Semuanya terjadi secara alami tanpa bisa kutahan, cuma bisa tetap tenang ketika perasaan itu datang, “dumba-dumba” perasaan aneh yang selalu saja menyerang ketika melihatnya. Manusiawi memang bahkan Zainuddin pun merasakaanya ketika ia pertama kali melihat Hayati. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan perasaan semacam ini,

perasaan di mana jantung berdegub lebih kencang dari biasanya, nafas terasa sesak, bahkan kaki terasa gemetar,

terakhir aku merasakannya itu karena lupa makan 1 hari. Ckckck

Sering kupandangi dia dari jauh, mencuri pandang, mengintip indahnya surga di bola matanya, senyumnya yang menggugah hati, rasanya ingin menafkahi. Ketika ia lewat ingin rasanya menyapa “hei , gadis manis tanpa pensil alis” Namun ahh aku terlalu terpaku dengan keindahan senyum itu, senyum yang cuma dua detik tapi bikin baper dua hari. Mungkin ibunya dulu ngidamnya kembang gula, atau mungkin ngemilnya tebu tiap hari, atau mungkin madu?

Entahlah yang jelasnya aku yakin ibunya dulu ngidamnya bukan batu tawas. Sungguh senyum yang bukan sekedar indah tapi juga menyehatkan *eeaaaaaaa

Advertisement

Dia sudah punya pasangan atau belum bagiku itu tidak penting, yang penting aku masih bisa menikmati senyumnya meski dari kejauhan, sering terfikir untuk mencoba mendekat sekedar basa-basi menanyakan kabar dan melemparkan batu candaan, tapi kaki ini rasanya terlalu berat untuk melangkah, rasa tidak pantas bersanding dengannya seakan mematok kaki ini sehingga tak bisa melangkah.

Sering terfikir juga apa dia memiliki perasaan yang sama denganku, mungkinkah kita saling memendam rasa yang sama tapi enggan bertegur sapa.

Nyesek? Iya

Menyesal? Kadang-kadang, ketika bertemu dengannya namun berlalu begitu saja tanpa satu kata yang terucap yang terasa hanya “dumba-dumba”

“Jika mecintaimu adalah suatu kesalahan, maka bagiku kesalahan itu adalah kebenaran” konyol memang, tapi itulah hidup. Banyak hal di dunia ini yang sukar untuk dijabarkan padahal dia jelas terasa. Karena di dunia ini kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, tapi kita bisa memilih membiarkan rasa cinta itu tetap ada atau dihilangkan, dan aku memilih membiarkan rasa ini tetap ada sampai waktu menghentikannya. *tsahhhhhhhhh

Jodoh tidak ada yang tau, biarkan itu jadi rahasia-Nya kita cukup meyakini bahwa pasangan kita adalah cerminan diri kita,

laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik bukan laki-laki yang baik untuk laki-laki yang baik. Semoga aku dan kamu suatu saat menjadi kita, kamu yang sering buat aku “dumba-dumba”.