Selama manusia hidup tentunya memiliki momen atau kejadian yang menyenangkan dan mengecewakan. Kedua momen tersebut akan membentuk kepribadian, cara berpikir, melangkah dan bersikap. Namun, pernahkah Anda hidup dalam masa lalu? Terlihat seperti hidup pada hari ini namun sebenarnya Anda masih memikirkan masa lalu yang mengganggu fokus Anda terhadap setiap kegiatan Anda hari ini.

Dalam momen yang menyedihkan, pernahkah Anda merasa bahwa semua yang terjadi di masa lampau adalah kesalahan Anda? Apakah Anda merasa sangat terpukul, tenggelam, kecewa, sedih, marah, terpuruk, dan trauma terhadap sesuatu yang akhirnya membuat Anda kehilangan diri sendiri? Apakah berdasarkan kejadian menyedihkan tersebut, Anda menjadi sering memikirkannya dan menyalahkan diri Anda? Dan apakah kejadian tersebut Anda jadikan kambing hitam atas keterpurukan Anda saat ini? Jika jawabannya adalah "ya", maka Anda benar-benar hidup di masa lalu.

Tanyakan hal-hal berikut kepada diri sendiri :

"Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri?"

"Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidup saya?"

"Siapa yang berkuasa disini? diri saya–ataukah trauma?"

"Apakah trauma ini pantas mengontrol hidup saya?"

Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon. Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri. Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.

Advertisement

Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah dari masa lalu adalah pikiran kita sendiri. Pikiran kita adalah wewenang kita untuk memicu hal positif maupun negatif. Semakin Anda menggali pikiran negatif, semakin sedih pula aura dan visi Anda.

Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri.

Sebenarnya, hanya seorang pemenanglah yang melihat potensi. Hanya orang kuatlah yang bisa melepaskan kesakitan. Orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri meskipun sakit, menangis, marah, kecewa, tapi mereka melepaskannya dan memaafkan diri sendiri. Sementara seorang pecundang sibuk mengingat dan menyalahkan masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri. Manusia yang berhasil diluar sana juga mengkhawatirkan masa depan, tetapi mereka tidak memikirkannya – mereka melakukan sesuatu untuk memperjelasnya. Akankah menjadi suram atau menjadi cerah seperti impian mereka.

Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita. Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita. Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur.

Percayalah, semua kejadian menyakitkan itu ada hikmahnya. Ada pelajaran yang dapat Anda ambil dan renungkan sehingga Anda menjadi lebih berhati-hati dalam melangkah di kemudian hari. Maafkanlah orang-orang yang menyakiti Anda. Bukan demi mereka, tapi demi kedamaian diri Anda dan kecintaan Anda terhadap perdamaian. Maafkanlah mereka, namun jangan berikan kesempatan untuk mengecewakan Anda sekali lagi.

Mengutip dari : Anne Ahira Newsletter – Think & Succeed!