Kalo gue bicara soal agama, konteksnya akan terlalu sempit, belum lagi pasti gue akan mendapat caci maki, omelan yang berlimpah dari mereka yang sensitif soal SARA. But, it’s not about religion, it’s about what you believe in, karena pada dasarnya setiap dari kita terbentuk dari kasih sayang yang benar.

Setiap orang yang berkeyakinan pasti pernah melakukan aktivitas ini, yep, ‘doa’! Gue nggak akan bicara soal apa dan bagaimana doa itu dilakukan, karena setiap orang yang punya keyakinan pasti punya cara berdoanya masing-masing. Kita juga tahu bahwa setiap keyakinan punya waktu doanya masing-masing. Ada yang pagi, siang, malam, tengah malam, bahkan dini hari, atau mungkin bias saja sepanjang waktu. Namun, pernah nggak sih kalian memaknai waktu-waktu tersebut ketika berdoa?

Sederhana saja, misalnya, kenapa kalian harus berdoa di pagi atau siang hari, atau kenapa ketika mau tidur juga harus berdoa. Aktivitas doa ini akan terekam jelas di otak kita dan akan menjadi aktivitas rutin dalam kehidupan sehari-hari, semacam kewajiban yang harus dilakukan. Kalo ada yang miss satu waktu, maka akan langsung merasa nggak enak, merasa bersalah, ada yang kurang, dan sebagainya.

Tapi, tahukah kalian bahwa doa itu bukan soal kewajiban, melainkan kebutuhan setiap orang. Kita percaya pada Sang Pemberi Hidup, kita percaya pada Yang Empunya Langit dan Bumi, bahkan kita pun juga percaya pada Kekuatan Alam Semesta. Relasi yang kita bangun tahap demi tahap kepada-Nya, memampukan mulut kita untuk terus berinteraksi dan berdiskusi kepada-Nya.

Sedikit sharing dari gue untuk kita yang masih menganggap doa hanya sebatas kata atau kewajiban:

Advertisement

Pagi ini gue membaca sebuah pesan singkat. Pesan itu berjudul “Kenapa kita harus berdoa pagi hari?” Sontak, gue langsung menjawab dalam hati karena gue mau bersyukur dan minta sesuatu. Ternyata, isi dari pesan tersebut lebih menarik dan bermakna dari jawaban gue.

Kenapa kita harus berdoa di pagi hari?

– Berdoa di pagi hari sangatlah penting, karena kita bertemu dengan-Nya sebelum bertemu setan.

– Kita bertemu Dia sebelum kita bertemu dengan sekeliling kita.

– Kita bicara pada-Nya, sebelum kita bicara pada orang lain.

– Kita bersahabat dengan-Nya, sebelum bersahabat dengan yang lainnya.

– Kita mendengar suara-Nya sebelum mendengar suara lainnya.

– Kita mendengar berita dari surga, sebelum mendengar berita lainnya.

– Kita duduk di sebelah Dia, sebelum kita duduk di sebelah orang lain.

– Kita menghormati-Nya, sebelum menghormati yang lainnya.

– Kita bernyanyi bagi-Nya, sebelum kita mendengar suara musik lainnya.

Sederhana, bukan?

Gue percaya bahwa setiap orang yang beragama ataupun sekedar berkeyakinan pernah melewatkan hal ini. Pun termasuk gue. Kadang kita berdoa hanya sebatas kewajiban atau jika emang ada maunya. Di tengah kesibukan kantor atau ngampus, saat kita menjelma menjadi robot-robot negeri atau swasta, kadang kita lupa untuk melakukan hal kecil ini.

Ini cuma keresahan gue, dan gue ingin berbagi keresahan ini dengan kalian. Semoga kalian nggak resah-resah amat ya!