Membuka pagi haruslah diawali dengan bersyukur karena kita masih bisa bernafas dengan gratis dan tidak perlu membayar satu sen pun, apalagi sambil melihat meja makan serta kudapannya yang tersaji. Saya biasa mengawalinya dengan susu, sesekali kopi meski bukan yang hitam.

Namun pagi itu, dalam kurun waktu yang tak terlalu lampau, menjadi pagi yang berbeda. Saya membaca berita mengenai tutupnya sebuah toko ritel CD yang sudah berdiri sejak tahun 1986. Ya Anda benar, saya bicara tentang Disc Tarra.

Dilansir dari detik.com, diberitakan sekitar 40 dari 100 outlet Disc Tarra ditutup sejak November. Puncaknya, per 31 Desember, tutup secara nasional. Sebelumnya sempat ada pernyataan dari pihak Disc Tarra, bahwa mereka masih akan jalan hingga setidaknya awal 2016. Mengamati bak seorang peneliti: mungkin kesemuanya bisa berpendapat, multitafsir, belum bisa dikatakan bernas. Toh yang diberitakan juga masih diam seribu bahasa, termasuk saya yang mencoba menganalisa mengenai persoalan ini. Tidak hanya musik, namun semua lini saat ini memang mengalami pergeseran.

Peradaban manusia sudah jelas berubah. Jika melihat kembali pada tren fashion, teknologi, musik, termasuk ideologi dan elemen lainnya pada kaum masyarakat urban kontemporer, kita melihat fenomena dunia digital kini sudah merambah dalam pelbagai sektor. Ia seperti agitator yang sudah mewabah, mulai membaca majalah, pesan makanan, sampai memanggil ojek. Hal ini menjadi realitas untuk sekarang, hingga (mungkin) kedepannya.

Ada jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas pada Agustus 2015 lalu. Tercatat hanya 1% dari 734 responden yang mengaku masih mendengarkan musik lewat perangkat pemutar kaset atau CD. Sementara itu, data lain dari organisasi industri rekaman dunia International Federation of Phonographic Industry (IFPI) menyebutkan 46% pendapatan industri musik secara global pada 2014 sudah dikuasai rekaman musik digital, rekaman musik fisik sebesar 46%, dan 8% sisanya dari pertunjukan dan sinkronisasi (iklan, film, games, program TV).

Advertisement

Pembajakan dan Agitator Digital.

Merajalelanya pembajakan di dalam dunia musik juga berimbas kencang terhadap dunia musik itu sendiri; terbukti mulai dari musisinya yang dirugikan, dan label rekaman pun ikut kena imbasnya. Disc Tarra yang saya, kamu, atau kita kenal sebagai tempat ritel menjual CD dan kaset pada zamannya, kini gulung tikar. Sebelumnya, label besar sekelas Aquarius pun mesti kolaps pada 2013 akibat tergerus situasi yang berubah dari waktu ke waktu.

Pembajakan menjadi musuh bebuyutan di dunia musik, dan tak pernah tuntas sampai ke akar-akarnya, yaitu hanya berada pada kulit lapisan luar. Ditambah era saat ini, para pelaku indutri musik juga berlaku sistem DIY (Do It Yourself), kita melihat sudah banyak label-label rekaman yang merilis hanya band-band indie saja, bahkan dari artis mainstream sendiri juga memproduksi album dari anak asuhannya maupun artis lain. Nah tambah ribet kan berarti. Bedanya indie sama mainstream itu apa sih? Saya sempat bertanya pada salah satu personil White Shoes and the Couples Company, indie sendiri itu artinya independen, yaitu semuanya dikerjakan serba sendiri. Mereka bisa buat jadwal sendiri, tur, ataupun rekaman. Jika penikmat suka dan penjualannya bagus, hal ini hanya akan menjadi nilai tambahannya. Sedangkan musisi mainstream, kendalanya mesti mengikuti jadwal interview promo, mesti ini dan itu, serta berbicara mengenai jumlah dana yang besar. Kehidupan sebagai musisi nyatanya bukan hanya punya si pemain band saja, tapi juga label rekaman sampai masyarakat.

Singkat kata, kini era sudah berubah. Kehidupan memang ambigu, termasuk para manusia yang hidup didalamnya. Kita bisa saja berteriak atau koar-koar mengenai tutupnya toko CD yang kita kenal akrab tersebut, namun label indie masih bertahan di tengah kebisingannya. Hal tersebut menjadi sebuah enigma panjang, kalau para pelaku musik maupun label rekamannya tidak berbenah diri, bisa-bisa bernasib sama dengan yang sudah-sudah.