Single itu prinsip. Jomblo itu nasib.

Ketawa saja deh saya waktu membaca ‘pepatah’ abad 21 di atas. Buat saya sih sama saja. Sama-sama sendiri, nggak punya pacar / suami / istri. Coba cari terjemahan jomblo dalam bahasa Inggris, ujung-ujungnya juga akan bertemu kata “single”. Atau malah tidak ketemu sama sekali. Coba cari definisi “jomblo” dalam KBBI, tidak bakal ada, yang ada adalah bujang.

Itu semua Cuma istilah bro. Maknanya sama. Yang membedakan adalah penjelasan si pengguna gelar. Single juga bisa jadi nasib. Jomblo juga bisa jadi prinsip. Tergantung kita mau menggunakan istilah yang mana.

Namun gue menyebut diri saya sebagai jomblo. Kenapa? Karena istilah itu lebih popular di Indonesia.

Hahaha, berarti nasib gue sebagai jomblo dong? Bisa dibilang begitu. Karena memang nyatanya seperti itulah keadaan saya saat ini. Karena saya yang membentuk nasib tersebut. Jomblo adalah prinsip saya yang memang saya sengaja menjadikannya sebagai nasib.

Advertisement

Why?

Masih Sekolah

Fokus belajar dan berkarya. Masih muda. Saya nggak ngerti kapan saya mati. Barankali besok pagi. Dan saya belum menghasilkan karya seperti Eisntein maupun Habibie. Kalau waktu saya habiskan buat pacaran, maka saya adalah manusia yang sangat rugi bin goblok!

Nggak Nerti Manfaat Pacaran

Saya melihat gaya pacaran orang-orang di sekitar saya, dari situ saya nggak ngerti manfaat pacaran apa.

Buat temen ngobrol?

Hahaha, teman saya banyak. Bejibun. Cowok, cewek yang agak melambai dan tomboy juga ada. Terus apa bedanya pacar sama temen kalau fungsinya Cuma buat ngobrol?

Buat nganterin dan nemenin pergi

Pacar atau tukang ojek? Pacar atau body guard? CIee manja ya nggak berani pergi sendirian? Ciee penakut ya harus ada yang nemenin? (tahu kok kalau kata-kata saya nusuk :p)

Buat Penyemangat Belajar

Prekk! Kalau emang males ya males aja. Mau disemangatin sama Justin Bieber atau Lee Min Ho sekalipun, kalau emang lagi males ya males, titik!

Nggak Suka Basa-basi

Saya nggak suak basa-basi yang terlalu polos dan cendurung goblok. Selama ini setahu saya orang pacaran kalau ber-SMS ria ujung-ujungnya bakal mengajukan pertanyaan demikian:

udah makan belum?

Udah tidur? (kalau udah nggak bakal dibales lah)

Tadi makan pakai apa?

Tidur gih, udah malem. (orang belum ngantuk, masa suruh tidur?)

Kamu di mana? Sama siapa? (Penting banget tanya kayak begitu? Padahal nggak mau ketemuan. Njirr)

Sering stalking handphone teman, dan pertanyaan-pertanyaan di atas adalah yang sering muncul. Pun beberapa kali didekati cowok dan ditanya seperti pertanyaan di atas.

Memangnya, kalau saya makan nasi goreng lauk bakpao, dia mau ngapain? Penting buat hidupnya? Maka lebih baik saya nggak punya pacar dari pada Cuma dikasih pertanyaan-pertanyaan tersebut

Pacaran yang keren itu tanya hal-hal di bawah ini:

Eh, ini kok program javanya nggak bisa di run, ya? Kode yang salah apa?

Kalau aku sih penginnya system pendidikan Indonesia berkiblat sama Finlandia aja. Kalau kamu pilih Finlandia atau Jepang?

Kamu udah sampai mana matematikanya? Bisa nggak? Ajarin dong.

Atau

Kamu udah sampai mana matematikanya? Bisa nggak? Kalau nggak bisa, sini aku ajari!

Mengutamakan Karier dan Banyak Agenda

Saya banyak agenda. Jadi tidka sempat pacaran. Memperdalam lagi ilmu coding supaya bisa menjadi softwar engineer yang andal. Memperdalam bahasa Inggris dan Mandarin. Belajar bermain gitar dan piano. Mengasah skill menggambar manga. PR dari para guru pun seperti dosa dan pahala yang tiap waktu ada. Menghafal juz amma. Pacaran? Mana sempat!

Malam Minggu Bukan Musibah

Nggak ngerti saya kenapa di internet banyak yang membuat meme tentang malam Minggu yang lebih horror dari malam Jumat. Buat saya biasa saja tuh semua malam, kecuali saat esoknya bakal ada even besar.

Tidak Kesepian

Mengasah skill bahasa Inggris dengan chatting di Internet. Punya banyak cadangan film action dan drama Korea. Banyak PR. Koleksi lagu banyak. Jadi gimana hendak kesepian?

Di sekolah dari jam tujuh kurang seperempat hingga jam tiga. Bertemu dengan banyak teman dan guru. Bagaimana hendak kesepian? Setiba di rumah mengerjakan PR atau tidur karena kelelahan bersekolah. Bagaimana hendak kesepian?

Terbiasa Sendiri

Sejak kecil sudah sering ditinggal orangtua. Kesendirian menjadi sesuatu yang nikmat untuk saya. Saya bakal senang sekali ketika ada waktu untuk sendirian, benar-benar sendiri.

Jadi kalau saya punya pacar, yakinlah waktu sendirian yang sangat berharga untuk saya bakal hancur. Setelah itu bakal saya ajak smack down pacar saya!

Tidak Biasa Minta Tolong Orang Lain

Saya enjoy saja berpergian sendirian. Karena anak kos. Sejak kecil pun sudah dididik untuk pergi sendirian. Berangkat dan pulang sekolah sendirian. Jadi kalau tidak punya pacar dan berdampak tidak ada yang bisa mengantar saya kemanapun, bukan masalah kok.

Hobi Adalah Kebahagiaan Saya

Saya punya banyak hobi. Dan selalu merasa bahagia ketika melakoninya. Jadi, saya nggak ngerti kenapa saya mesti menangis ketika tidak punya pacar.

Langsung Menikah

Bila karier sudah mulus. Cukup berkenalan beberapa bulan. Lalu menikah. Tapi tidak perlu ada peraturan:

“kamu tidak boleh dekat dengan ini dan itu.”

Tapi kan nanti belum kenal boroknya. Kalau pas sudah menikah ketahuan boroknya? Katanya cinta. Kalau sudah menikah terima apa adanya. Dan bersama saling memperbaiki borok masing-masing.

Jomblo itu prinsip. Dan prinsip tersebut membuat saya bahagia. Saya nggak ngerti kenapa orang-orang mesti menderita karena jomblo padahal usia mereka masih muda.