Sebuah idigium pernah mengatakan “seorang yang mampu mengendalikan media, maka ia dapat mengendalikan pikiran orang lain”. Ketika Anda menyaksikan acara televisi pada saat ini apa yang ada dipikran Anda? Bagaimana pendapat Anda mengenai media layar kaca sekaligus frekuensi publik tersebut? Apakah tindakan Anda selanjutnya setelah melihat tayangan-tayangan yang ditampilkan?

Ketika Anda berpikir bahwa seluruh program acara yang ditampilkan ditelevisi itu benar-benar nyata sesuai dengan kehidupan sehari-hari maka secara tak langsung pikiran Anda telah terpengaruh oleh perkembangan media massa salah satunya televisi. Itulah yang dinamakan dengan teknik teori kultivasi.

Fungsi pokok dari media massa sendiri yakni sebagai informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan kebudayaan. Pada hakikatnya tayangan televisi berawal atas dasar ide-ide cemerlang seorang pengarah program acara. Berbicara mengenai fungsi televisi sendiri sebagai frekuensi publik seiring dengan perkembangan zaman banyak sekali para penguasa serta pemilik modal yang memanfaatkan media yang seharusnya milik publik ini sebagai alat kepentingan politik dan ekonomi.

Pada era modern kini televisi yang seharusnya menjadi suatu panutan yang positif kini hanya menjadi sebuah tayangan tak bermutu kemudian ditelan mentah-mentah oleh masyarakat kita. Bahkan boleh jadi ditiru, sehingga menjadi sebuah budaya baru.

Selain itu hal yang menjadi faktor ialah adanya Rating. Rating sendiri dibuat sebagai data statistik sebuah program televisi untuk melihat bagaimana seberapa besar minat dari masyarakat akan tayangan program televisi tersebut. Rating sering dianggap sebagai ‘dewa’ nya media massa kini.

Advertisement

Semakin tinggi angka Rating tersebut maka semakin banyak minat masyarakatnya. Dengan begitu banyak sponsor iklan bermunculan. Untuk itu Rating sering dimanfaatkan oleh sejumlah pemilik modal sebagai kepentingan ekonomi dan politik dengan menggunakan media sebagai alat. Jadi pertelevisian ini adalah pertarungan ide atau rating?

Dalam hal ini ide dan gagasan sebuah program televisi tidak lagi menjadi elemen utama, namun hanya melihat bagaimana sebuah program diminati serta ‘laku’ dipasaran. Banyak sekali saluran televisi yang tidak lagi memperhatikan bagaimana tayangan tersebut akan dipandang dan sebagai tuntunan oleh masyarakat.

Seperti tayangan sinteron yang menampilkan adegan tidak pantas, program acara gosip yang didalamnya membicarakan aib seseorang, program berita yang informasinya tidak objektif serta memihak pada salah satu politisi, kegiatan yang seharusnya menjadi agenda pribadi seperti resepsi pernikahan seorang artis justru menjadi konsumsi publik, juga acara hiburan yang menampilkan kekerasan sebagai bahan lawakan.

Sungguh miris rasanya bila frekuensi publik ini hanya dijadikan sebagai alat kepentingan pemilik modal dan masyarakat dibuat terkesan bodoh dengan tayangan kurang layak, karena mayoritas masyarakat kita juga masih awam. Untuk itu alangkah bijaknya jika KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lebih menyeleksi ketat program apa saja yang patut ditayangkan.

Serta media massa kini terutama televisi lebih menonjolkan program acara mendidik, informatif juga kreatif serta inspiratif. Tidak membuat masyarakat bingung. Jadikan isi televisi ini selain menjadi ‘tontonan’ juga sebagai ‘tuntunan’. Selain itu kita sebagai khalayak lebih cerdas dalam menangkap seluruh informasi yang disajikan oleh televisi.