Bagi banyak orang, pekerjaan menjadi marketing adalah pekerjaan yang paling dihindari. Pekerjan yang selalu berorientasi dengan target yang bertambah setiap bulannya, tekanan dari perusahaan yang tak kalah menyesakkan selalu sukses membuat seseorang yang bekerja sebagai marketing mengalami debar jantung yang nggak karuan (papasan sama gebetan nggak ada apa-apanya). Bahkan galaunya jomblo masih kalah kalau mau dibandingkan sama galaunya marketing yang tiap bulan harus achieve target.

Di balik semua kehebohan yang terjadi, sudah jadi rahasia umum kalau posisi sebagai marketing adalah posisi yang punya penghasilan ganda (tanpa perlu bantuan dari Kanjeng Dimas). Selain itu, marketing adalah posisi yang paling krusial dalam sebuah perusahaan. Tanpa marketing, sebuah perusahaan bagaikan butiran debu. Dan hal itu bisa jadi suatu kebanggaan tersendiri untuk seseorang yang memutuskan bekerja sebagai marketing.

Namun tak banyak orang yang tau, bahwa menjadi seorang marketing bukan hanya sekedar target yang tinggi dan bonus yang melimpah. Lebih dari itu, seorang marketing mengalami banyak hal yang membuatnya sadar dan lebih menghargai arti sebuah hidup. Seorang marketing harus tau bagaimana caranya mengendalikan sebuah ego demi klien. Ini bukan bualan semata, karena dilema marketing terjadi pada saat harus mewujudkan mimpi perusahaan dan juga mimpi klien. Seorang marketing harus bisa menjaga suasana hatinya, tak peduli seburuk apapun suasana hati saat itu, seorang marketing harus bisa tetap tersenyum dan profesional menanggapi setiap keinginan dari klien.

Marketing dituntut kreatif, harus berpikir keras bagaimana produk yang dia pasarkan terjual semua tanpa tersisa. Gengsi sudah sampai tak peduli, yang penting semua berjalan sesuai rencana. Dia juga harus punya seribu jurus ampuh bagaimana mencapai targetnya, jika cara pertama gagal harus cari cara yang lainnya. Belum lagi jika tiba-tiba klien marah-marah karena merasa tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Seorang marketing harus meredam nafsunya agar semua kembali aman terkendali.

Dan mungkin ini adalah hal yang paling luar biasa yang jarang ditemui di beberapa posisi dalam sebuah perusahaan adalah sebuah keajaiban. Seorang marketing pasti pernah mengalami posisi di mana dia sudah putus asa, merasa tak mampu untuk mencapai targetnya. Bahkan mungkin sudah mencapai di posisi pasrah kalau harus hengkang dari perusahaan karena tak memenuhi target yang diminta perusahaan. Ternyata di sanalah sebuah keajaiban terjadi, kuasa Tuhan bekerja, hal yang dirasa tak mungkin nyatanya menjadi mungkin.

Advertisement

It always seems impossible until its done

Seorang marketing percaya bahwa kekuatan doa dan usaha adalah rumus yang paling sempurna untuk mencapai segala hal yang kita inginkan. Karena Tuhan selalu menyukai sebuah proses, dan hasil takkan mengkhianati proses. Percaya bahwa Tuhan takkan pernah ingkar janji, dan selalu ada bersama orang-orang yang percaya pada-Nya.

Dari semua hal yang dialaminya seorang marketing belajar banyak hal, bukan hanya sekedar target dan komisi, lebih dari itu dari lubuk hati yang paling dalam seorang marketing ingin sekali produk yang ditawarkan dapat membantu konsumennya. Senyuman dan kepuasan mereka adalah kebahagiaan yang tak terhingga, yang mungkin melebihi berapapun banyak uang yang mereka terima. Marketing itu bukan sebanyak apa kau bisa menjual, tapi sebanyak apa kau bisa membantu mereka dengan produk yang ditawarkan. Berharap pekerjaan yang terasa berat menjadi lebih ringan dengan kepuasan dari mereka yang merasa terbantu oleh produk yang mereka beli.

Hal yang tak kalah membuat tersenyum adalah seorang marketing bisa lebih menghargai kehidupan, karena merasakan lelahnya bekerja, pusingnya membuat sebuah ide, dan patah hati saat klien protes. Belajar bahwa kau harus memposisikan orang lain berada di posisimu. Jika kau tak suka dengan perbuatan itu, maka jangan lakukan itu kepada orang lain. Sebuah pekerjaan yang tak hanya memberimu penghasilan, tapi juga menempa mental dan membentuk kedewasaan dirimu.

Jika ternyata target masih tak tercapai padahal segala hal sudah dilakukan, dan mungkin sampai berdarah-darah. Bagi seorang marketing itu adalah sebuah pesan, bahwa Tuhan selalu lebih tau apa yang kita butuhkan dan yang terbaik untuk kita. Setidaknya kita tidak menjadi pecundang yang terlalu pasrah dengan keadaan dan kalah sebelum berperang.

Terakhir, untuk teman-teman yang saat ini bekerja sebagai seorang marketing. Ada sedikit pesan untukmu, agar kembali semangat untuk berjuang:

Seringkali Tuhan berkendak di detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hamba-Nya. Lakukan bagian kita, lakukan yang terbaik semaksimal mungkin dan biarkan Tuhan yang mengerjakan bagian-nya.