"Aku janji selalu membahagiakan kamu"

"Aku janji selalu ada di samping kamu"

"Aku janji selalu setia"

"Aku janji tangisanmu hanya tangisan bahagia"

"Aku janji bla bla bla bla bla"

Kamu mengucapkan janji-janji manismu itu sambil mengenggam erat kedua tanganku, tak lupa dengan tatapan hangatmu yang penuh kepastian dan perlakuan-perlakuan manismu yang membuatku mudah percaya dengan semua janji yang kamu ucapkan. Hingga akhirnya, semua yang kamu ucapkan cuma angin yang berlalu. Kosong. Ya, seperti itulah janji-janji sementaramu.

Bodohnya lagi, aku terlalu percaya dengan kata-katamu tanpa ada pembuktian. Terkadang ucapan-ucapan manis bisa membuat lupa akan kenyataan yang logis. Kebahagiaan sementara yang kamu goreskan mampu membuat luka yang bukan hanya sementara tapi menetap dalam memori dan perasaan. Tapi dari kamu aku belajar, bahwa janji bukan hanya sekedar janji. Bukan ucapan yang di utamakan tapi sebuah tindakan nyata yang mampu menggetarkan hati.

Aku sadar bukan hanya kamu yang salah, akupun salah memilih orang yang bisa di percaya menuju masa depan. Teruntuk pengganti mu kelak, sekarang perlahan demi perlahan aku mulai sadar, bukan bagaimana cerita indah perjalanan yang akan kita lalui. Tapi, bagaimana cerita yang kita jalani ada restu dari beliau-beliau yang berjasa dalam kehidupan kita. Jadi, sebelum kamu genggam tangan ku ini ku mohon genggam lah dulu tangan ayah ku hinggap beli mengucapkan 3 huruf "SAH". Aku bukan lelah bermain-main dengan perasaan yang berujung kenangan yang bakal sulit ku lupakan, tapi aku mulai sadar bagaimana pentingnya menjaga perasaan untuk seseorang yang sudah pasti menemani ku sampai aku kembali kepada-Nya.