Dewasa ini media sosial di banjiri dengan kontroversi, gunjingan, cemoohan, dan kritikan pedas terhadap kebjakan Menteri Pendidikan kita yang baru, yaitu Bapak Muhadjir Effendy.

Telah kita ketahui bahwa Bapak Muhadjir adalah pengganti dari Bapak Anies Baswedan, yang sebelumnya bertugas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Terkait dengan pergantian atau reshuffle tersebut, tentu tak lepas dengan yang namanya pro dan kontra.

Mengapa? kok bisa? apa yang salah? pantas saja ! Lebih baik seperti itu !

Kalimat tersebut merupakan beberapa kata yang telah saya dengar dan lihat dari kerabat ataupun rekan.

Advertisement

Setelah pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, resmi dilaksanakan, masyarakat Indonesia kembali dikagetkan dengan wacana penerapan Sekolah Sehari Penuh alias Full Day School.

Sontak wacana dadakan tersebut membuat kaget masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk saya sendiri.

Tapi yang saya kagetkan bukanlah perihal anehnya wacana tersebut, melainkan kaget karena baru kali ini ada Seseorang yang lumayan berani memberlakukan wacana Full Day School yang pasti banyak menuai kontroversi, yaitu Bapak Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun dari beberapa informasi yang saya dapat melalui teman-teman yang berprofesi sebagai Pengajar, mereka menentang wacana Kebijakan tersebut dikarenakan Durasi aktivitas sekolah yang terlalu lama, terlalu menekan siswa, mengapa objek harus selalu ke Siswa?, dan pastinya karena faktor lelah capek serta tak sanggup 🙂

Sebelum kembali ke dalam topik Full Day School, kita flashback dulu ke beberapa program Menteri Pendidikan yang tak kalah hangat untuk diperbincangkan.

Kurrikulum 2013 atau K13, tentu kita semua ingat, bagaimana K13 juga menuai banyak kontroversi dari beberapa kalangan pengajar, seperti berdalih tak sanggup, terlalu banyak persoalan Admin yang harus dikerjakan sebelum mengajar, perangkat ajar yang cukup membingungkan, dan masih banyak lagi.

Setelah berjalan beberapa bulan, program K13 semakin terbiasa di giatkan oleh beberapa sekolah yang ada di seluruh Indonesia.

Namun terkait dengan banyaknya protes dan keluhan dari berbagai pihak yang tak tahan dengan K13, membuat Bapak Anies Baswedan mencanangkan Kebijakan yang cukup fleksibel, yaitu Program K13 tidak wajib dilaksanakan, bagi Sekolah yang belum sanggup melaksanakannya ( karena minim infastruktur dan lain-lain ), dipersilahkan untuk kembali ke program KTSP, dan bagi Sekolah yang merasa mampu, dipersilahkan juga untuk melanjutkan program K13 tersebut.

Itu untuk K13 !

Sekarang untuk yang lagi booming-booming nya adalah Full Day School, tidak sedikit yang berteriak di Sosial Media atau yang di dalam kamar, berkata "AKU TIDAK KUAT, JIKA FULL DAY SCHOOL DI TERAPKAN !!.

Mendengar banyak gunjingan dari A ~ Z oleh sebagian masyarakat Indonesia, membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru, Pak Muhadjir Effendy, menarik wacana kebijakan tersebut.

Apakah hanya karena mendapatkan banyak kecaman wacana tersebut di batalkan?

Who Knows?

Tetapi menurut informasi yang saya dapatkan, bahwa Kritikan masyarakat terkait Full Day School tersebut merupakan kiat baik dan sangat di Apresiasi oleh pihak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berikut kutipan hangatnya:

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan kementeriannya akan membatalkan rencana perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah jika masyarakat keberatan.

Jika memang belum dapat dilaksanakan, saya akan menarik rencana itu dan mencari pendekatan lain," kata Muhadjir dalam konferensi pers di restoran Batik Kuring, Jakarta, 9 Agustus 2016. "Masyarakat harus mengkritik gagasan ini, jangan keputusan sudah saya buat kemudian merasa tidak cocok.

Dikarenakan saya masih awam terkait dengan polemik dunia pendidikan di Indonesia, saya pun mulai mencari informasi terkait tujuan ataupun esensi dari Wacana Full Day School tersebut.

Sebenarnya apa saja tujuan dari Full Day School tersebut?

Apa sih yang membuat para pengajar banyak berang terhadap wacana tersebut?

Padahal belum tentu Siswa-siswa nya menolak?

Nah.. saya mendapatkan 3 Point terkait dengan tujuan dari Full Day School tersebut, sebenarnya bukan tujuan, melainkan 3 alasan dari Pak Muhadjir Effendy ingin menerapkan Full Day School.

1. Tidak Ada Mata Pelajaran

Menurut Pak Menteri, bahwa satu harian penuh di sekolah (sampai 17:00), bukanlah kiat untuk mempelajari semua mata pelajaran yang ada, melainkan sisa dari waktu tersebut di ahli fungsikan sebagai kegiatan positif Ekstrakurikuler.

Agar semua siswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat merangkum 18 karakter, seperti Jujur, disiplin, cinta Tanah Air, hingga Toleransi.

Sehingga dengan kiat tersebut, siswa menjadi lebih konsen terhadap lingkungan sekolah (bisa bermain, berorganisasi, dijauhkan dari pergaulan bebas/buruk).

Kalau dilihat dari sisi yang berbeda, untuk point yang pertama ini memiliki tujuan yang baik dan berguna, tapi kita kembali lagi dengan istilah pasar.

Tak selamanya baik itu bisa diterima dengan baik 🙂

2. Orang tua bisa fokus berkerja

Untuk pada point nomor 2 ini, sepertinya lebih berfokus terhadap masyarakat dan siswa yang ada di perkotaan.

Jadi menurut Pak Muhadjir Effendy, bahwa mayoritas para orang tua siswa yang hidup diperkotaan memiliki jam pulang kantor hingga 17:00, sehingga dengan kiat Full Day School ini (siswa pulang jam 17:00) dapat membuat orang tua tidak lebih khawatir lagi ketika ingin menjemput anaknya ke sekolah, karena jam kepulangan siswa bebarengan dengan kepulangan jam kantor orang tua pada umumnya.

Sedangkan sebelumnya siswa biasanya pulang jam 13:00, hal tersebut akan membuat pihak sekolah tidak bertanggung jawab lagi terhadap aktivitas siswa selama menunggu jemputan diluar sekolah.

Jadi intinya pada point 2 adalah untuk keselamatan dan perihal siswa akan menjadi tanggung jawab pihak Guru dan Orang Tua Siswa.

Wah.. lagi-lagi sekolah jadi sasarannya, tapi bagus juga untuk keselamatan para calon penerus bangsa.

Namun kembali lagi, tak selamanya kiat baik dikatakan baik, karena semua kebijakan yang ada di Indonesia harus juga berdasarkan Demokrasi.

Ya.. kita tahu sendirilah… 🙂

3. Membantu Sertifikasi Guru

Sepertinya yang ketiga ini sangat menarik untuk dibahas, karena ada unsur duitnya 🙂 (bercanda).

Jadi Pak Muhadjir berkata bahwa :

Program full day school dianggap Muhadjir dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru.
"Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari ini," katanya.

Jadi bagi kalian yang sudah membaca ini, bagaimana menurut kalian?

Full Day School? Apakah Kebijakan Yg Kurang Tepat? Kita Yang Tak Mampu? Atau…

Sekian artikel kali ini, kurang dan lebihnya mohon di maafkan.

Terima kasih.