Aku bingung dengan semua ini. Terkadang membuat aku bahagia sampai aku senyum-senyum sendiri melihat maupun mendengarnya, tapi terkadang membuat aku sedih hingga aku ingin lari sejauh-jauhnya tanpa meninggalkan jejak. Aku tak mau tampak lemah sedikitpun di mata mereka. Jujur, aku pernah iri melihat beberapa orang dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan begitu mudahnya. Baik itu fisik yang sempurna, keuangan yang memadai, jabatan yang bagus, lingkungan yang menghangatkan dan jodoh yang begitu dekat.

Namun, aku juga sakit dan entah kenapa ikut merasakan getaran luka itu ketika melihat ada bagian di dalam bumi ini yang masih sangat jauh dari kata bahagia. Meski begitu, mereka masih mampu menebarkan senyum meski matanya selalu mengatakan ingin "menangis", karena luka.


Bernafas, tertawa, makan, berteduh di bawah naungan awan lembut bersama, meski hujan, angin, terik matahari, debu maupun kematian yang sangat jelas ada di depan mata mereka bisa saja terjadi dan begitupun pada kita.


Mereka seperti itu karena mereka tahu betapa berharganya waktu bersama orang di sekitar mereka dan mereka juga menghargai setiap waktu untuk tetap beribadah dan mensyukuri nikmat-Nya. Oleh karena itu, tanpa basa-basi mereka tetap mengumbar senyuman dan kebahagiaan. Meski darah, tangis, keringat sudah tak mampu terbendung, tapi setidaknya mereka bahagia bisa merasakan betapa dekatnya Allah dengan mereka.


Karena mereka (para pejuang di jalan Allah) yakin, ketika nafas telah berhenti dan jantung tak lagi berdetak, disitulah Allah melepas genggaman kita. Bukan untuk melepaskan melainkan merangkulnya dan memeluknya agar mereka tenang dalam peraduan-Nya.


Advertisement

Sebenarnya aku lemah dan rapuh ketika ada sesuatu yang membuatku terluka. Tapi melihat mereka membuatku bertanya, "apakah aku pantas meneteskan air mata hanya masalah kecil seperti ini?" Sedangkan mereka bukan hatinya saja yang terluka, tapi nyawa sudah jadi taruhannya.

Aku memang mudah terluka, tapi aku yakin lukaku akan ada artinya di masa yang akan datang. Kenapa? Karena Allah selalu menggenggam kita dimanapun itu selama hati dan pikiran kita selalu menomor satukan Dia.