Sebut saja namanya Tania. Gadis yang sedang kasmaran dengan Rudi, kekasih yang baru dikencaninya selama dua kali. Kencan pertama, Tania dan Rudi hanya minum es kelapa di sebuah warung tenda pinggir jalan untuk saling memperkenalkan diri lebih dekat. Selama ini, keduanya sama-sama memiliki chemistry. Kencan kedua, Tania dan Rudi mulai mengungkapkan perasaannya secara blak-blakan. Keduanya mulai membicarakan masa depan yang indah-indah.

Setelah kencan kedua berakhir, Tania sudah tidak sabar lagi untuk merencanakan kencan ketiga kalinya. Malam itu juga, dia langsung mengirim pesan lewat WA untuk Rudi untuk mengatakan bagaimana kangennya dia dan bagaimana tidak sabarnya dia untuk segera bertemu lagi dengan Rudi. Malam itu, tidak ada jawaban langsung. “Oh, mungkin dia kelelahan.” pikirnya.

Esoknya masih juga belum ada jawaban. Kali ini Tania langsung menelepon. Telepon tersambung namun tidak diangkat. “Mungkin sibuk,” pikirnya. Hari kedua dan ketiga masih belum ada kontak balasan. Tania mulai was-was dan panik. Setelah sebulan, akhirnya Tania mendapatkan kabar kalau Rudi sudah mendapatkan kekasih yang baru.

Pernahkah kamu ada di posisi Tania (atau Rudi)? Pernahkah kamu berhubungan dengan seseorang kemudian tanpa ada hujan, petir, atau badai, dia menghilang begitu saja? Atau mungkin kamu sendiri yang memutuskan untuk menghilang karena merasa tidak lagi cocok? Menghilang dalam arti memutuskan hubungan tanpa ada pesan: di-SMS tidak pernah menjawab, ditelrpon gak pernah diangkat, mencoba ditemui malah menghindar/sembunyi.

Pendeknya, orang yang kamu cintai memutuskan segala hubungan atau komunikasi dengan dunia nyata yang pernah kamu lalui bersama. Awalnya khawatir tapi semakin lama, rasa takut mulai menyergap hingga akhirnya kamu sadar kamu telah diputuskan secara sepihak. Itulah ghosting. Kekasihmu memutuskanmu dengan menghilang begitu saja seperti hantu.

Advertisement

Ghosting istilah yang lagi ngetrend tapi sebenarnya fenomena ini sudah terjadi, mungkin sejak zaman purba. Namun fenomena ghosting ini semakin terasa sekarang ketika media komunikasi sudah sangat mudah. Mengapa demikian?

Zaman dahulu, sebelum ada smartphone, internet, atau aplikasi semacam Whatsapp, Line, Tinder, dan lainnya. Orang butuh waktu lama untuk menyadari kalau dirinya ditinggalkan oleh kekasih. Ketika sang kekasih pergi, orang masih istiqomah mengirim surat meski tak ada jawaban. Kita tahu di zaman dahulu, betapa cepatnya surat sampai tujuan. Yang bersangkutan setia menunggu balasan pacar dan sadar diputuskan setelah kabar kekasihnya punya kekasih baru.

Sekarang, ketika komunikasi sangat mudah, orang yang kasmaran bisa menghubungi kekasih kapan saja. Ketika SMS tak ada respon semenit saja, sudah meninggalkan tanda tanya apalagi sehari. Di sinilah ghosting makin terasa perbedaannya. Kalau orang tak lagi suka dengan datingannya, cukup memutuskan segala bentuk komunikasi dengan yang bersangkutan. Biarkan dia membaca sendiri bahwa pemutusan segala komunikasi adalah tanda tak ada lagi rasa.

Menurut kamus 'Urban', ghosting adalah pemutusan tiba-tiba segala jenis komunikasi dengan datingan (atau dalam konteks lain bisa pacar atau pasangan hidup). Ghosting bisa terjadi sesudah dating tadi malam. Setelah kencan pertama tidak ada lagi kabar, tiga hari kemudian kamu menemukan profil dia lagi di Tinder dengan status "looking…blah blah blah".

Atau yang lebih ngeri lagi setelah bertahun-tahun ketika sang kekasih sudah melewati pelaminan, berumah tangga, beranak-pinak, kemudian sang suami atau istri pergi meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa pamit.

Saya belum menemukan arti padanan yang tepat untuk kata ghosting dalam bahasa Indonesia. Ghosting berbeda dengan PHP (pemberi harapan palsu). Ghosting terjadi setelah ada komitmen atau hubungan sudah berjalan atau setidaknya pernah berkencan. Sedangkan PHP orang masih bertanya-tanya "Is she into you? Is he hitting on you? Or is she/he just being nice?"

Kata dalam bahasa Indonesia yang kurang lebih mendekati arti ghosting mungkin 'digantung', meskipun ada perbedaannya. Digantung dalam hubungan artinya hubungan masih berjalan tapi sang pacar menelantarkan kekasihnya, tidak menghubungi, tidak mengajak kencan, apalagi menjamah. Sedangkan ghosting jelas menunjukan maksud si pelaku kalau dia sudah tidak lagi berminat dengan cara dengan memutuskan segala jenis komunikasi.

Ada seribu satu alasan kenapa orang memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Tapi tidak banyak alasan kenapa orang memutuskan hubungan tanpa 'pamit'.

1. Dia takut menyakiti perasaanmu

Dia orangnya perasa. Dia tahu sakitnya diputuskan. Atau mungkin dia orangnya rasional. Dia hanya mengkalkulasi keadaan yang apabila dibicarakan secara langsung, akan membuatmu sakit hati. Apapun dia, dia tahu ungkapan langsung akan mengakibatkan gempa bumi perasaan di antara kamu berdua.

2. Dia bukan komunikator yang baik

Tidak semua orang terlahir dengan bakat komunikasi yang baik. Baik itu lisan ataupun tulisan. Dia tidak pandai mengeluarkan apa yang ada di kepalanya. Dia tidak tahu bagaimana mengeluarkan isi hatinya. Buat sebagian orang, salah satu tantangan terbesar dalam hidup mungkin menaklukan puncak Everest. Buat sebagian yang lain, mungkin mengatakan “I don't love you anymore. I'm done.

3. Dia hanya mempermainkan perasaanmu

Akuilah! Dunia bukan tempat yang sempurna. Begitupun penduduknya. Ada orang yang baik yang tahu bagaimana menghargai perasaan orang. Ada juga pemain perasaan yang buat dia, perasaan orang lain tidak penting untuk diperhitungkan.

Sekarang, apakah ghosting itu etis atau tidak etis? Normal atau tidak bermoral? You decide!