Barangkali kebanyakan dari kita memiliki kenangan kolektif akan peristiwa festival kebaya saat Hari Kartini. Ayu Utami pernah menulis dalam artikelnya yang berjudul Si Parasit Lajang[1],

“Dan, siapa bilang rumus H Kartini = H Kebaya telah menjadi nostalgia? Jika ia dulu adalah idealisasi di sekolah, sekarang ia adalah komoditas di mal.”

Perayaan Hari Kartini di penjuru Indonesia kebanyakan hanya berhenti di ranah material seperti festival kebaya. Para anak perempuan belia didandani a la perempuan Jawa zaman mbiyen, kemudian berlenggak-lenggok sok centil di atas catwalk jadi-jadian di halaman sekolah yang telah disulap jadi perhelatan ratu sejagad. Yang paling cantik dan kebayanya paling mirip dengan yang dikenakan Kartini dalam potret terkenalnya itulah yang menang.

Di mana letak relevansi festival kebaya dengan pemikiran Kartini, yang dikenal sebagai pionir emansipasi wanita di Indonesia itu? Ironisnya, festival kebaya yang mengadu kecantikan itu malah menjadikan perempuan sebagai komoditas. Lantas, apakah Kartini dimaknai hanya sebagai sosok perempuan mbiyen? Dengan segala atribut perempuan Jawa kuno itu, seolah-olah Kartini hanyalah sosok dari masa lalu, sehingga orang Indonesia mengambil sehari khusus dalam setahun untuk memperingatinya sebagai kekunoan yang eksotis? Mengapa tidak merayakannya dengan mencoba memahami pemikiran-pemikiran Kartini? Berapa banyak, sih, orang Indonesia yang telah membaca Habis Gelap Terbitlah Terang? (Ups, saya sendiri, belum tamat membacanya.)

Baiklah, mari kita coba mengenal Kartini. Ia adalah anak kedua dari bupati Jepara pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong. Sebagai anak kaum priayi, Kartini mendapatkan keistimewaan yang langka, yaitu bersekolah di sekolah Belanda dan dilimpahi buku-buku oleh ayahnya. Sejak itulah ia mulai terpapar oleh pemikiran-pemikiran Barat, selain fasih berbahasa Belanda. Menginjak remaja, sebagaimana lazimnya para gadis priayi lain, ia dipingit hingga tiba waktunya untuk menikah.

Advertisement

“Pada usia 12 tahun saya harus tinggal di rumah. Saya harus masuk ‘kotak’, terkurung di rumah, terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh kembali ke dunia itu lagi selama belum memiliki suami—seorang lelaki yang sama sekali asing, yang dipilih orang tua bagi kami untuk menikahi kami, sungguh tanpa sepengetahuan kami.”

(Kartini, dalam surat untuk Nona E.H. Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899)[2]

Dalam masa soliter terkurung di dalam kotak kamarnya itu, Kartini menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku dan majalah, serta berkorespondensi dengan teman-teman Belandanya. Dalam surat-surat yang ditulis antara tahun 1899 sampai akhir hayatnya di tahun 1904 itulah Kartini menuangkan segenap pemikirannya yang menentang ketidakadilan terhadap kaum sebangsanya sebagai kaum terjajah, feodalisme Jawa yang begitu mengikat, serta diskriminasi terhadap perempuan.

Pemberontakan pertama Kartini terhadap feodalisme Jawa adalah dengan mengabaikan unggah-ungguh yang terlalu ketat ketika bergaul dengan para adiknya, juga sering tertawa terbahak-bahak dengan memperlihatkan gigi. (Di masa itu, tak pantas bagi seorang wanita muda Jawa untuk tertawa sambil membuka mulutnya.) Pemikiran Kartini kemudian menitikberatkan pada pendidikan bagi kaum perempuan. Ide semacam inilah yang kemudian dijuluki oleh para peneliti sebagai femisnime liberal, yaitu aliran yang berorientasi pada keadilan dan kesetaraan gender di bidang pendidikan dan peran perempuan di ranah publik[3].

Pada tahun 1903, Kartini bersama Roekmini, adiknya, mendirikan sekolah kecil untuk kaum perempuan Jawa non-priayi. Namun, pada tahun 1905, setelah ayah mereka meninggal, sekolah itu ditutup. Sebelumnya, pada tahun 1904, Kartini telah meninggal terlebih dulu karena komplikasi yang ia alami saat melahirkan putra pertamanya.

Ada satu tokoh perempuan lain—meskipun fiksi, ia adalah tokoh dengan karakter yang sangat kuat, sehingga saya nyaris percaya bahwa ia nyata—yang tanpa perlu merayakan Hari Kartini dengan mengikuti festival kebaya, telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang emansipator perempuan. Bahkan, bisa dibilang, ia melakukan hal yang lebih berani ketimbang Kartini. Ialah Sanikem, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ontosoroh, yang hidup sezaman dengan Kartini, pada tahun 1898 di dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer[4]. Hidup di bawah genggaman kuat feodalisme Jawa dan cengkeraman cakar kolonial, Sanikem adalah representasi perempuan subaltern, yang menjadi korban hegemoni kolonial (Belanda) sekaligus patriarkal (Jawa).

Sanikem kurang beruntung ketimbang Kartini, yang bisa mengenyam pendidikan formal. Sementara itu, lahir sebagai anak kelas menengah ke bawah (ayahnya, Sastrotomo, juru tulis di pabrik gula milik Belanda), Sanikem tak punya pilihan ketika Sastrotomo menjualnya pada Tuan Besar Kuasa sebagai gundik. Sanikem dijual demi uang dan kenaikan pangkat ayahnya. Kemudian, motivasi tumbuh dalam diri Sanikem, yang berakar dari kebencian terhadap orang tuanya, untuk berjuang secara intelektual agar bisa sejajar, bahkan lebih unggul, daripada laki-laki. Setelah Herman Mellema menjadi sinting, Nyai Ontosorohlah yang mengurus segala manajemen pabrik miliknya, bahkan ia punya bisnis sendiri yang dibangun atas namanya. Namun, di akhir buku Bumi Manusia, kita tahu betapa Nyai kalah dalam melawan sistem pengadilan Belanda.

Di masa sekarang, para feminis masih terus melakukan kampanye anti kekerasan (fisik, mental, simbolis) terhadap perempuan yang—sadar maupun tidak—masih dilegitimasi oleh budaya patriarki bangsa ini. Memang, kaum perempuan kini sudah setara dengan laki-laki dalam hal kesempatan mengecap pendidikan. Namun, setinggi apa pun level studi seorang perempuan, sejauh mana pun ia pergi mencari ilmu, ketika ia kembali ke ribaan ibu pertiwi, ia akan tetap dituntut melakukan “peran ganda”. Contoh lainnya, lowongan pekerjaan di bidang teknik tak jarang yang mensyaratkan pelamar berjenis kelamin “laki-laki”. Para sarjana teknik perempuan sudah dibikin kalah duluan sebelum melamar. Seperti di bagian ending novel Bumi Manusia, kaum perempuan masih kalah oleh hierarki dalam patriarkisme. Nah, masih relevankah jika kita merayakan Hari Kartini hanya sebagai Hari Kebaya, tanpa turut memperjuangkan apa yang telah dimulai oleh Kartini lebih dari 100 tahun yang lalu?***

Referensi:

[1] Utami, Ayu. 2013. Si Parasit Lajang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

[2] Kartini, R.A.. 2011. Habis Gelap Terbitlah Terang. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

[3] Wiyatmi dan Maman Suryaman. 2013. Perbandingan Kesadaran Feminis dalam Novel-novel Indonesia Karya Sastrawan Perempuan dengan Sastrawan Laki-laki. Laporan Akhir Penelitian Fundamental. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

[4] Toer, Pramoedya A. 2012. Bumi Manusia (Cetakan ke-18). Jakarta: Lentera Dipantara.