Entah karena keegoisanku, atau karna ada wanita yg lebih menarik perhatianmu, akhirnya kau meninggalkanku.

Meninggalkan janji janji manis dan luka yang bahkan sampai saat ini blm bs sembuh. Aku masih sangat mengingatnya, pertemuan kecil setelah hampir satu taun kita tak berjumpa. Aku mendatangimu di sebuah kota kecil, kita menghabiskan waktu bersama, pergi ketempat tempat yang setiap kumendatanginya lagi, slalu ada bayanganmu disana.

Aku tak pernah menyangka, pertemuan itu juga menjadi perpisahan kita.

Ya, akhirnya kau menikah dengan wanita pilihanmu. Kau telah melupakan semuanya, janji kita dan semuanya tentang kita. Tanpamu, aku tetap melanjutkan hidupku. Akupun mulai membuka hati untuk lelaki lain. Aku juga mulai menikmati perjalanan cintaku bersama orang yang baru kukenal. Aku bahkan menerima lamarannya. Di dua bulan menjelang pernikahanku, kau datang lagi, mencoba membuka kembali kenangan kenangan yang dulu pernah terukir, mengirimkan foto saat bersama, dan memohon untuk menemuiku.

Kau membuatku merasakan apa itu galau, apa itu baper. Kadang aku ingin sekali menerima tawaranmu, untuk bertemu melepas rindu, tapi seperti ada tembok tinggi yang menghalanginya, kau telah beristri.

Advertisement

Lelaki masa laluku, perihnya kau tinggalkan, aku sudah berhasil melewatinya, sekarang ijinkan aku untuk menjalani hidup baru bersama calon imamku,

ikhlaskan aku seperti aku mengikhlaskanmu bersanding di pelaminan bersama wanita pilihanmu itu.

Semoga kebahagiaan selalu terlimpah untukmu, begitupun untukku.