hujan ya gak bisa bercermin…

Keesokan harinya, jadwalnya adalah trekking Bukit Sikunir untuk melihat sunrise. Dan saya gagal naik gara-gara gak kuat, udah thalassemia minor ditambah rupanya saya lagi kedatangan tamu bulanan pada hari itu. Alhasil, saya naik 1 menit kemudian istirahat 3 menit. Bisa-bisa saya baru sampai besoknya! Di titik sekitar 400 meter dari 800 meter menuju puncak, akhirnya saya nyerah dan balik turun sendiri ke parkiran lalu ngeteh saja. Kebetulan ada seorang mas-mas yang gagal naik juga, jadi saya ngobrol dengannya deh. Dan si mas ini cerita dia acara outing kantor dengan naik motor dari Bekasi! Yaelah, naik elf aja udah capek, apalagi naik motor.

Dan ternyata ada bagusnya juga saya gak memaksakan diri untuk naik. Karena mendung, sunrise jadi gak keluar. Wah, pasti sebel setengah mati deh kalau maksa naik dan ternyata gagal liat sunrise, untunglah saya gagal naik dari awal ya #fiuuhh

Karena hujan juga, kunjungan ke kompleks Candi Arjuna gagal. Ya apa yang mau dilihat dan difoto kalau hujan-hujan? Baiklah, yang berikutnya saya ke sana harus berhasil naik ke puncak Sikunir lalu ke Kompleks Candi Arjuna dan Telaga Pengilon! πŸ˜€ #IniPlesirku