Ah, membahas perkara pasangan hidup memang nggak bakalan ada habisnya. Seakan-akan banyak banget poin yang harus kita bahas satu per satu. Apalagi tentang jodoh, jangankan siapa, kadang wujudnya pun tak tahu seperti apa.

Gara-gara kosakata ‘jodoh’ ini nih, kosakata ‘dijodohin’ akhirnya mencuat ke permukaan. Malah, bagi sebagian orang, ‘dijodohin’ tentu lebih seram dari semua film horor yang ada di muka bumi.

Kenapa bisa begitu?

Sebab, memilih pasangan hidup itu nggak kayak milih durian di Pasar Impres. Luarnya oke, keliatannya matang, manis-manis menggemaskan, kelar. Nggak banget, serius.

Sialnya, kalau jodoh cuma ditungguin aja nih, malah berasa kayak nunggu becak di Gunung Sinabung. Ah, jodoh, kamu memang suka bikin kita jadi serba salah, kan.

Advertisement

Akhirnya kamu lebih milih buat dijodohin. Why this hell going too fast?

Guys, hampir di penghujung 2016 kamu masih dijodohin? Syukur kalo calon pasangan kamu benar-benar macth sama kamu. Lha, kalau nggak?

Walaupun kenyataannya banyak yang korban pisah ranjang karena ternyata pilihan sendiri nggak ada cocok-cocoknya. Hal ini harusnya nggak membuat kamu putus asa sama pilihan kamu sendiri. Semuanya balik lagi ke kamu, kamu harus yakin pilihan kamu memang yang terbaik buat kamu.

Agar kamu tahu kamu cocok atau nggak sama si dia, pastikan kamu benar-benar mengenal si dia luar dalam. Maksudnya nih, kamu kenal dia nggak cuma sekedar ‘dia baik, kok.’ Semua orang bisa akting baik loh. Pernah denger kalimat ‘cuma teman yang bisa naruh racun di kopimu?’ Orang-orang yang kamu kira baik, nggak selamanya mereka benar-benar baik sama kamu. Tapi bukan artinya kamu harus curiga sama semua orang yang baik sama kamu, ya.

Kecenya, eh ternyata selera orang tua kamu bersilangan sama selera kamu. Kalau sudah begini nih, serius biasanya repot banget. Rasa takut yang menghantui kamu makin menjadi-jadi, kan? Takutnya orang tua malah nggak nerima dia di keluarga kamu, inilah, itulah, atau semacamnya. Jelas ini bukan suatu lowongan kamu untuk bunuh diri, ya.

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah duduk. Ya ampun, saran macam apa ini? Tenang, kita belum selesai. Kalau di sekolah kamu malas banget buat mikir, sekarang kamu wajib mikir keras. Ujian masuk PTN? Kalah. Ini ujian hidup, kawan.

Pikir baik-baik. Apa kamu milih dia karena memang dia pantas buat jadi orang tua anak-anak kamu di masa depan? Apa kamu yakin dia bukan pemarah yang suka terpancing emosinya? Apa dia bisa ngejaga sikapnya? Acuh tak acuh? Atau yang bagaimana? Dan jangan lupa untuk mempertimbangkan pilihan orang tua kamu. Buang semua ego kamu tentang cinta. Makan cinta doang nggak bakal bikin jaminan kamu bisa hidup bahagia sampe tua.

Kalau pilihan kamu adalah orang yang pantas menurut kamu. Ia bisa jadi kekasih sekaligus sahabat sampai Tuhan yang memisahkan kalian. Buat perjanjian sama orang tua kamu. Yakinkan mereka bahwa kamu punya pilihan sendiri. Yakinkan juga kalau yang bakal ngejalanin kisah njelimet itu kamu, bukan mereka.

Tapi yang namanya hidup memang nggak semudah kata-kata motivator. Apalagi kalau orang tua kamu korban film-film yang salah pemahaman. Keinginan untuk memberikan yang terbaik buat anak kesayangan kadang emang romantis, tapi kadang kalau romantisnya berlebihan bisa-bisa jadi bahaya besar.

Bebaskan diri kamu dari sistem perjodohan yang nggak kamu banget. Kalau perlu, beri orang tua kamu artikel generasi X, Y, Z, dan millenium. Lalu, tepuk bahu mereka sambil bilang, ‘Pa, Ma, sungguh, kita berada pada generasi yang berbeda.’

Atau orang tua kamu bukan tipe yang mempan di ajak adegan cool kayak yang di atas?

Di sinilah akhirnya kamu akan tau kalau hidup nggak semudah film Korea dan nggak sedramatis film India. Putar otak kamu, pikir. Pastikan jodoh kamu adalah orang yang bisa kamu jadikan rumah untuk pulang. Sebab, tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan bukan main drama.