Lahir dan besar di Malang, mengenal seluk beluk Malang, bahkan jalan tikus yang akan tembus ke arah mana sudah hafal di luar kepala. Balita tumbuh di daerah Tajinan, yang searah ke arah pantai, membuatku mengenal apa itu hidup di daerah terpencil. Masa kecil di daerah Sawojajar, menjadi saksi lahan yang dulunya tempat berternak kerbau menjadi ruko terpanjang se Asia Tenggara. SMP sampai selesai kuliah di Batu, menjadi saksi daerah yang dulunya sepi menjadi banyak sekali objek wisata.

Meniti karir di di Kota Malang, merasakan UMR kita lebih kecil dari UMR beberapa daerah lain,walau secara status jabatan dalam perusahaan swasta lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan hidup yang semakin besar, lowongan kerja yang menyempit, kebutuhan akan aktualisasi diri, dan berbagai sebab pendukung menjadi alasanku pergi dari Malang, menuju ibukota….ya, sekarang aku di Jakarta.

Jarak Jakarta Malang yang hanya kurang lebih 900 km, bisa di tempuh dengan pesawat hanya 1,5 jam, atau ingin menikmati perjalanan darat dengan moda transportasi kereta api yang antara 14-18 jam. Mudah sebenarnya untuk menjenguk Malang setiap minggu atau minimal sebulan sekali, tapi tidak kulakukan. Mengapa???

Perubahan jaman mulai merubah wajah kotaku. Macet yang makin parah, warung kopi kekinian tongkrongan anak muda bertebaran di mana mana, perumahan di mana-mana yang menyebabkan harga rumah melonjak drastis. Kota hidup selama 24 jam. Tidak jauh beda dengan kota yang aku tinggali

Rindu yang ku pendam,semakin lama, semakin terasa saat bertemu. Bertemu udara dingin ( walau tak sedingin dulu, terbukti di rumah sekarang terpasang kipas angin ), rindu bakso Malang di setiap sudut yang rasanya uenak tenan, rindu bertemu banyak saudara dan teman-teman, dan kalau suka nonton bola di stadion ialah rindu menonton Arema bertanding.

Advertisement

Banyak yang berubah, tapi aku punya lebih banyak alasan untuk menjenguk Malang. Iya, menjenguk bukan tinggal. Biarkan aku menjadi ikan kecil di laut yang luar, bertemu dengan berbagai macam kesulitan dan halangan, biarkan aku bejar dari ikan ikan lain, sampai nanti suatu saat, aku sudah besar dan dewasa, aku telah menjadi ikan yang kuat dan kembali ke Malang, ikut membantu membesarkan Malang agar bisa sebesar Jakarta. Amin

Nawak-nawak (kawan-Kawan) yang saat ini merantau dimanapun, mempelajari hidup ditempat tinggal yang sekarang, dan saat yang tepat kembali ke Malang untuk membangun Malang menjadi lebih baik. Salam Satu Jiwa

Dirgahayu Kota Malang yang ke 102