Tepat 50 tahun yang lalu negeri ini berdarah-darah dalam belajar berideologi. Kala itu Aneka ideologi tumbuh subur di negeri yang baru 20 tahun merdeka. Ideologi yang kuat pengaruhnya yaitu komunisme. Ideologi komunis memiliki kendaraan yang bernama Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI adalah organisasi politik pertama yang membawa embel-embel nama Indonesia dalam penamaan partainya. PKI didirikan pada tahun 1924 namun benihnya sudah tertanam lebih dahulu pada tahun 1914 lewat ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging – Perserikatan Sosial Demokrat Hindia).

PKI berandil besar pula dalam perlawanan menentang pemerintah Hindia-Belanda dengan tujuan memerdekakan negeri yang kini bernama Indonesia. Cara-cara perlawanan PKI jarang melalui diplomasi melainkan lewat pengerahan massa dan ini sifat perjuangan ideologi ini. Mereka cenderung radikal yang mengakibatkan banyak anggotanya dibuang dan wafat di Digul Atas, Papua.

Setelah itu pada tahun 1948 mereka mencoba lagi usaha untuk mengambil alih kepemimpinan negara melalui gerakan radikal di Madiun. Peristiwa ini salah satu motor penggeraknya adalah mantan Menteri Penerangan pertama Indonesia, Perdana Menteri Indonesia ke-2, dan Menteri Pertahanan Indonesia ke-3, yaitu Amir Syarifudin (Harahap). Gerakan ini dapat ditumpas oleh TNI atas perintah Mohammad Hatta yang nasionalis. Amir yang beragama protestan ditembak mati di Solo pada tahun yang sama. Walaupun begitu oleh pemerintah yang sedang berkuasa pada saat itu tidak membuat PKI menjadi barang haram dan najis yang tak boleh disentuh oleh rakyat. Peristiwa itu tidak membuat PKI jatuh. Mereka cepat menjadi teman baik masyarakat.

Dasawarsa 60 tahun yang lalu adalah masa yang benar-benar berbagai ideologi lewat partainya masing-masing mencoba unjuk gigi di pemerintahan. Namun apa daya kursi pemerintahan mereka banyak yang seumur jagung. Mereka berpolitik secara sengit, ada 3 ideologi politik besar yang silih berganti : Nasionalis (PNI), Komunis (PKI), Agama ((Islam) Partai Masyumi dan Partai NU). Kala itu Politik boleh sengit namun hubungan pribadi antar pemuka partai tetap hangat. Mereka sangat mengedepankan moral politik. Mereka tidak akan membahas politik yang mereka yakini jika mereka tidak dalam forum politik. Seperti dituturkan oleh Gus Dur bahwa waktu almarhum masih kecil di rumah ayahnya, Wahid Hasyim, sering dikunjungi oleh Tan Malaka yang garis politiknya sangat berbeda jauh dengan ayahnya.

Salah satunya karena banyak yang tidak becus dalam memimpin parlemen dan posisi di masyarakat semakin kuat maka Bung Karno mengeluarkan dekrit pada tahun 1959. Bung Karno punya impian ambisius untuk merangkul ketiga ideologi besar ini menjadi kekuatan politik yang bisa berfusi dalam bentuk NASAKOM (NASionalis, Agama, KOMunis). Masing-masing ideologi ingin merebut hati Sang Putra Fajar. Bung Karno dan para politikus dari ketiga ideologi tadi mungkin lupa bahwa ada kekuatan lain yang dapat pula menggerakkan pemerintahan suatu negara: Militer.

Advertisement

***

115 tahun yang lalu atau pada awal abad 20 merupakan titik mula bahwa kepala kita dibikin berpikir dengan cara bangsa Eropa, mau tidak mau. Pendidikan dan cara pikir Eropa dijejal kepada kita melalui politik etis. Bangsa kita diajak akrab dengan huruf latin dan dibuat lupa dengan menulis dengan tulisan jawi yang telah mapan untuk mengantarkan buah pikiran bangsa ini selama hampir tujuh abad. Dengan media huruf latin ini otak kita jadi kenal dan kesengsem berbagai paham-paham yang lahir di Eropa. Otak-otak pertama yang terpapar macam-macam –isme yang berkembang di Eropa adalah mereka yang lahir dasawarsa awal abad 20. Orang-orang yang lahir pada era di atas banyak yang sebenarnya tak pandai berkarier dengan ijazah yang mereka dapatkan, contohnya ada insinyur yang dari mulutnya semangat orang-orang berkobar, namun dia payah cari duit dari gelar insinyurnya ini. Generasi awal yang mengenyam pendidikan barat ini lebih cenderung keilmuannya digunakkan untuk memerdekakan bangsanya bukan untuk berkarier.

Lalu muncul generasi di bawahnya yang saat negeri ini merdeka mereka masih dibangku SMA atau baru menjadi sarjana di berbagai bidang kelimuan. Generasi ini pada hakikatnya sudah tidak menaruh perhatian yang lebih pada berbagai ideologi, menjadi takdir generasi mereka ilmu yang mereka dapatkan akan menjadikan mereka pejabat, dan jabatan ini menjadi karier menuju kesejahteraan. Mereka tokoh awal yang akan menjadi pemimpin pembangunan fisik Indonesia. Pemenang dari generasi ini adalah Soeharto. Pak Harto menentukan pilihan berkarier menjadi tentara. Lewat karier tentara pulalah dia menjalankan pemahaman politiknya yang mengantarkan dia menjadi nomor satu Indonesia.

Dalam pertarungan politik perlu ada korban atau yang ditumbalkan. Saat posisi Pak Harto akan menjadi orang nomor satu Indonesia dia perlu tumbal ini. Tumbal yang paling gemuk adalah komunis. Tim sukses pak Harto paham sudah sejak berabad-abad bangsa ini fanatik kepada agama. Mungkin Pak Harto telah belajar dari Belanda yang susah payah memberangus pergolakan yang motif di belakangnya ada unsur agama. Dan belajar juga bahwa kaum nasionalis Indonesia ini cingcai untuk diajak diplomasi. Karena ikhtiar kaum nasionalis saat zaman kemerdekaan adalah diplomasi, diplomasi dan diplomasi. Target empuk untuk korban politik adalah komunis. Komunis tidak pernah mendapat hoki di negeri ini sedari zaman Belanda.

Politik boleh bohong tapi tidak boleh keliru. Pak Harto tidak keliru mengambil keputusan walau harus banyak membohongi orang. Salah satu kebohongan yang besar yang saya yakini yaitu kebohongan tentang PKI yang disebarkan oleh Pak Harto. Kebohongan yang didengungkan tentang PKI yaitu PKI adalah organisasi politik yang kejam. Kebohongan ini sangat banyak yang mempercayainya. Kalau PKI adalah organisasi yang kejam dan barbar mengapa Bung Hatta, Haji Agus Salim, dan M. Natsir yang saya yakin lebih sangat bijaksana dan bermoral dalam berpolitik dibanding Pak Harto tidak mengeluarkan statemen atau tulisan yang mengutarakan bahwa PKI adalah organisasi brengsek dan barbar yang harus lenyap dari bumi Indonesia?.

Namun Pak Harto lalai bahwa ada generasi di bawahnya yang otak dan kepribadiaannya sudah tidak seirama dengan otak dan kepribadian generasi dia. Andai Pak Harto mawas diri dan dia turun keprabon pada saat dia sudah 25 tahun menjabat maka dia tidak akan menjadi public enemy. Pak Harto dari generasi sarjana karier pertama akhirnya tumbang oleh apa yang disebut dengan kebebasan.

***

Kebebasan ini bertepatan pula dengan masa globalisasi dan perkembangan pesat teknologi informasi. Dan inilah zaman kita, bukan zaman yang hari ini memegang jabatan. Otak mereka setengahnya adalah otak yang didesain oleh Pak Harto yaitu otak yang dipenuhi dengan kebencian dan sedikit feodalisme. Generasi kita adalah generasi yang tak boleh mengusik kenyamanan seseorang, baik itu nyaman dalam keyakinan maupun nyaman keuangan. Bukan generasi kita jika seumuran kita masih sibuk koar-koar soal ideologi. Generasi kita adalah generasi yang rajin bekerja, mapan, sebisa mungkin tanpa hutang, karier bagus dari keilmuan yang kita tekuni dan tidak lupa beramal salih.

Ikhlaskan komunis jadi martir untuk pendewasaan bangsa kita. Tak usah berkutat dengan ideologi ini; komunis sudah tidak lagi menjadi ideologi raksasa dunia apalagi generasi kita gejala individulis tumbuh subur. Susah komunis untuk bangun dari kubur dan merasuki otak dan gerak kita. Satu hal yang perlu kita risaukan adalah gejala perpecahan kita karena konsep keyakinan pada Ilahi. Gejala-gejala perpecahan ini semakin banyak yang memperuncing.

Mari kita buktikan pada generasi di atas kita yang selalu bilang : Anak zaman sekarang tak tahu adat, bahwa kita generasi yang bisa lebih baik dan tidak menyebar kebencian pada sesama bangsanya sendiri. Ikhlaskan generasi di atas kita yang telah mewarisi kita kerusakan bangsa karena korupsi. Mari kita benahi kerusakan-kerusakan itu dan membuat saat kita menjadi generasi yang memimpin institusi apapun bisa menjadikan bangsa kita bangsa yang berkarakter dan mapan dalam ekonomi dan mewariskan pada generasi di bawah kita negeri yang gemah ripah loh jinawi, Baldatun Thayyibun Wa Rabbun Gafur.