Jadi tuh ya, salah satu hal yang bikin gue nggak nyaman adalah dikira “relijius”. Belakangan ini, gue memang sedang lumayan aktif kembali ikutan kajian ini-itu. Saat berada di tengah kajian itu, semacam ada perasaan tenang, aman, dan nyaman. Padahal, beberapa kajian mingguan rutin juga aktif digelar di masjid dekat rumah, tapi saya lebih memilih hadir di masjid lain. Sekali lagi, ini tentang kenyamanan, kan? 🙂

Beberapa hari lalu, ada satu kalimat Pemateri Kajian yang membuat gue terhenyak cukup lama. Membuat gue tertegun dan bercermin diri. Betapa lemah dan memalukannya kita (muslim Indonesia) selama ini.

Ada fakta yang berdasar riset sebuah universitas di Australia yang menunjukkan bahwa, jumlah muslim di Indonesia semakin tahun semakin menurun.

Tapi bukan itu yang paling membuat gue sedih.

Temuan riset selanjutnya yang bikin bangun adalah, bahwa dari 75% penduduk Indonesia yang beragama Islam itu hanya 30% yang mendirikan salat.

Artinya, jika kita mengambil asumsi jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 270 juta, hanya 60.750.000 muslim yang salat. Ironis? Tunggu dulu. Ada lagi yang lebih ironis.

Advertisement

Dan ternyata oh ternyata, dari jumlah sekecil itu, hanya 5%-nya saja yang konsisten mendirikan salat lima waktu.

Masih dengan asumsi angka seperti di atas, artinya hanya 3.037.500 orang saja yang istiqamah mendirikan salat wajib lima waktu.

Iya, salat wajib. Salat lima waktu yang bahkan tetap diperintahkan walau dalam keadaan sakit dan harus didirikian dalam kondisi berbaring!

Apa yang gue rasakan saat mendengar fakta ini? Gue mendadak pusing. Kepala bagian belakang gue jadi tegang, seperti tidak menerima fakta yang disajikan dan berusaha menolak semua angka itu.

Oke, mari kita kembali ke angka 3 jutaan orang itu. Kita fokus ke angka yang sangat kecil itu. Gue sih jadi membandingkannya dengan jumlah non-muslim di negara ini. fakta ini beberapa jam yang lalu gue share ke salah satu teman Kristiani. Komentar dia, di kita juga nggak banyak kok yang rutin ibadah Minggu, mungkin setengah dari jumlah penganut Kristen kali ya yang rutin ibadah Minggu. Tapi kan kayaknya tetep aja deh, jumlahnya masih lebih besar dari angka 3 juta itu. Iya, nggak?

Ada dua hal yang bikin fakta ini jadi sesautu yang layak tulis buat gue.

Pertama, kenyataan bahwa 5% yang dimaksud adalah bukan dari jumlah total penduduk Indonesia. Melainkan, angka yang dihasilkan dari persentase 75%, dan masih dipersentasekan lagi sebanyak 30%! Isn’t that a pity?

Kedua, fakta bahwa data yang dirilis itu adalah keluaran mereka yang bukan orang Indonesia. Dan kemungkinan besar juga non-muslim.

Kemudian, pertanyaan besarnya,

apakah kita terlalu malu untuk mengakui bahwa memang kita adalah muslim yang lemah?

Atau kita masih terlalu terbuai dengan label “Negara Mayoritas Islam”? Apapun alasannya, itu adalah hal yang memalukan.

Seperti yang gue bilang di atas tadi, gue pun merasa bersalah. Karena gue enggan dianggap sebagai muslim yang taat. Atau diberi label “pemuda relijius”. Secara pribadi, gue merasa kalah dengan konsep perang yang tengah sama-sama kita hadapi ini. Banyak aktivis menyebutnya dengan istilah Ghozwul Fikri atau perang pemikiran.

Tapi, tentu saja ini bukan selalu tentang kekalahan atau kemenangan. Ini tentang betapa kesadaran kita sebeagai seorang muslim yang masih begitu rentan dengan rasa malu dan bangga menjadi seorang muslim.

Tentang betapa perasaan patuh dan taat terhadap ajaran agama menjadi sebuah hal yang tabu. Dan kadang membuat kita semua menjadi merasa seperti minoritas di tengah label “mayoritas”.

Lewat tulisan ini, gue sama sekali nggak mau cari tahu siapa yang salah atas fakta mengejutkan itu. Karena gue pun punya kontribusi kesalahan yang sama besarnya dengan kalian semua.

Terus, apa dong Zan yang harus kita lakukan? Ya salat! Apalagi?!!! 🙂