Perjalanan adalah sebuah proses yang memiliki titik awal (origin) dan titik akhir (destination). Dan hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang puluhan tahun kita jalani. Seperti layaknya perjalanan secara umum, kita banyak menemukan masalah, hambatan (kemacetan), bahkan kecelakaan. Tapi dari setiap perjalanan itu juga memberikan kita pelajaran tentang arti hidup dari segala yang hidup. Perjalanan yang penulis akan paparkan adalah tentang perjalanan menuju kedewasaan dan kehidupan yang hakiki. Dimana di dalamnya terdapat berbagai pelajaran penting bagi kehidupan. Sebagian besar madu perjalanan ini dipanen berdasarkan bunga indah perjalanan kehidupan pribadi di Tanah Rantau.

Tata krama

Memiliki ego adalah fitrah dari seluruh makhluk hidup apalagi dari spesies Homo Sapiens atau lebih dikenal dengan nama Manusia. Ego itu sendiri muncul karena 2 (dua) faktor, yakni pribadi si manusia dan lingkungan sekitar.

Kita tidak mungkin menjadi munafik untuk disukai orang lain, karna kemunafikan bersifat sementara sedangkan hati bersifat selamanya

Saat merantau, penulis bertemu berbagai karakter manusia yang sifat ego nya kebanyakan dinilai dari cara berbicara. Tentu hal ini tidak bisa dibenarkan mutlak, karena melalui pengamatan penulis cara setiap oranh berbicara dipengaruhi oleh keadaan alam dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Manusia Nusantara yang lahir dan besar di daerah pesisir cenderung memiliki cara berbicara dengan intonasi dan dengan kecepatan tinggi. Menurut penulis, hal itu terjadi karena kuatnya hembusan angin di daerah pesisir ditambah kondisi iklim yang cenderung panas sehingga berbicara dengan cara berteriak adalah satu-satunya cara untuk didengar lawan bicara. Lalu untuk Manusia Nusantara yang hidup dan lahir di daerah pegunungan atau dataran tinggi, cara berbicaranya terkesan halus, pelan dan dijadikan kualifikasi agar manusia lain meniru cara tersebut. Iklim dan hembusan angin yang minim mengakibatkan kita tidak perlu berteriak untuk didengar lawan bicara. Lalu bagaimana jika kedua tipikal itu bertemu dalam satu wadah diskusi atau obrolan??? Dalam perantauan, penulis senang bergaul semua orang, dan sikap arif yang bisa kita lakukan saat bertemu kawan yang notabene dari pesisir atau dataran rendah adalah jangan mudah tersinggung dengan gaya bicaranya. Maknai itu sebagai kekayaan budaya Bumi Nusantara yang mungkin tidak ditemukan dibelahan dunia manapun. Jangan anggap mereka sedang marah atau tidak sopan, tapi itulah cara mereka dalam berkomunikasi dan hal itu adalah wajar.

Advertisement

Prinsip Hidup Baru

Sudah bukan jadi rahasia umum bahwa dalam tiap akhir sebuah perjalanan, kita akan menemukan prinsip hidup baru. Entah itu dari pengalaman atau orang-orang terdekat yang selalu menemani di Tanah Rantau. Prinsip yang penulis bagikan disini berdasarkan pengalaman+orang yang ada disekitar saat sedang berjuang di perantauan dan prinsip ini merupakan pelajaran nenek moyang yang sudah berumur mungkin ribuan tahun. Yang pertama adalah "Kekayaaan tanpa kemewahan". Kehidupan di dunia yang selalu di kelilingi dengan permasalahan mendasar bernama materi menyebabkan sebagian besar manusia terkungkung dan masuk kembali kedalam gua primitif berbentuk lembaran kertas.

Sungguh, jika hidup hanyalah untuk mencari materi dan kesuksesan selalu diidentikkan dengan kemapanan secara materi maka hidup kita tidak akan bermakna melebihi materi yang kita dapatkan.

Selanjutnya adalah "Menang tanpa merendahkan". Yup, kemenangan bukan berarti kita berhasil menjatuhkan musuh kemudian menginjaknya dengan kaki kiri.

Kemenangan yang hakiki adalah saat kita menyadari bahwa kemenangan yang kita peroleh tidak akan terjadi tanpa kekalahan yang dialami oleh sesuatu yang kita kalahkan.

Yang terakhir adalah " Kesaktian tanpa Ajian". Banyak orang yang merasa sakti dan hebat lantaran mereka dibekali oleh sebuah kebiasaan rutin yang secara logika sama sekali tidak berhubungan baik langsung atau pun tidak dengan sesuatu yang dia peroleh. Jika hal itu terjadi pada anda, maka anda termasuk orang yang tidak menghargai pengorbanan dan proses.

Keberhasilan bukan hal instan, karna mie instan-pun memiliki panduan cara penyajian, dan itu adalah sebuah proses.

Ketiga prinsip itulah yang terpatri dalam diri penulis hingga detik ini.

Kekayaan tanpa kemewahan, Kesaktian tanpa ajian, Menang tanpa merendahkan

Arti penting keluarga

Keluarga adalah tempat kita di dunia untuk bersandar, memerlukan pertolongan bahkan juga hanya untuk sekedar bercerita. Keluarga tidak hanya diartikan sebagai sekelompok manusia yang memiliki ikatan genetis, tapu lebih dalam lagi adalah manusia yang saling memiliki ikatan emosional tinggi. Merantau menawarkan kita untuk bertemu keluarga baru, di awal masa perantauan penulis ragu dengan kalimat tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu yang selalu setia menemani perjalanan langkah kaki penulis, hal itu perlahan terbukti ke-shahih-an nya. Dimulai dari tegur sapa sederhana, kemudian janji bertemu hingga mengenal sifat satu sama lain dan ikatan emosional itu terbentuk lalu menciptakan sebuah hubungan kekeluargaan dan secara pasti melawan hukum biologi tentang ikatan genetis.

Keluarga bukan hanya tentang darah, tapi lebih kepada perasaan memiliki, menjaga, menghormati dan kerinduan.

Begitulah indahnya kehidupan di Zamrud Khatulistiwa, Bumi Nusantara. Berbagai hal bisa kita petik jika kita menanam benihnya dibanyak tempat dan dipelihara oleh banyak manusia. Sungguh Maha Pemurah Sang Maha Pencipta yang sudah melahirkan kita di tanah yang bersahaja ini. Dan tujuan akhirku adalah…..