Kisah yang telah kita mulai 365 hari yang lalu kini tinggal cerita. Aku dan kamu telah terpisah dalam peraduan yang berbeda. Maaf tak lagi bisa merubah segalanya. Hasrat mencintamu telah hilang tak berbekas.

Rasamu kini masih tertinggal dan enggan untuk pergi. Sekuat apapun aku berlari, sekuat itu pula kamu mampu menarikku kembali. Sudah aku lakukan, membencimu tanpa sebab dan bahkan membabi buta. Tapi sayangnya cinta semakin besar.

“Barangkali tidak ada bukti cinta paling indah di dunia kecuali menyebutkan nama mereka yang kita cinta dalam doa-doa kita yang sederhana.” (Fahd Djibran)

Ragamu tak lagi bisa ku sentuh. Hatimu tak lagi dapat ku raih. Sampai pada puncaknya aku merasa Tuhan tak mendengar doa-doaku lagi.

Terakhir yang ku ingat, samangat yang akan selalu membekas. Syair hati saat kau pergi berkata, "Cintai aku dalam doa." Aku lakukan. Tapi semakin kuat doa itu aku lantunkan, semakin jauh ragamu ku rasakan. Entah apa rencana Tuhan saat tanganku lelah memintamu kembali, Tuhan malah hadirkan sosokmu sebagai pelipur lara. Semakin besar pertanyaanku, sebenarnya ada apa dengan Tuhan? Apa Tuhan mendengar doa-doaku? Tapi itu lah Tuhan selalu punya rencana yang tak terduga untuk umat-Nya.

Advertisement

"Tuhan tidak pernah menutup mata akan doa hamba-Nya, hanya saja Tuhan punya rencana yang tepat untuk mengabulkannya."

Lalu hatiku bertanya, lantas untuk siapa doamu? Untuk aku kah? Entahlah, aku hanya mengira tak satupun lirik dalam doamu yang menyebut namaku. Apakah untuk dia? Aku tidak bisa menjawab teka teki yang teramat rahasia antara engkau dan Tuhan. Selamanya ini akan jadi rahasia cintamu.

"Aku akan tetap dengan doaku dan kamu akan tetap dengan doamu, biar Tuhan yang menyatukannya."

Pesanku tetaplah berjalan pada koridor doamu sayang. Mantapkanlah kayakinanmu. Jika kamu lelah, berhentilah jangan kamu kejar lagi. Harga dirimu takkan pernah ternilai. Biarkan dia pergi dengan keyakinannya sendiri. Pada saatnya nanti ia sadar bahwa telah meninggalkan bunga yang indah dan siap untuk dipetik orang lain.