Ketika kita menelisik lebih jauh. Sebab-sebab apa yang membuat mahasiswa kehilangan spirit perjuangannya di semester akhir. Kita akan mendapati beberapa hal yang sangat disayangkan. Pertama, marilah kita terlebih dahulu melihat fase-fase dari awal terbentuknya semangat mahasiswa.

Fase awal (semester satu) ia tentunya masih sangat kosong (bukan dalam artian jomblo hehe) sehingga di fase ini, mahasiswa sangat bergantung pada apa-apa saja yang diperlihatkan dan diperkenalkan oleh kakak-kakaknya dalam ruang lingkup kampus.

Semisal, kegiatan-kegiatan organisasi yang bersifat praksis, budaya-budaya yang terbangun dalam sebuah organisasi, kakak-kakak cantik dan tampannya, atau barangkali tentang bahasa-bahasa ilmiah (Kelas Isasi) yang membuat pembicaranya semakin gagah jika menyebutnya.

Dalam fase ini, semangat mahasiswa mulai tumbuh, sebab seperti yang kita ketahui bersama, mahasiswa baru cenderung ingin terlihat lebih eksis daripada teman-temannya sesama mahasiswa baru-jurusan maupun kelas lain-yang dipacu dengan semangat ‘ingin populernya’. Dalam fase awal ini, saya menyebutnya dengan fase ‘Spirit eksistensi’.

Dari waktu ke waktu, semangat mahasiswa mulai terbentuk. Walau masih dalam tataran eksistensi, mahasiswa pada fase kedua ini telah mengenal budaya organisasi yang di tempatinya, tujuan, wacana, serta pola pengkaderan. Mahasiswa pada fase ini mulai melakukan gebrakan-gebrakan ide, serta aktualisasi atas potensi yang dimilikinya.

Advertisement

Tentunya ini tidak terlepas dari apa yang telah ditanamkan oleh kakak-kakaknya di organisasi mahasiswa itu. Semangatnya memuncak apabila ‘ada’ yang berhasil ia lakukan untuk membangun, ‘meruntuhkan’, ataupun merubah. Apalagi ketika ia menjadi sorotan dalam proses itu, baik secara kolektif maupun secara individu. Dalam fase ini, saya menyebutnya sebagai fase ‘Spirit manifestasi eksistensi’.

Pada fase ketiga ini, semangat mahasiswa semakin memuncak. Ia mulai berjejaring ke luar lingkup kampus, apalagi ketika ia memperoleh jabatan pada organisasi yang punya nilai lebih dan luas dalam artian relasinya: Badan eksekutif mahasiswa.

Pada fase ini, semangat mahasiswa telah mengalami transformasi. Dari yang dulunya hanya ingin eksis, kini mulai memikirkan pola gerakan berkelanjutan. Ia mulai memikirkan adik-adiknya (Cie jadi kakak perhatian) dalam hal jaringan, pola pengkaderan, kebijakan-kebijakan yang mengganggu gerak adik-adiknya, ataupun budaya baru yang mengancam dunia gerakan mahasiswa.

Fase ini penuh dengan dinamika dan dilema, sebab unsur-unsur politik telah tercampur didalamnya: Ego organisasi, ‘bagi-bagi kue’ dengan pihak birokrasi, intervensi dari "kakanda-kakanda" yang bernaung dilembaga skala Nasional, dll. Pada fase ini, saya menyebutnya dengan fase ‘Spirit Kontemplasi’.

Pada fase yang terakhir ini, saya sangat bingung mau mengurainya dengan cara seperti apa. Tapi saya akan coba memulainya dengan memetakan spirit mahasiswa menjadi dua bagian. Pertama adalah mereka yang terus menjaga ideologinya hingga akhir petualangannya dalam kehidupan kampus, meski dalam proses selesainya, ia selalu mendapat hambatan dari pihak birokrasi kampus.

Misalnya, judul skripsi yang berkali-kali ditolak, administrasi yang seperti lapangan sepak bola: dioper kiri-kanan, pembimbing yang acuh, dll. Apalagi ketika ia adalah salah satu penggerak dari beberapa aksi yang menggempur kebijakan atau masalah kampus. Tapi ia melalui semua itu dengan tenang.

Pada fase ini, spirit mahasiswa benar-benar diuji. Terkadang, pihak birokrasi melakukan penawaran dengan mahasiswa pada semester akhir, yang dapat menghancurkan seluruh gerakan-gerakan yang telah terbentuk atau pun gerakan yang baru dicanangkan. Dengan meyodorkan kemudahan-kemudahan dalam proses menyelesaikan studinya di kampus, ada mahasiswa yang tergiur akan itu.

Namun spirit mahasiswa yang pertama dalam fase ini, menolak kemudahan-kemudahan itu, dan memilih melanjutkan perjuangan dan ideologinya di dalam dan di luar pagar kampus. Saya menyebut spirit mahasiswa yang pertama ini dengan fase ‘Spirit Integritas’.

Mahasiswa yang menerima dan menjalankan ‘sesuatu’ yang telah ditawarkan oleh kampus pantas kita sebut sebagai penjilat paling biadab. Ia melacuri pikiran, pengetahuan, dan kedudukan hanya untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Padahal sebelum ini, ia adalah orang-orang yang terbentuk dari gerakan kolektivitas.

Tidak ada pembenaran atas ia- mahasiswa kedua pada fase ini. Ia seperti ketololan penuh muslihat, seperti paras(h)it. Dalam proses menjalankan penawaran itu, ia terkadang menggunakan keotoriterannya sebagai seorang senior. Maka dari itu, saya benci budaya Patronase! seolah-olah kita hidup dan dihidupi dari luapan bau wangi ‘ketiak’ seorang dewa. Mahasiswa yang kedua pada fase ini, selain sebagai ‘mahasiswa berintelektual jantung pisang’, saya menyebutnya dengan fase ‘Spirit komoditas Intelektual’.