Pasca pemberlakuan program Jaminan Pensiun (JP) 1 Juli 2015 lalu, inilah momentum bagi pelaku industri DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) di Indonesia untuk memainkan peran penting dalam memberi edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun dan pesangon kepada masyarakat, khususnya para pemberi kerja dan perusahaan.

Apapun namanya, JHT, JP, atau DPLK sebagai program yang berorientasi pada masa pensiun harus benar-benar dipahami oleh masyarakat dan dapat dijalankan sesuai tujuan mulia dalam menyejahterakan hari tua/masa pensiun pekerja.

Komitmen ini disepakati dalam acara Workshop “Peluang & Tantangan Industri DPLK Pasca Jaminan Pensiun” yang diselenggarakan Perkumpulan DPLK (PDPLK) hari ini, Selasa 28 Juli 2015 di Jakarta.

Acara yang dibuka oleh Nur Hasan Kurniawan (Wakil Ketua Umum Perkumpulan DPLK) dan dihadiri 24 DPLK dengan 90 peserta, menghadirkan pembicara Bapak Steven Tanner (Aktuaris DPLK) untuk memberikan pemahaman yang sama terkait eluang dan tantangan industri DPLK pasca Jaminan Pensiun.

“Peluang DPLK masih sangat besar. Masalahnya, kta bersedia atau tidak untuk memberi edukasi kepada banyak perusahaan dan pemberi kerja. Subtansinya adalah menyiapkan hari tua/masa pensiun yang sejahtera bagi ratusan juta pekerja di Indonesia” ujar Steven Tanner.

Advertisement

Dalam kesempatan ini, Perkumpulan DPLK juga menegaskan 1) dukungan terhadap pemberlakuan program Jaminan Pensiun (JP) dengan IURAN 3% yang telah ditetapkan Pemerintah. Untuk itu, Industri DPLK akan ikut berperan aktif dalam mensosialisasikan akan pentingnya program pensiun dan pesangon, termasuk cara membedakannya dengan Jaminan Pensiun. 2) Industri DPLK optimis dapat meningkatkan pangsa pasar melalui program pesangon sebagai pemenuhan kewajiban pembayaran imbalan pasca kerja sesuai amanat UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. 3) Untuk itu, Industri DPLK akan terus melakukan edukasi dan siap melayani kebutuhan pengelolaan program pensiun dan pesangon berbagai sector usaha di Indonesia, termasuk Sektor MIGAS. Industri DPLK meyakini, apabila pemahaman dan kesadaran akan pentingnya program pensiun dan pesangon di masyarakat dan pemberi kerja baik, maka industri DPLK akan dapat tumbuh signiifikan seiring pembangunan ekkonmi Indonesia. maka, edukasi dan soisialisasi menjadi kata kunci yang penting untuk dilakukan oleh seluruh pelaku industri DPLK.

Saat ini Perkumpulan DPLK mengelola asset lebih dari Rp. 36 Trilyun dengan jumlah anggota 24 DPLK di Indonesia. Ke depan, Perkumpulan DPLK akan menyiapkan code of conduct industri DPLK sebagai “buku putih” aturan main praktik pemasaran DPLK, Lisenci kepada tenaga pemasar program pensiun di DPLK, di samping revitalisasi website Perkumpulan DPLK (PDPLK.com) sebagai sentra informasi dan edukasi dana pensiun di Indonesia.

#SadarPENSIUN