Menikah dan punya anak. Semua orang tentu mengharapkannya. Semua pasangan suami istri pasti menginginkannya, termasuk aku dan istriku.

Alhamdulillah 2 bulan menjelang ulang tahun pernikahan pertama kami, lahirlah putra kami yang kelak kami beri nama Najmi Rafif Abiyyu Laoddang. Sang bintang yang baik hati dan berjiwa mulia. Kelahirannya disambut suara gelegar dan guntur.

Kata Laoddang diakhir namanya adalah sematan dari nama kakeknya dari garis keturunan ayahnya. Laoddang dalam bahasa Bugis berarti gelegar guntur. Hidup di rumah kontrakan dan jauh dari keluarga masing-masing memaksa kami berdua harus menghadapi sendiri masa kehamilan dan kelahiran itu.

Beruntung istriku adalah seorang Bidan, aku pun bekerja di dunia kesehatan. Jadi tak ada kerisauan dan gamang berarti yang kami hadapi semasa kehamilan, kecuali saat istriku ngidam buah mangga disaat tidak musim mangga. Haru biru menjadi suami barulah aku alami saat proses persalinan istriku. Rabu, 27 Agustus 2008. Seperti biasa aku tetap berangkat kerja, tak ada yang istimewa hari itu.

Setelah sebelum makan bersama dengan istriku tercinta, merasakan hasil racikanku sendiri, maklum istri hamil tua. Setiba di kantor, semua berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa. Hingga sekitar jam 9 pagi, dari balik telepon istriku memintaku untuk pulang. “Sudah ada tanda-tanda” katanya. “Akh, itu hanya perasaan orang yang ingin melahirkan aja” kataku dalam hati.

Meski demikian, kuputuskan untuk pamit dari kantor pagi itu juga. Lazimnya, orang yang mendapat berita serupa pasti akan memacu kendaraannya secepat mungkin agar segera tiba di rumahnya. Tapi, beda denganku. Aku masih tetap santai, mengendarai sepada motorku dengan kecepatan 40 Km per jam.

Advertisement

Jika biasanya hanya butuh 3 menit untuk sampai rumah, kini butuh 15 menit baru aku tiba. Masih dengan langkah pelan aku buka pintu kamar kami, kudapati istriku penuh keringat, pucat dan meringis sambil mengelus-ngelus perut buncitnya. Tak ada siapapun dirumah saat ia kutinggalkan hingga kudatang kembali.

Setelah berganti dengan celana jongkoro’ dan kaos, barulah kuelus perut istriku seraya menstimulasinya untuk sabar dan istigfar. Tapi itu tak mempan, perlahan kuraba kakinya. Waow! semua serba dingin. Tanpa harus bertanya lagi, segera aku telepon sopir ambulance sebuah rumah sakit yang telah kami pilih sebelumnya.

“Loh, ini sudah mau kerumah sakit yah Ayah” tanya istriku

“Iya bunda, bunda sudah mau melahirkan” jawabku rada panik

“Akh ayah sok tau akh, belum ini Ayah, kan hari perkiraan lahirnya masih tiga minggu lagi” istriku berusaha meyakinkanku.

“Tidak bunda sekarang juga kita ke rumah sakit” tegasku sambil memeriksa stock pulsa dan daya di HP, serta isi dompetku tentunya. Lalu s kuikut rambut istriku, lalu memakaikannya jaket.

Begitu suara sirene ambulance terdengar didepan kontrakan kami, segera kupapah istriku. Tak ada yang menyertai kami selaian pakaian dibadan, HP dan dompet. Pak Sugeng, supir ambulance itu sangat cekatan dan terlatih. Segera saja ambulance itu memecah alur lalu lintas di daerah Jogja Timur menuju Rumah Sakit Permata Bunda di Kotagede.

Singkat cerita, istriku masuk ruang periksa. Tak ada dokter kandungan yang sebelumnya telah kami sepakati, kala itu sang dokter masih menangani pasien lain di kota Magelang, 2 Jam perjalanan dari Yogyakarta.

Seorang bidan yang juga sudah kami kenal mendekatiku dan berkata “Mas, dah buka 2”.

“Ok, mbak segera tangani, tidak usah menunggu dokternya” pintaku

“Ok mas Adin, katanya mas mau menemani istri di kamar persalinan” bidan itu berkata dengan nada menantang.

Jujur, ngeri juga harus mendampingi istriku dalam kamar persalinan, meski sudah berjanji pada istriku sebelumnya untuk mendampinginya. Menurut para ahli, jika suami mendampingi istri saat persalinan itu akan memberikan dukungan moril pada istri, sekaligus merupakan perwujudan cinta suami pada istri.

Bukankah hamil itu adalah “ulah” berdua, jadi susah senang ayo tanggung bersama. “Ya, ayolah” jawabku. Lagian kutak bisa berharap pada siapapun, tak ada sanak saudara yang menemani kami. Tidak dengan keluarga istriku dari Jepara apalagi keluargaku dari Sul-Sel.

Kucoba tenangkan diri memasuki ruang persalinan. Istriku masih saja meraung kesakitan, akupun iba dengannya, tangan kiriku erat mengengam tangan istirku. Tangan kananku menyelinap diantar bantal dan kepala istriku. Siap menopan tubuhnya saat ia setengah duduk dikala berusaha ngeden, berusaha mendorong sang jaban bayi keluar.

Tak jarang ia mengigit lengan kiriku dengan kuat, mengalihkan rasa sakit yang dideritanya. “Tak apalah, berbagi rasa sakit” pikirku saat itu. Tidak hanya sang bidan dan istriku yang berpeluh keringat diruang ber-AC itu. Keringatku pun juga terus mengucur, berbulir membasahi kaosku.

Ilmu kebidanan yang dipelajari istriku sebelumnya saat itu mendadak hilang, ia tak ubah seorang ibu hamil yang tidak tau apa-apa soal kehamilan. Teori sugesti diri yang dipelajarinya berkali-kali tiba-tiba hilang saat itu, anjuran agar ngeden-nya mengikuti perintah sang bidan tak juga diindahkan.

Istriku terus saja melakukannya sekuat tenaga, berharap sang jabang bayi segera keluar dan berakhirlah penderitaannya. Sementara diarah bawah selurus kakinya, sang bidan sudah panik melihat kulup anus (ambeyen) yang terus mengembung seiring masa ngeden istriku. Jika dipaksakan, kulup itu bisa pecah dan terjadilah pendarahan besar dan berbahaya bagi keselamatan jiwa istriku.

Tak kalah dengan sang bidan, dirikupun panik melihatnya. Kutarik nafas, sejenak kucari jalan yang bijak bagi istriku agar ia mau menuruti perintah bidan. “Bunda sayang, ambeyennya gak papa kok. Normal kok, bunda tenang yah, ada ayah disini. Sekarang bunda ikuti ayah yah” bujukku seraya mengirimkan pesan kepada sang bidan lewat tatap mataku.

Alhamdulillah, sang bidan paham. Mulailah ia memberi aba-aba padaku untuk kuteruskan pada istriku. Pukul 11 entah kurang berapa menit, aku sudah lupa. Tangisannya memecah ruang persalinan, dengan berat 3,2 kg dan panjang 58 cm.

Jagoan kami terlahir, sehat, utuh lengkap dengan rambut hitamnya yang jabrik abis. Ini berarti ia sempurna menerima gen rambut dariku, tidak dari ibunya. Prosesi inisiasi menyusui dini (IMD) urung kami lakukan saat itu. “Ayah, bunda lelah. IMD-nya gak usah yah”, hiba istriku dalam pelukanku saat itu.

Tak menunggu lama, segera kudatangi ruang bayi dan melafazkan kumandan Adzan ditelinganya. Selesai, kukembalikan jagoanku pada sang perawat anak untuk mendapatkan perawatan berikutnya. Kembali ketengok istriku. Alamakkkk, istriku kudapati telah berjalan dan bergurau dengan bidan yang menanganinya tadi. Itu hanya selang 10 menit. “Mungkin inilah yang disebut keperkasaan seorang perempuan” simpulku dalam hati.

Kutuntun istriku masuk diruang istrihat yang telah disiapkan di rumah sakit itu. Setelahnya, kuambil dan kebersihkan ari-ari anakku. Setelah bersih, tak jua kuberanjak kerumah untuk menguburnya. Kutitipkan saja ari-ari pada petugas rumah sakit, untuk kuproses lagi esok harinya.

Sementara istriku asik menonton tayangan infotaiment di sebuah stasiun televisi swasta, aku memilih berbaring berusaha tidur dan melepas lelahku saat itu.

“Ini yang melahirkan siapa, yang teler siapa” sindir istriku.

Masa bodohlah pikirku, pokoknya aku ingin tidur.

“Mungkin ini adalah jawaban Allah SWT atas doaku selama ini” itu yang terlintas dibenakku kala itu. Memang selama kehamilan istriku, disetiap shalatku kuselalu berdoa “Ya Allah, jika memang melahirkan itu menyakitkan dan melelahkan. Maka timpakanlah itu padaku, bukan pada istriku.

Aku ikhlas ya Allah”.

Karena aku adalah "Ayah Sayang Anak"