Ini bukan lagi tentang aku yang kembali meratap dan merangkak memohon padamu untuk tetap disampingku, memintamu berhenti menjadi jaelangkung yang datang tanpa merasa bersalah dan pergi tanpa pemberitahuan setelah meninggalkan kesan yang begitu panjang. Ini bukan lagi tentangku yang meringkuk disudut tergelap kamarku sembari menikmati rutinitas menyeka airmata yang menanarkan pandanganku.

Ini bukan lagi tentangku yang diam-diam masih mencari tahu setiap detail kabarmu dan mengelus dada guna mengurangi rasa perihnya saat kutahu kau justru tengah berbahagia dengan wanita lain dan mengabaikan perasaanku yang kau paham pasti, aku terluka karenamu.

Ini bukan lagi tentangku yang dulu pernah menjadi wanitamu dan kau sia-siakan itu. Ini bukan lagi tentang aku yang membuka peluknya kala kau butuh kehangatan dan berlindung dibalik topeng 'aku baik-baik saja' setelah esoknya kau kembali menjadi dirimu yang acuh padaku. Ini bukan lagi tentang aku yang selalu tersenyum demi menunjukkan padamu bahwa aku seolah bisa memaafkanmu hanya karena kebodohanku yang terlalu mencintaimu..

Ingatkah kau hari dimana kau datang membawa cinta dan pergi meninggalkanku yang bersimbah airmata, aku sempat mengumpatmu sebagai makhluk tak berhati. Tapi kini aku sadar, kau dan aku sama-sama ingin bahagia hanya saja definisi bahagia kita berbeda.

Bahagiaku bersamamu namun bahagiamu tak bersamaku, dan aku memilih untuk menyelamatkan hatiku sebelum ia benar-benar mati karenamu. Meski aku sadar betul hatiku seperti terbuat dari kaca, sekecil apapun serpihannya, ketika kau mendekat dan melihat lebih dalam bayanganmu masih ada didalam sana.

Advertisement

Kau lelakiku, tolong berhenti berpikir kalau aku yang sangat mencintaimu ini akan terus bahagia atas kebahagiaan apapun yang kau dapatkan. Karena dalam beberapa hal aku tidak merasakannya..

Kini dengarlah..

Ini tentang aku yang mencoba untuk berdiri dan terus berjalan meski langkahku pincang tanpa bahumu sebagai penopangku. Ini tentang aku yang kembali menyalakan lampu setelah airmata terakhir yang kuseka. Ini tentang aku yang tak lagi diam-diam merapal doa mensemogakan ketidakmungkinan kita. Ini tentang aku wanita yang meski masih menyimpan cinta dan rindu yang begitu besar padamu namun memilih untuk berhenti menunggu.

Sejatinya lukaku meski tak lagi berdarah ia belum sembuh dan aku tak ingin menambah luka baru. Ini tentang aku yang rela sendiri sementara waktu daripada berkutat pada kebahagiaan semu yang selalu kau tawarkan. Ini tentang aku yang percaya bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan hamba-Nya dan menghitung setiap luka untuk diganti dengan bahagia. Ini tentang aku wanita yang masih bisa bernafas meski harummu tak lagi melintas dalam pelukku. Aku memang mencintaimu, namun aku harus lebih mencintai diriku sendiri..

Dari

Aku yang (mencoba) mampu melangkah tanpamu..