Sampai saat ini, beberapa tulisan hanya berusaha untuk memojokkan dan mendorong setiap orang yang gagal dalam bercinta untuk melepas mimpi dan harapannya. Seolah mejadi fatamorgana, opini yang dibangun beberapa penulis benar-benar menghadirkan genjatan senjata perang para si patah hati. Memaksanya untuk berhenti berbuat dan dengan lapang dada yang dipenuhi keikhlasan untuk menerima takdir yang diperbuat.

Kejadian ini merupakan dua hal yang saling dihadapkan, mimpi dan hak-hak si kandas hati dan hak yang lain untuk memisahkan diri dari genggaman. Setiap manusia benar-benar berada pada posisi berhak mengambil sikap atas hak-haknya, menggunakannya atau melepas hak tersebut dengan penuh kesadaran.

Hak untuk bersama sudah melekat pada diri manusia dari lahirnya. Namun, hak bersama harus dikonfirmasi oleh hak dari yang lain, dalam kata lain harus ada timbal balik dan tidak bertepuk sebelah tangan. Artinya, kalau ingin menggunakan hak memiliki sedang dia juga memiliki hak untuk bebas, maka bisa dipastikan bahwa hak untuk bersama yang kau punya untuk memilikinya sudah kandas.

Selain itu, hak memiliki tak ubahnya dengan hak untuk bersama. Dirimu memang berhak untuk memilikinya, namun dia juga memiliki hak untuk menentukan, apakah dirinya berhak dimiliki atau tidak, atau yang terjadi hanya kekecewakan.

tapi, semua orang tak berhak menjadi penghalang atas apa yang kau perjuangan untuk mewujudkan hak-hakmu, hak memiliki dan hak bersama. Selama hak-hakmu dikonfirmasi oleh konstitusi, norma susila, norma agama, jadilah orang yang karena hak-hakmu berjuang dan bukan mereka yang putus asa atas asumsi seseorang untuk melepasnya