Tak selamanya kita bisa memiliki apa yang kita inginkan. Jikalau kita telah memiliki hal yang kita inginkan, kita tak pernah tahu apakah hal itu kekal menjadi milik kita atau hanya sekejap saja. Semua itu adalah rahasia Sang Pencipta. Apakah hanya dititipkan sementara atau diberikan selamanya? Dulu sekali sebelum mengenalmu, aku seperti daun kering yang terbawa arus ke manapun arus pergi aku akan ikut.

Masa kecilku selalu diselimuti dengan nuansa islami, Dan kuikuti semua keinginan orang -orang yang ada didekatku. Hingga kuberanjak masuk usia 17 tahun, aku masih sama yaitu mengikuti alur tanpa pendirian yang teguh. Suatu ketika kumengenal seorang lelaki, sekali nyaman dan kuanggap orang itu baik, ia dapat menjadi pasanganku. Begitu terus berlanjut hingga memasuki usia 20 tahun.

Nah, pada usia inilah aku sangat mencintai seorang lelaki, dia lemah lembut, sopan dan cerdas tentunya. Aku sangat bergantung padanya untuk hidupku, aku selalu beranggapan bahwa ia akan kumiliki selamanya, akan tetapi aku terlena akan hal itu. Kehidupan kita sehari -harinya sangat baik dan berjalan dengan romantis sehingga aku percayakan hidupku padanya. Aku telah diperkenalkan dengan keluarganya, dan respon yang sangat positif dari keluarganya untukku. Sehingga kita mempunyai komitmen untuk mengikat cinta kita. Iya pernikahan namanya. Kita telah merencanakan masa depan kita. Dan aku semakin mantap menjalani kisahku dengannya.

Namun, Tuhan berkata lain. Pada puncaknya aku jatuh cinta dan benar-benar buta akan komitmen kita, ada orang ketiga yang masuk diantara kita. Pertengkaran hebatpun tidak terhindarkan. Dan disitulah kita berhenti melangkah. Tidak berhenti sampai disitu, aku tetap memiliki ego dan keyakinan bahwa kita tetap akan bersatu. Hari demi hari kulalui sendiri dan berjuang untuknya sendiri 2 tahun lebih. Tiba pada akhirnya dia mengatakan padaku bahwa aku tak perlu menunggu dan berharap padanya lagi, 2 tahunku disepelekan tanpa melihat prosesku.

Mulai saat itulah, aku tak pernah ingin untuk mengenal kata cinta lagi dan menutup hatiku untuk semua lelaki yang mendekatiku. Aku benar-benar tidak peduli akan hal -hal yang berkaitan dengan cinta lagi. Karena aku tak ingin hal pahit itu datang kembali. Aku mulai menutup diri dan memendam semua pahitku sendiri.

Advertisement

Seiring berjalannya waktu ada seseorang yang menyebutkan sebuah nama untukku. Iya seseorang itu mencoba mendekatkan temannya padaku. Tetap pada hal yang sama, hatiku tetap keras dan tak terbuka sedikitpun celah untuk nama itu. Lambat waktu aku dan dirinya mengenal satu sama lain. Ah, hal ini yang tak kuinginkan terjadi.

Entah darimana asal muasalnya, akan tetapi hatiku mulai bergetar ketika mendengar namanya, berulang kali aku mencoba meredam hal indah tersebut karena masa pahit namun pada akhirnya aku tak mampu membendung rasa itu. Dan namanya mampu menghancurkan tembok hati yang selama ini tak terhancurkan oleh siapapun. Mulai saat itulah aku berfikir tak ada salahnya bila membuka halaman baru dengan hal yang lebih baik. Di sisi lain aku tak tahu apakah namaku mengisi hatinya secara penuh atau tidak. Dan apakah masa pahit itu akan terulang kembali ketika ada nama yang menghancurkan tembokku dan bersemayam dalam hati.