Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila seorang bersin lalu dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya (dengan mengucapkan Yarhamukallah). Dan adapun menguap, maka dia dari setan, maka hendak dia menahan menguap semampunya. Lalu apabila dia sampai mengucapkan… ”Haaah”, setan akan menertawainya.

Makna arti suka dan benci terhadap kedua perbuatan tersebut diarahkan/ditujukan kepada sebab keduanya. Hal itu karena bersin muncul dari ringannya tubuh seseorang, terbukanya pori-pori dan kenyang yang tidak berlebihan. Berbeda dengan menguap, karena ia muncul disebabkan penuhnya perut dan beratnya badan, yang mana hal itu biasanya disebabkan karena banyak makan dan pencampuradukkan jenis makanan yang dikonsumsi. Maka yang pertama (bersin) mendatangkan semangat untuk beribadah, sedangkan yang kedua adalah sebaliknya.

Dan Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bagaimana mendo’akan seorang yang bersin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

Jika salah seorang di antara kalian bersin, lalu mengucapkan: ”Alhamdulillaah” Maka hendaklah saudaranya (sesama Muslim) atau temannya mengucapkan untuknya:”Yahamukallaahu”. Dan jika saudaranya tadi mengucapkan ”Yahamukallaahu”, maka hendaknya dia (orang yang bersin) mengucapkan:”Yahdiikumullaah wa Yushlihu Baalakum"

Para dokter pada zaman ini mengatakan ”Menguap adalah bukti bahwa otak dan tubuh (badan) membutuhkan oksigen dan makanan, dan ia (menguap) juga menunjukkan buruknya sistem pernapasan dalam mensuplai oksigen yang dibutuhkan oleh otak dan anggota tubuh yang lain. Dan ini adalah yang terjadi ketika seseorang mengantuk, pingsan, dan saat-saat menjelang kematian.”

Advertisement

Dan menguap adalah menarik nafas dalam-dalam melalui mulut, dan mulut bukanlah jalur yang normal/alami (untuk bernafas) karena ia tidak dilengkapi dengan perangkat untuk menyaring udara seperti yang ada pada hidung. Jika mulut tetap terbuka selama menguap, maka akan masuk ke dalam tubuh berbagai jenis kuman, debu, dan kutu bersamaan dengan masuknya udara yang dihisap (lewat mulut). Oleh sebab itu datang petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk menahan diri jika ingin menguap semampu mungkin, atau menutup mulut dengan telapak tangan kanan atau bagian belakang tangan kiri (jika menguap).

Dan bersin adalah kebalikan dari menguap, ia (bersin) kuat dan muncul secara tiba-tiba, bersamaan dengan itu keluar udara dari paru-paru dengan kuat melalui hidung dan mulut. Maka tersapu bersihlah apa yang ada di jalan yang dilewati bersin tersebut berupa debu, kutu, dan kuman yang masuk ke sistem pernapasan. Oleh sebab itu termasuk suatu hal yang alami/normal adalah bahwa bersin berasal dari Allah SWT yang Maha Pengasih, karena ia memiliki faidah bagi tubuh, sedangkan menguap dari Setan karena ia berdampak buruk bagi tubuh.

Dan sudah menjadi keharusan dan kewajiban bagi setiap manusia (terlebih lagi seorang Muslim) untuk memuji Allah SWT (dengan mengucapkan Alhamdulillaah) atas nikmat bersin yang ia rasakan, dan hendaknya ia berlindung dengan-Nya dari Setan yang terkutuk ketika menguap.

Allah SWT membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah. Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah SWT.

Ilmuwan percaya menguap dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di dalam otak sedang menurun yang bisa membuat seseorang sulit konsentrasi. Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa dari jantung dan jika darah yang dipompa oleh jantung semakin sedikit maka semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dalam darah sehingga membuat seseorang sering menguap, pusing dan lelah.

Sedangkan jika kekurangan oksigen, maka itu pertanda bahwa manusia jarang bersujud. Mengapa? Karena dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.

Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.