“Dan manusia berdo’a untuk kejelekan sebagaimana ia berdo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.“ (QS. Al Isra’: 11).

Kata Penciptaku di kitab-Nya, manusia memang makhluk yang suka tergesa-gesa. Sukanya menyegerakan sesuatu yang belum saatnya, trus mereka mutung, pundung, nesu, ngambek. Apalagi, kata-Nya manusia itu juga hobi berdo’a yang jelek-jelek gara-gara nggak sabaran. Hayo siapa yang pernah do'a begini, “Ya Tuhan, semoga Pak Dosen X mendapat balasannya, masa skripsiku dari jaman AADC 1 sampe AADC 2 mau keluar nggak kelar-kelar.”

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Mungkin manusia tidak suka sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Tapi ayat di atas menjawab ketidaksenangan itu. Mungkin kamu pengen lulus tahun ini tapi karena dosen yang perfeksionis, menejemen waktumu yang berantakan, dan topik skripsi yang-masih-baru-belum-ada-contohnya-dari-kakak-tingkat membuatmu belum lulus-lulus *duh dek.

Terus kamu sebel, menghujat dosen, nggak mau ngobrol sama temen-temen dan keluarga gara-gara takut ditanyain tentang wisuda, mending kalau bikin buku tentang pengalaman nggak lulus-lulus trus jadi terkenal, lha kalau jadi males berdo'a gara-gara merasa do'a nggak ada gunanya, kan tsadeesst.

Advertisement

Ingat, Dia yang lebih tahu, komandan. Jika dunia ini diibaratkan sebuah pabrik, dan manusia itu produknya, maka Tuhan itu inventornya. Jelas kan berarti, Dia itu ngerti banget tentang kita daripada kita sendiri. Subhanallah. Manusia hanya bisa melihat apa yang dilihat dari kedua matanya. Yang tidak terlihat ya tidak dipercaya. Naudzubillah. Jangan sampai. Di surat Al Baqarah ayat ketiga jg disebutkan, muslim itu mereka yang percaya dengan hal ghaib atau hal-hal yang kasat mata.

Mereka bisa bilang mereka percaya kepada adanya Allah (yang tentu saja Dzat Mulia yang tidak bisa mereka lihat), mereka juga bisa bilang mereka percaya adanya makhluk halus (yang mana hanya sebagian manusia saja yang bisa melihatnya), tapi coba pikirkan, sedikit sekali mereka yang percaya ‘masa depan yang dipilihkan Tuhan mereka.’ Trus mereka khawatir berlebihan berkepanjangan dengan masa depan yang ghaib, masa depan yang tidak bisa mereka lihat ini.

Padahal syaratnya gampang loh untuk mencapai masa depan yang kita inginkan, kan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (Q.S. Ar Ra’d:11)

Dari ayat di atas, berarti untuk mengubah nasib kita yang sekarang, kita harus mengubah diri kita sendiri dulu. Kalau nggak mau skripsinya stuck di bab 4 terus, berarti kita harus belajar lebih keras lagi untuk memenuhi permintaan revisi dosen kan? (*it’s not my personal experience or is it?) :p

Nah, kalau sudah mengubah diri, tapi nasib tetep belum berubah sesuai keinginanmu piye?

Ya sabar atulah, serahkan semuanya pada Allah, let Him do the Rest, hooman 🙂

Pertama, ingat, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya (Q.S. Al Baqarah: 286), kalian dinilai mampu loh buat ngerjain ujian kehidupan yang ini. Kedua, ingat juga, Allah selalu mengabulkan doa hambanya (Q.S. Al Mukmin: 60), jangan putus asa berdo'a. Doa Nabi Ayub as. saja waktu beliau meminta kesembuhan dari penyakitnya baru terkabul setelah 7 tahun, kamu do'a udah berapa lama?

Nah yang ketiga, ingat, kalau belum terkabul, jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu (Q.S. Al Baqarah: 153), mungkin Allah merasa waktu dan keadaannya belum tepat untuk mengabulkan doamu.

Yang terakhir, ingat, kalau memang tidak terkabul, mungkin bagi Allah ini yang terbaik, yang mungkin hikmahnya baru terasa di masa depan, yang tidak bisa kalian lihat sekarang. Jadi, tetep sabarrrrr.

Ini bukan cuma masalah skripsi, tapi masalah apapun, termasuk jodoh. Tetap semangat menunggu, ya! :p