Perpisahan tak ada yang tahu kapan akan terjadi. Manusia hanya bisa betusha menentukan apa yang akan menjadi pilihan hidupnya.

Waktu akan senantiasa berlalu. Malam berganti siang, siang berganti malam diiringi senja diujung lautan. Aku terpaku memandangi punggung tegap yang melangkah pergi dihadapanku. Semakin menjauh hingga yang kulihat hanyalah sebatas siluetmu.

Ucapan terakhirmu masih saja terngiang ditelingaku "aku pergi tuk meminangmu suatu hari nanti, kan ku buktikan kepada mereka bahwa aku mampu mempersuntingmu."

Waktu tak pernah berhenti, ia telah mencipta berjuta kisah sejoli. Namun kisahku masih seperti ini, kau belum jua kembali. Telah banyak lelaki keluar masuk pintu rumahku, namun satupun tak ku sambut sepenuh hati karena aku masih senantiasa menunggumu tuk tepati janji itu.

Kemana dirimu duhay pujaan hati, kenapa hingga kini kau tak kunjung kembali? Tidakkah kau merindukanku disepanjang harimu? Kenapa kau menghilang bagai tertelan bumi? Harus berapa senja lagi kulalui tanpamu? Haruskah aku selalu menanti senja yang jelas jelas kan tertelan lautan? Penantian ini begitu sulit kulalui, semua memaksa tuk memulai kisah baru lagi. Karena kau tak kunjung kembali hingga orang tuaku berpikir kau hanya bermain dengan hati ini.

Advertisement

Cepat kembalilah Kasih, aku tak mampu melalui kisah ini tanpamu, karena engkaulah pemeran utama dalam ceritaku.

Sampai kapan aku harus menunggumu? Hingga usia mulai merenta tertelan waktu? Di mana janji itu? Kemana pembuktian yang ingin kau lakukan? Masihkah hingga kini, saat usia mulai bertandang pergi, kau tak kunjung siap meminangku?

Katakanlah meski hanya sepatah kata iya atau tidak. Agar aku tahu kemana aku harus melangkah. Tak mungkin aku selalu menanti senja yang kan tertelan lautan malam.