"Cantik!"

"Keren"

Demikian ucapan jika orang mengagumi karya desain. Desain adalah seni. Desain itu tentang estetika, tentang beautifying thing. Tapi tulisan ini bukan tentang itu. Ada harapan dan premis baru bahwa desain bukan hanya perkara cantik.

Lebih dari itu, desain itu tentang memecahkan masalah. Desain-lah yang menyederhanakan hal-hal yang mulanya kompleks. Desain memadukan ilmu pengetahuan dan kreativitas, mencampurkan mana yang mulanya rasional lebai menjadi renyah dan mudah dijangkau banyak kalangan. Ada sense of emotional dalam karya yang diciptakan.

Tim Brown dari IDEO memproklamirkan design thinking versi baru, berpikir ala desainer pada 2012. Sebenarnya, design thinking telah ada di dunia industri, namun ia mengalami peralihan makna. Design thinking adalah seni mengkonsepsi ide, menggambarkan hubungan antar-ide untuk memecahkan sebuah masalah.

Advertisement

Design thinking inilah yang selanjutnya menjadi ilmu yang seksi dipelajari saat ini. World Economic Forum menyebutnya sebagai obat mujarab untuk menjawab masalah manajerial dalam bidang kesehatan, transportasi, pendidikan dan lain sebagainya.

Design thinking umumnya didefinisikan sebagai proses analitik dan kreatif yang melibatkan seseorang dalam kesempatan untuk melakukan eksperimen, pembuatan dan model prototipe, mengumpulkan umpan balik, dan mendesain ulang. Proses kreatif inilah yang dapat diadopsi di banyak hal oleh siapapun, dalam usaha manapun.


"Masa depan dunia diselamatkan oleh desain".


Ridwan Kamil mengatakan ini dalam TEDx. Ia membawa banyak ide segar dari Bandung. Salah satunya adalah mensiasati listrik yang tarifnya naik dengan bersepeda di solar-vehicle untuk menghasilkan daya listrik melalui keringat sendiri. Pemkot Bandung juga membuat taman bacaan dan melukis gambar-gambar lucu di tembok perkampungan kumuh yang pada akhirnya menjadi objek wisata local.

Menggelikan. Tapi solutif.

Desain mengkombinasikan teknologi dan human behavior. Human-Computer-Interaction (HCI) menjadi hal yang harus diperhatikan desainer, karena teknologi diciptakan dari, oleh dan untuk manusia. Jika manusia tidak nyaman dengan kehadiran teknologi, maka yang salah adalah teknologi itu sendiri.  Di titik ini kita sesungguhnya berbicara mengenai user experience dan user interface, dua pedang para desainer teknologi di produk virtual.

 

Desain dan Ekonomi Inovatif

Ini pernyataan teman sekamar saya suatu pagi. Kerjaan malas, tapi menghasilkan uang banyak. Demikian pula analogi desain dan ekonomi suatu negara atau perusahaan.


Semakin inovatif suatu perusahaan/negara dengan design thinking, semakin tinggi pula pendapatan yang didapat.


Apple menjadi contoh dimanapun yang membuktikan bahwa peralihan desain iPod ke iPhone membawa keuntungan sebesar 600%.

Denmark, adalah negara yang menggantungkan hidupnya pada desain untuk boasting ekonomi kreatif. 7% anggaran investasi keuangan Denmark disimpan untuk desain. Bahkan, negara ini telah menanamkan nilai-nilai desain kreatif termasuk design thinking ke generasi mudanya sejak dini melalui pendidikan elementary. Kurikulum jangka panjang Denmark dirasuki how to be creative. Mengapa? Karena pemerintah Denmark punya pandangan bahwasannya di dunia yang serba-teknologi di masa yang akan datang, ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh artificial intelligence apapun, yaitu kreativitas. Denmark juga menjadi gandengan para ekonom dunia di Davos untuk membentuk World Council of Design, yang bakal membahas betapa pentingnya desain di era revolusi industry keempat.

Masa depan dunia ada pada robotika, virtual reality, augmented reality, 3D printing, nanoteknologi dan barisan high-tech lainnya. Teknologi ini diciptakan untuk membantu kehidupan manusia menjadi lebih baik, dan mereka memerlukan desain yang sesuai dengan etnografi manusia. Desain telah beralih dari zaman desain produk menuju desain digital. Desain inilah yang menjadi komunikator antara teknologi canggih dengan budaya manusia.

Donald A Norman mengatakan bahwa untuk bertempur di era revolusi industri keempat, desainer membutuhkan dua sisi pisau. Sains teknologi dan desain itu sendiri. Ada nilai engineer yang tidak bisa ditinggal. Oleh karenanya, kolaborasi antar-bidang ilmu menjadi keniscayaan. Ilmu-ilmu teknik, sains harus bertatapan dengan psikologi, antropologi dan sosiologi untuk menghasilkan inovasi desain yang diinginkan di masa depan.

 

Bagaimana Design Thinking Memecahkan Masalah di Dunia?

Design thinking punya manfaat di berbagai bidang, termasuk kesehatan dan pendidikan.


"We need more right-brained thinkers in medicine, and most of us don’t realize that everything in health care is design".


Tahun 2050, penduduk dunia meningkat tajam, dan yang menjadi isu adalah bagaimana cara mengkover kesehatan mereka di era yang serba canggih. Untuk perkara ini, para healthcare design memunculkan banyak ide yang berbasis human, diantaranya arsitektur rumah sakit yang menyenangkan dan homey, aplikasi technology yang dapat me-record kesehatan pasien, serta pengelolaan data yang efisien.

Di bidang pemerintahan, Kementerian Tenaga Kerja di Singapura design thinking untuk membantu orang asing yang tinggal dan bekerja di sana.

Di bidang pendidikan, design thinking membuat transfer pengetahuan yang disampaikan oleh guru ke siswa menjadi menyenangkan. Seni bercerita menjadi kemudahan siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Melalui design thinking pula, Ruangguru, Coursera, Udemy dan lainnya menjadi jembatan mahasiswa di seluruh dunia untuk belajar apa yang mereka inginkan tanpa kendala jarak dan waktu.

Bayangkan saja jika setiap orang belajar dan menggunakan design thinking di masing-masing pekerjaan mereka, dan negara mendorong "gerakan" design thinking, bagaimana jadinya? Berapa banyak orang yang akan diuntungkan?