Masih terekam jelas awal pertemuan kita. Bukan seperti kebanyakan orang lainnya. Bukan di mall, restoran, cafe, atau pun kampus. Kita duduk di ruangan yang sama untuk memuliakan Sang Pencipta. Bersama melantunkan tiap alunan melodi indah memuji Penguasa alam semesta.

Wajah oriental nan asing bagi mata ini membuatku bertanya-tanya siapakah dirimu. Mata sipit berhiaskan sepasang kaca persegi empat membuat ku semakin penasaran.

Awal yang kaku memang. Tapi, aku menikmatinya ketika dirimu menatapku dengan lembut, menjamah jemari-jemariku yang makin membeku karena kehadiranmu. Saat bibirmu melontarkan satu kata singkat "halo" padaku, itu saja sudah membuatku seperti berada di tempat indah bagai surga. Merasakan hangatnya tanganmu membuatku merasa begitu aman.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga satu per satu lembaran tentang dirimu ku temukan. Awalnya hati ini berdebar sekaligus senang saat menemukannya. Ku baca perlahan, ku cermati tiap goretan tinta mengenai dirimu.

Namun, sekarang hati ini serasa menciut bagai balon kehilangan udara. Begitu banyak yang kau miliki membuatku rendah diri. Membuatku merasa tidak pantas untuk mengajukan diri menjadi calon teman berbagimu.

Advertisement

Awalnya ku pikir, dirimu adalah utusan Tuhan untuk mengobati goretan luka di hati ini. Ku kira dirimulah yang dapat menghiasi ruang hati yang berantakan ini. Ku kira dirimulah yang dapat membuatku melupakan segala rasa sakit yang lama menjeratku.

Semua itu salah. Bahkan hanya berharap saja ku rasa aku tak pantas. Apalagi memikirkan untuk menjadi teman berbagi segala cerita kehidupan ini bersamamu.

Mungkin, diluar sana ada seseorang yang lebih pantas bersanding denganmu. Lebih pantas secara jasmani dan rohani untukmu.

Aku hanya bisa menunggu kebahagiaan menghampirimu. Menatapmu dalam diam tanpa dirimu tahu.