Beberapa tahun terakhir anak muda akrab dengan istilah galau. Galau adalah perasaan yang identik dengan kebingungan, uring-uringan dan juga bimbang. Sebenarnya gak ada yang salah dengan rasa bingung, bimbang ataupun cemas, tapi kalau bimbangnya keseringan, bingungnya keseringan sehatkah kita?

Kalau galaunya keseringan, sehatkah kita?

Bukan anak muda katanya jika tidak pernah galau, wajar katanya kalau galau. Mulai dari ujung rambut ampe ujung kaki semuanya digalauin. Dari urusan hati sampe urusan orang lain di galauin. Normalkah? Sebagai seorang manusia permasalahan yang terjadi pada diri kita bisa menimbulkan kekhawatiran dan rasa gundah. Itu wajar, toh semua permasalahan itu nantinya membuat kita jadi matang, kita bisa mengambil keputusan yang tepat. Jadi memang itu sesuatu yang wajar dan sah-sah saja dilakukan.

Namun , galau seolah-olah membuat pribadi kita menjadi lemah, seperti tidak berdaya dan terlihat tidak punya pendirian. Secara agama juga, saya rasa di kitab suci manapun memberitahukan kita bahwa jika kita bingung maka carilah petunjuk, kita tidak diperbolehkan berlama-lama dalam kebingungan, kebodohan dan linglung. Namun bagaimana dengan realita sekarang? Tidak bisa dipungkiri dengan maraknya kata-kata galau yang tersebar dan bahkan dipopulerkan orang-orang ternyata memberikan dampak pemikiran yang luar biasa. Karena keseringan kata itu muncul, maka orang menganggap hal ini sudah biasa, wajar dan normal, padahal belum tentu yang punya pengikut banyak itu yang paling benar.

Galau melemahkan akal sehat.

Advertisement

Nah, karena banyak yang melakukan, banyak yang mengikuti, maka kita juga tergiring dan ikut-ikutan galau, padahal kita tahu betul dalam hati atau nurani kita menolak kita bersikap galau, kita pantang untutk terlihat lemah, namun apa daya sepertinya suara-suara dari kebanyakan orang ternyata menenggelamkan suara hati kita sendiri.

Bagaimana tidak galau jika gadget di tangan 24 jam? Bagaimana tidak galau jika kerjaannya dan pengetahuan akan dunia kurang lebih sebatas layar 5 inch? Padahal dunia begitu luasnya. Wajar saja ketika dihadapkan pada masalah dunia, keliatan deh cengenngnya, keliatan deh bingungnya padahal belum seberapa loh, baru juga “dicolek”.

Galau bisa termasuk sikap lalai dan tidak produktif. Bukan berarti galau itu haram untuk dilakukan, namun jika keseringan bukan kah itu tidak normal? Manusia yang normal adalah manusia yang bisa seimbang. Jika pesimisnya yang lebih tinggi dari optimis bisa memicu kita jadi abmormal kan?

Dikit-dikit galau, dikit-dikit update status, pertanyaannya, selemah itukah diri kita? Sejak kapan kita digalaukan dengan hal sepele seperti milih warna baju? Heh? Sejak kapan itu membuat kita bimbang, padahal ini semuanya sepele dan tidak perlu digalaukan. Jika pribadi kita ada adalah pribadi yang sehat harusnya sih tidak begitu. Begitu pula halnya dengan galau terhadap pacar lah, pertemanan lah, hmm kita selalu terbuai dan terbiasa menonton suguhan sinetron yang panjang dan berbelit sehingga tidak sadar kita juga memasukkan unsur drama,unsur sinetron ke dalam kehidupan kita yang umumnya punya jalan cerita panjang dan berliku-liku.

Tidak usah update status galau, tanya hati saja, apakah ada orang yang benar-benar tulus meresponmu di dunia maya?

Kita ini anak muda, galau itu sewajarnya saja, simpanlah gadget di kantongmu sejenak. Jangan sibukkan dirimu dengan bergelut menciptakan citra di media sosialmu.Tinggalkanlah semua itu, karena dari situ kegalauan akan muncul. Mungkin banyak yang berpikir kalo wajar galau karena zaman dulu bla bla bla, tapi ingat juga bahwa sebelum kita lahir kita sudah mengalahkan ratusan ribu sel lain untuk bisa bertumbuh dan lahir ke dunia, jangan sampai perjuangan kita digagalkan hal sepele seperti galau yang bisa menghambat kita untuk lebih maju.

Punya uneg-uneg wajar diungkapkan dan wajar dibagi, tapi jangan sampai kegalauan kita membuat orag lain juga galau. Ubahlah kegalauan kita agar bisa menjadi inspirasi, jangan menambah dosa. Karena apa yang kamu ucapkan itu akan menjadi suatu pemikiran dan akhirnya menjadi perbuatan. Jika kita bisa menghindari kegalauan semaksimal mungkin, kenapa tidak? Mari menjadi anak muda yang sehat, produktif dan tidak cengeng ataupun galau karena masalah sepele.