Banyak yang bertanya mengapa saya memilih untuk merantau ke Manila untuk bekerja. Mengapa tidak ke Singapura atau Malaysia saja? Mengapa tidak tinggal saja di Jakarta? Banyak alasan yang perlu saya utarakan ke keluarga maupun kerabat dekat saya. Inilah alasan saya merantau ke Manila:

1. Filipina dan Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda tetapi mirip

Bingung kan? Hehe. Sebagai sesama negara di Asia Tenggara, terjadi beberapa kemiripan budaya, bahkan penduduknya mirip. Saya seringkali dikira sebagai penduduk asli Filipina, sampai saya berbicara menggunakan Bahasa Indonesia pun, mereka masih mengira saya penduduk Filipina yang bisa berbicara bahasa asing. Mengapa ini terjadi? Karena nenek moyang Filipina merupakan penduduk Indonesia dan Malaysia yang bermigrasi ke Filipina melalui jalur selatan, di pulau Mindanao. Oleh sebab itu, walaupun agama mayoritas adalah Katolik, tetapi untuk di pulau Mindanao, mayoritas penduduknya menganut agama Islam.

2. Bahasa nasionalnya adalah Tagalog tetapi Bahasa Inggris juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari

Digunakannya Bahasa Inggris membuat saya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Hanya saja, saya "dipaksa" untuk terus berbicara Bahasa Inggris karena tidak ada yang mengerti bahasa Indonesia. Jika saya pindah ke Singapura atau Malaysia, maka saya akan dengan mudah menggunakan Bahasa Indonesia, karena mereka dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia atau Melayu. Kesempatan saya mengasah Bahasa Inggris tidak sebesar jika saya di Filipina. Saya pun dapat belajar bahasa yang teramat asing untuk saya, Tagalog.

Advertisement

3. Biaya hidup lebih rendah

Sebelum saya memutuskan untuk merantau ke luar negeri, saya mencari tahu tentang biaya hidup di 3 negara tersebut, dan Filipina adalah yang terendah walaupun Jakarta memiliki tingkat biaya hidup yang lebih rendah.  

4. Banyaknya pekerjaan di bidang yang saya geluti 

Saya bekerja di bidang BPO (Business Process Outsourcing) sejak pertama kali bekerja di Jakarta hingga sekarang. Filipina merupakan negara terbesar kedua dengan pekerjaan dan perusahaan BPO di dunia, setelah India. Oleh sebab itu, berbekal dengan pengalaman saya bekerja di BPO selama 5 tahun, saya cukup percaya diri untuk mengadu nasib di Filipina.  

5. Penghasilan yang lebih baik

Salah satu alasan para perantau Indonesia memilih bekerja di luar negeri adalah penghasilan yang lebih baik. Di Filipina, terutama yang bekerja di bidang BPO, untuk posisi bilingual staff, bisa mendapat sekitar PHP 50,000 – PHP 70,000 (Rp 13,000,000 – Rp 18,200,000). Untuk pekerjaan yang sama di Indonesia, biasanya akan mendapatkan sekitar UMR atau lebih.

Tetapi, selain lima kelebihan tersebut, Filipina juga memiliki kekurangan, sama seperti negara – negara lainnya.

1. Pajak pendapatan tertinggi di Asia Tenggara

Filipina merupakan negara dengan pajak pendapatan tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 32%. Untuk pekerja lokal dengan entry level dan memiliki penghasilan PHP 14,000, pajak yang dimiliki kurang lebih PHP 2,000. (PHP 1 = IDR 260). Jika di Rupiahkan, PHP 14,000 = Rp 3,640,000 dan dipotong pajak sebesar PHP 2,000 = Rp 520,000. Dengan gaji sebesar itu di Jakarta, pajak yang dikenakan biasanya sekitar Rp 200,000- Rp250,000 saja. Untuk pekerja orang Indonesia yang bekerja di bidang BPO seperti saya dengan jabatan staff, penghasilan yang didapat sekitar PHP 60,000 (Rp 15,600,000) dengan pajak sekitar PHP 15,000 (Rp 3,900,000). Untuk pajak sebesar itu di Jakarta, gaji yang didapat biasanya sudah di atas Rp 20,000,000.  

2. Perbedaan makanan

Hampir semua makanan di Filipina mengandung babi. Untuk teman-teman yang beragama Islam, akan kesulitan mendapatkan makanan yang benar-benar halal, karena walaupun memesan hidangan ayam atau ikan, tetapi alat masak yang digunakan juga digunakan untuk memasak daging babi. Untuk restoran makanan cepat saji ssekalipun, kita tidak memakannya dengan saus sambal tetapi dengan saus gravy yang juga terbuat dari lemak babi. Bagi yang menyukai makanan pedas atau cabai di setiap makanan, maka harus dapat berpuas diri dengan makan tanpa sambal di Filipina. Karena Filipina merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak menggunakan cabai di setiap makanannya. Jenis makanan yang tersedia lebih mengarah ke rasa asam karena hampr semua masakan menggunakan cuka atau jeruk nipis. Mereka juga memasak bubur kacang hijau dengan sayuran dan daging. Untuk bubur coklat, Champorado, penduduk lokal biasa memakannya dengan daging babi dan Chicharon atau kerupuk kulit babi. Aneh bukan? Penduduk lokal pun tidak terbiasa untuk memiliki nasi, sayur dan daging dalam menu makan sehari-hari mereka. Tidak seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, pasti ada nasi, sayur dan daging. Penduduk Filipina hanya memakan 1 jenis lauk dalam 1 piring atau ditambah telur goreng saja.  

3.Biaya hidup yang lebih tinggi

Jika pada poin di atas menyebutkan bahwa saya memilih Filipina karena memiliki biaya hidup yang lebih rendah dari Singapura dan Malaysia, tetapi dibandingkan dengan Jakarta, tingkat biaya hidup lebih tinggi. Untuk biaya tempat tinggal di Jakarta kisaran Rp 700,000 – Rp 1,500,000 sudah mendapatkan kamar yang cukup luas, lengkap dengan tempat tidur, lemari, kamar mandi dalam dan terkadang dengan pendingin udara. Di Filipina, dengan biaya yang sama (PHP 2,000 – PHP 5,000), tempat yang akan didapatkan adalah bedspace atau tidur bersama-sama dengan 4-6 orang di kamar yang kecil dan sempit, tanpa fasilitas apapun.

Jika ingin lebih nyaman di kost, maka bisa menyewa tempat sekitar PHP 10,000 (Rp 2,600,000) untuk kamar kosong dan kamar mandi dalam, belum termasuk biaya listrik, air dan Wi-Fi  jika ingin menggunakan koneksi internet yang lebih cepat. Untuk tinggal di apartemen dengan ukuran studio furnished atau 20 meter persegi, kira-kira akan menghabiskan sekitar PHP 14,000 – PHP 18,000 (Rp 3,640,000 – Rp 4,680,000) belum termasuk listrik, air, association duesWi-Fi  dan TV cable. 

Untuk biaya listrik pun lebih mahal di Filipina. Untuk apartemen, dengan penggunaan hanya tv, pendingin udara, lampu di kamar mandi, kulkas 1 pintu dan kompor induksi yang jarang terpakai untuk pemakaian sendiri, bisa menghabiskan sekitar PHP 3,500 – PHP 4,500 (Rp 910,000 – Rp 1,170,000) perbulan. Untuk biaya penggunaan internet, saya bisa menghabiskan PHP 500 (Rp 130,000) perbulan hanya untuk penggunaan social media. Dibandingkan di Jakarta yang hanya menghabiskan Rp 50,000 – Rp 80,000 perbulan. Untuk biaya makan pun lebih mahal. Jika di Jakarta, semangkuk bubur ayam dihargai sekitar Rp 10,000 – Rp 15,000, maka dengan harga yang sama, hanya mendapatkan 1 nasi dengan lauk yang sedikit tanpa sayur dan minum. Bahkan di beberapa tempat, tidak dapat mendapatkan 1 porsi makan berat.  

4. Kurangnya pilihan penerbangan

Untuk penerbangan langsung dari Manila – Jakarta, hanya tersedia 2 pilihan. Cebu Pacific dan Philippines Airlines. Untuk penerbangan yang lain seperti Air Asia, Jetstar dan Scoot harus transit dan memakan waktu tempuh yang lebih lama. Tidak seperti di Singapura atau Malaysia, pilihan penerbangan lebih banyak dan juga lebih murah.  

Dari semua poin kelebihan dan kekurangan di atas, ada beberapa kesamaan yang harus dimiliki jika ingin merantau ke Filipina atau ke negara lain. Kita harus berani nekat, keyakinan yang kuat bahwa kita akan mampu bertahan hidup di negara orang tanpa keluarga dan memiliki modal uang yang cukup. Jika demi kehidupan yang lebih baik, kenapa tidak?