Hari – hari semakin berlalu, dalam sendiri aku menata diri dalam hati, mengamati pria – pria yang mendekat lalu pergi, yang ku kagumi namun tak ada pasti, yang ku lewati tapi selalu menanti.

Hey mantan, lagi – lagi kau datang menghampiri memecah lamunanku. Aku tahu dahulu kita punya cerita bersama, aku ingat dahulu kita punya mimpi berdua, tapi itu dahulu. Kini, jangan lagi datang jika tak diundang. Jangan usik hariku walau dengan pertanyaan kabarmu. Walau kita berpisah secara baik – baik entah kenapa hati ini jengkel mendengarnya, terlebih saat kau mulai sibuk bertanya siapa yang kini bertahta di hati ku.

"Dasar kepo" jawab ku dongkol dalam hati. Maunya sih ku jawab "kami sedang mempersiapkan pernikahan kami" ditambah emoticon senyum sumringah. yaa…yaa.. itu mauku. Apalah daya jika tuhan belum mengizinkanku menjawab demikian dan lagi – lagi aku hanya bisa menjawab dengan jawaban aman nan standar "doakan saja".

Bukannya aku tak mau bersilaturahmi, namun aku hanya tak ingin menyakiti apalagi dianggap memberi harapan karena yang aku rasakan kamu masih mengharapkan tentang kita. Cinta memang tak bisa dipaksakan dan salahkah aku jika aku mengikuti kata hati?

Bukan kamu yang aku cari, bukan kamu yang aku yakini untuk menjadi sandaran hati. Kau hanyalah sepenggal kisah dalam hati untuk kukenang namun bukan untuk kunanti. Kau pria teramat baik, semoga tuhan mempertemukanmu dengan orang yang tepat yang tulus mencintaimu. Jujur, aku pun terkadang lelah menepi seorang diri. Bertanya sendiri dalam hati tentang siapa yang selalu aku rindukan dalam doa, yang aku nantikan dalam harap, yang aku perjuangkan dengan memantaskan diri.

Advertisement

"Biarlah ku pilih jalanku sesuka hati yang sedang mencoba membaca jawaban tuhan soal belahan hati. Walau ku tak tahu siapa yang tuhan amini."